Lakon MENYUSUN PUZZLE MENUJU ALENGKA Sukses Mengundang Tepuk Riuh Penonton Saat Pembukaan RUMAKET 2026 Di Taman Pintar Yogyakarta
Lakon MENYUSUN PUZZLE MENUJU ALENGKA Sukses Mengundang Tepuk Riuh Penonton Saat Pembukaan RUMAKET 2026 Di Taman Pintar Yogyakarta
Impessa.id, Yogyakarta, Indonesia, Oktober 2026: Jelang pementasan “Bermain Wayang, Wayang Bermain”, oleh sekitar 50 anak-anak pada pembukaan pentas budaya RUMAKET DI Taman Pintar Yogyakarta, Minggu petang (4/10/2026), Impessa.id berbincang dengan Faizal Noor Singgih, Ketua PEPADI-Persatuan Pedalangan Indonesia, Komda Kota Yogyakarta Periode 2024-2029, terkait komitmen ‘getok tular’ dunia perwayangan kepada generasi muda penerus. Berikut pnuturannya;
“Terinspirasi dari cerita ‘Romo Tambak” maka muncul judul pertunjukan yakni “Menyusun Puzzle Menuju Alengka”sebagai bentuk dari “Wayang Playground”. Pilihan ‘puzzle’ dalam hal ini kotak-kotak terbuat dari kardus dicat warna-warni, karena lebih familiar dengan anak-anak dibandingkan harus memakai batu untuk pembuatan ‘tambak’. Suatu pendekatan dengan bahasa anak-anak memakai mainan keseharian mereka,” tuturnya.

“Ini Adalah bentuk bagaimana kita mengapresiasi 50 anak-anak dari Kota Jogja yang setiap Minggu dari jam 1 siang sampai jam 5 sore, itu belajar tentang pedalangan, tentang wayang, bahwasanya wayang itu bisa di-create menjadi apapun kok, tidak hanya pegelaran secara classicly, tapi juga bisa di-combine dengan pagelaran-pagelaran yang lain. Disini kita mix antara yang klasik ada Kelir, ada Blencong, ada Wayang Simpingan, sebagai perwakilan dari classicly, lalu ada juga teater-nya, bagaimana anak-anak ber-teater, meragani tokoh-tokoh pewayangan. Ada juga bocah sing dolan, konsepnya bocah dolan tetapi mlebu ning dunia wayang,” ujar Faizal.
“Ada pula tarian, jadi kita combine bahwasanya nafas-nya, jiwa-nya, ruh-nya, spirit-nya itu tetep wayang, tapi kita wujudkan dengan kemasan yang lain sehingga akan mudah dimengerti dan yang ingin ditekankan adalah agar timbul tanda tanya, yang tentunya akan memancing pertanyaan, nah ketika ada pertanyaan, berarti ‘hidup,” imbuh Faizal.


Faizal Noor Singgih lebih lanjut menjelaskan; “Linier dengan Hageganti, kami istilahkan dengan Lumintu yaitu berkelanjuta’, maka kami menyuguhkan pagelaran wayang yang berbeda dengan biasanya, yaitu dengan konsep ‘Wayang Playground’ -Bermain Wayang, Wayang Bermain- jadi bagaimana 50 anak-anak ini dekat dengan wayang, bagaimana 50 anak-anak ini memerankan wayang dalam permainan dalam judul “Menyusun Puzzle Menuju Alengka” ide-nya terinspirasi dari cerita ‘Romo Tambak’.
Dikatakan, “Selama lebih dari 10 kali latihan seluruh orangtua dari anak-anak tersebut sepenuhnya mendukung, ini yang membuat trenyuh dan yang bikin kagum yaitu anak-anak itu hadir tidak tepat waktu, melainkan hadir sebelum waktu latihan dimulai, ‘mereka merasa kalau datang terlambat akan rugi’, begitu ‘cinta’ mereka dengan wayang, dan pentas tersebut me-lakon-kan wayang menggunakan bahasa anak-anak,” jelasnya.


Faizal menegaskan, didalam menata puzzle, kisah ‘Anoman Duta’ dalam lakon ‘Romo Tambak’ di-create dengan dunia anak-anak, dimana dengan bahasa anak-anak ini kita ingin menanamkan satu kerukunan, tentang gotong-royong, juga tentang kebijaksanaan, tetapi dengan bahasa anak-anak. Selama anak-anak belajar wayang, kita tetap menggunakan wayang-wayang khas Yogyakarta, bahkan juga gamelan dan iringannya. Animo anak-anak tersebut sangat tinggi, diluar jadwal belajar wayang, mereka juga bermain karawitan sendiri, dan ketika keduanya digabungkan, ‘dadi’, langsung mudah jadi.,” ungkapnya.


Synopsis cerita diawali dengan terbakarnya Kraton Alengka karena ulah Anoman si Kera Putih, yang kemudian melaporkan ke Prabu Rama Wijaya, solusi untuk menyerang Alengka yaitu dengan membuat bendungan atau tambak, namun muncul perlawanan dari pihak Alengka dengan mengerahkan pasukan Yuyu Rumpung, karena banyak pasukan Rama Wijaya yang kalah melawan Yuyu Rumpung, maka pemain minta tolong kepada penonton untuk membantu melempari Yuyu Rumpung, pasukan Wanara menyediakan bola-bola plastik seolah batu-batu yang oleh penonton secara ramai-ramai melempari Kepiting Raksasa si Yuyu Rumpung, alhasil terkaparlah si penjaga Kraton Alengka itu. Anoman kemudian merobohkan jembatan puzzle tersebut sebagai penutup yang memberitahukan bahwa infrastruktur itu tidak ada lagi sampai sekarang. (Feature of Impessa.id by Antok Wesman)
