AGUNG SUHARTANTO, Hadirkan 100 Lukisan Batik MENEROKA: Perjalanan Elemen Nusantara, di Taman Budaya EMBUNG GIWANGAN Yogyakarta, Hingga 2 Oktober 2026
AGUNG SUHARTANTO, Hadirkan 100 Lukisan Batik MENEROKA: Perjalanan Elemen Nusantara, di Taman Budaya EMBUNG GIWANGAN Yogyakarta, Hingga 2 Oktober 2026
Impessa.id, Yogyakarta, Indonesia, 27 September 2026: Sehari setelah resmi dibuka, pameran tunggal Agung Suhartanto, “MENEROKA: Perjalanan Elemen Nusantara”, dibuka untuk masyarakat umum secara gratis bertempat di Taman Budaya Embung Giwangan, Yogyakarta. Agung Suhartanto menghadirkan 100 Lukisan Batik, karya dari periode 2016–2020 dan memperlihatkan perjalanan eksplorasi dalam mengembangkan batik sebagai medium seni rupa.
Pembukaan MENEROKA berlangsung pada Sabtu, (26/9/2026) dihadiri sekitar 200 pengunjung, yang terdiri atas keluarga, seniman, pegiat seni dan budaya, komunitas, Kelompok Usaha Bersama Batik Wong Agung, serta tamu undangan lainnya. Pembukaan dipimpin oleh Wawan Harmawan, S.E., M.M., Wakil Wali Kota Yogyakarta, dan turut diisi pertunjukan musik tradisional Swara Prana.


Eksplorasi Elemen Nusantara melalui Batik
MENEROKA memperlihatkan bagaimana Agung mengeksplorasi beragam elemen Nusantara melalui medium batik. Inspirasi karya-karyanya berangkat dari persoalan budaya, tradisi, sejarah, lingkungan, flora, fauna, hingga kehidupan masyarakat di berbagai wilayah Nusantara.
Dalam perjalanan berkaryanya, Agung mengembangkan pendekatan yang mempertemukan teknik batik dengan eksplorasi seni rupa. Teknik tutup celup menjadi salah satu bagian penting dalam proses tersebut, bersama pengolahan malam, pewarnaan, komposisi, serta eksplorasi dimensi visual pada permukaan kain.
“Aku ingin meluruhkan segala batasan-batasan tentang batik,” ungkap Agung Suhartanto.


Penghargaan LEPRID dalam Pembukaan Pameran
Salah satu rangkaian utama pembukaan MENEROKA adalah penyerahan penghargaan dari Lembaga Prestasi Indonesia-Dunia (LEPRID). Berdasarkan surat LEPRID tertanggal 23 September 2026, penghargaan tersebut mencantumkan prestasi dengan nama “Mahakarya Batik dengan Teknik Tutup Celup untuk Membentuk Dimensi Ruang atau Dimensi Ketiga dalam Karya Batik Dua Dimensi Pertama di Indonesia”.
Dalam dokumen LEPRID yang digunakan pada seremoni, penghargaan diberikan kepada Mpu Agung Suhartanto sebagai pencipta dan Wawan Harmawan, S.E., M.M., Wakil Wali Kota Yogyakarta, sebagai inspirator pameran. Penghargaan diserahkan oleh Paulus Pangka, S.H., Pendiri dan Ketua Umum LEPRID.


Mengenang Prof. Dharsono Sony Kartika
MENEROKA juga menjadi ruang untuk mengenang Prof. Dharsono Sony Kartika, yang menjadi bagian penting dalam proses dan pemikiran karya-karya Agung pada periode 2016–2020. Kehadiran 100 karya dalam pameran ini sekaligus membuka kembali satu fase perjalanan artistik yang dibangun melalui proses, dialog, dan eksplorasi.
Ruang mengenang tersebut ditempatkan sebagai bagian dari narasi pameran, sehingga publik tidak hanya melihat karya sebagai hasil akhir, tetapi juga dapat mengenali konteks perjalanan pemikiran yang menyertainya.

Dari Proses Membatik hingga Ruang Pertemuan
Bagi Agung, membatik merupakan proses yang mempertemukan keterampilan teknis dengan pengalaman artistik. Tahapan menggambar, menerakan malam, pewarnaan bertahap, hingga pelorodan menjadi bagian dari proses yang membentuk karakter visual karya. Kepada Impessa.id, Agung mengungkapkan proses kreatifnya;
"Karya seni batik Indonesia itu adalah seni yang tertinggi, dunia mengakui seperti itu, tetapi bagimanakah dengan eksistensinya, itu yang selalu dipertanyakan setiap tahun menjelang Hari Batik Dunia. Disini saya mencoba menjawab dengan mengembalikan esensinya yaitu batik dengan teknik tutup-celup, yang dimiliki klasik, tetapi, kita harus mengikuti kegemaran anak-anak muda sekarang yang menilai batik itu kuno, sudah ketinggalan jaman, padahal kita bisa membuat Doraemon, Spiderman, dengan teknik batik, agar generasi muda tertarik, sehingga ikut mencintai batik. Melalui Meneroka Nusantara ini, saya menggunakan motif-motif klasik dari berbagai suku di Tanah Air, mulai dari Kalimantan hingga Papua, saya memasukkan isen-isen motif jarik kedalam karya, ada pesan mendalam melalui ornamen-ornamen yang ada," jelas Agung.
"Pada saat membatik, Titik atau Ceceg, pertama itu sudah kita anggap sebagai suatu kehidupan, begitu luar biasanya batik itu, karena meskipun karya itu belum jadi, kita sudah menghidupi orang banyak, jadi tidak harus menunggu sampai karya itu jadi, orang-orang disekitar sudah mendapat penghidupan, yang nyanting sudah mendaapt penghidupan, yang gambar sudah mendapat penghidupan, dan itu karya belum jadi," ujarnya..

Ketika Impessa.id menanyakan kepada Agung, apa yang dipersiapkan sebelum berkarya? dirinya mengaku senantiasa berpuasa, “Kebetulan hari ini, Sabtu, ‘Weton’ saya sehingga saya ‘Puasa Ngapit’dari hari Jum’at sampai hari Minggu, tiga hari berturut-turut berpuasa, dan tiap Senin-Kemis, saya juga berpuasa. Itu memudahkan diri saya untuk ’bersih diri’ jelang melukis batik, dimana inspirasi kemudian muncul dan mengalir lancar begitu saja. Didalam berkarya itu selain dibutuhkan kesabaran, juga diperlukan hati yang bersih, untuk menampilkan ‘cahaya’ nya, energi-nya,” imbuh Agung lebih lanjut.
Melalui MENEROKA, proses tersebut dipertemukan dengan publik. Pameran dirancang sebagai ruang pertemuan antara seniman, karya, dan penghayat, sekaligus sebagai kesempatan untuk melihat bagaimana unsur-unsur Nusantara diterjemahkan menjadi bahasa visual melalui batik.

Eka Priasa dari Semarang saat dimintai komentar terkait pameran Lukisan Batik tersebut dirinya menilai; “Tidak semua pembatik bisa melakukan seperti yang dikerjakan Agung Suhartanto, karena dia yakin dan percaya bahwa dia bisa menemukan teknik baru seperti yang terlihat didalam karya-karyanya, yang menurut sang seniman berasal dari ‘yang diatas’ dan dirinya mendapat ‘mandat’ untuk melestarikan batik sebagai warisan leluhur," jelasnya.
"Yang saya tertarik ketika diajak berkolaborasi atas Projek 100 Karya Nusantara h saya melihat ini sesuatu yang unik, belum pernah ada dan akan menjadi sejarah raru dalam dunia Batik, karena belum pernah saya melihat Batik bisa menjadi sampai seindah karya-karya Batik Wong Agung. Ini istimewa, yang saya sangat kagumi adalah Proses pkerjaannya itu dengan tehnik Batik Tulis atau Tutup Celup murni asli yang dibuat menggunakan Canting dengan proses pembuatan yang memakan waktu sangat panjang, jadi bukan batik cap, printing, atau tiruan bahkan tidak ada sedikitpun kuas tangan di dalam karya tersebut. Sekali lagi ini sesuatu yang saya katakan sangat luar-biasa, kiranya dunia bisa menyaksikan Kemilau Cahaya Nusantara ini melalui 100 Karya Batik Wong Agung," ungkap Eka Priasa.
â

"Saya sangat menyukai detail-detail lukisan di dalam Karya Batik Wong Agung tersebut, juga pewarnaannya yang begitu sangat Indah dan tidak mudah, khususnya teknik 'gambar di dalam gambar' pada motif batiknya. Saya percaya ini semua terjadi bukan karena kita, atpi datang dari Tuhan Allah Semesta yang memberikan mandat atas 100 Karya Nusantara Batik Wong Agung ini.. Kiranya karya Nusantara BATIK WONG AGUNG ini dapat menjjadi berkat bagi kita semuaa dan bergema sampai ke seluruh Dunia..Amin,” imbuh Eka Priasa lebih lanjut.
Selaku pendukung penuh kegiatan Agung Suhartanto, Eka Priasa kepada Impessa.id menjelaskan tantangan yang dihadapi didalam mengenalkan karya-karya Agung ke publik luas.
“Proses pembuatan lukisan batik sejumlah 100 karya ini berlangsung sekitar 6-7 tahun, ada yang berukuran panjangnya 10 meter dan lebar sekitar satu meteran, semula karya-karya Agung tersebut kita pamerkan di Galeri Nasional Jakarta, namun tiba-tiba terkendala adanya wabah Covid, sehingga lama vakum, nah baru kemudian muncul gagasan di tahun 2026 ini memamerkannya di Yogyakarta, sebagai Kota Budaya,” ujar Eka Priasa.

Dalam kesempatan opening pamneran, Sean Purnomo, pelajar SMP Mondial Semarang yang ditemui Impessa.id mengaku takjub melihat pameran lukisan batik yang dipajang di Gedung Taman Budaya Embung Giwangan Yogyakarta.
“Kesan saya ketika memasuki ruang pameran ini sungguh luar biasa, saya sangat takjub melihat karya-karya yang dipajang disini, dan saya sangat terharu dibuatnya,” tutur Sean singkat.

Pembukaan MENEROKA berlangsung dalam suasana intim. Kehadiran keluarga, seniman, pegiat seni dan budaya, komunitas, serta Kelompok Usaha Bersama Batik Wong Agung memperlihatkan bahwa pameran tidak hanya menjadi ruang presentasi karya, tetapi juga ruang pertemuan berbagai pihak yang memiliki hubungan dengan perjalanan Agung.
Setelah seremoni penghargaan, pembukaan pameran ditandai dengan pemukulan gong bersama Wakil Wali Kota Yogyakarta, kemudian dilanjutkan pemotongan pita yang melibatkan Agung Suhartanto, Wawan Harmawan, serta perwakilan Kelompok Usaha Bersama Batik Wong Agung. (Jeni Astuti-Penulis/Antok Wesman-Impessa.id)
