Feature

I WAYAN ADY SUCIPTA, Sukses Gelar Lukisan Di Mini Art Malang 2026

I WAYAN ADY SUCIPTA, Sukses Gelar Lukisan Di Mini Art Malang 2026

I WAYAN ADY SUCIPTA, Sukses Gelar Lukisan Di Mini Art Malang 2026

Impessa.id, Malang, Indonesia, Agustus 2026: Dalam Mini Art Malang 2026, Art Exhibition bertajuk “AKAR”, bertempat di Malang Creative Center Floor 4-5 Jalan A Yani No. 53 Blimbing, Malang, Jawa Timur, pada 17-30 Juli 2026, Pelukis muda I Wayan Ady Sucipta dari Ubud, Bali, menggelar tiga lukisan serial karya tahun 2026, berjudul “Femina”, Cat Akrilik dan Tinta di atas kanvas, masing-masing berukuran 50 x 40 cm.

Kepada Impessa.id, Adi, sapaan akrabnya, menuturkan bahwa Judul karyanya “Femina” tersebut sebagai refleksi diri yang terlahir sebagai seorang lelaki namun tidak memungkiri memiliki atribut sikap feminim di dalam setiap laku.

“Seiring bertambahnya pengalaman dengan menjalani berbagai peristiwa dan keadaan hidup. Atribut sikap feminim mulai napak dan terkadang bermanfaat dalam laku kehidupan. Kasih sayang dan sikap yang lemah lembut terkadang menjadi solusi terbaik dalam menyikapi suatu hal atau masalah yang menghampiri,” ujarnya.

Hal itu tertuang dalam visual lukisan yangmana figur wanita selalu hadir walau hanya nampak berupa bayangan wayang. Dipertegas dengan visual strawberry yang mengisyaratkan dibalik bentuk anggun nan indah mengandung daging buah lembut dengan rasa manis dan asam yang selalu berdampingan.

Menurut Adi, maskulin tanpa feminim adalah sebuah ego yang tersiakan. “Dualisme ini juga mengisyaratkan akar konseptual visual yang saya yaitu sinkretisme antara teknik melukis klasik Bali dengan teknik melukis Barat -modern,” imbuhnya.

“AKAR” adalah bagian tumbuhan yang umumnya berada di bawah tanah, berfungsi sebagai jangkar, penyerap air dan nutrisi serta menyimpan cadangan makanan. Namun, akar juga bisa sebagai simbol yang kaya akan makna. Akar bisa merujuk pada asal usul, sejarah personal, keluarga atau budaya dari mana seseorang berasal. Ini bisa mencakup tradisi lokal, cerita rakyat atau ingatan kolektif.

Kurator pameran Akhmadi Budi Santoso dalam pengantar kuratorialnya menyebutkan bahwa “AKAR” bisa melambangkan landasan yang kuat, nilai-nilai dasar atau keyakinan yang menopang kehidupan dan kreativitas seseorang. Akar juga bisa melambangkan koneksi dan keterhubungan yang tidak terpisahkan antara manusia dengan alam, lingkungan atau komunitasnya. Meskipun akar berada dibawah tanah, ia adalah sumber kehidupan yang memungkinkan pohon (bisa ide atau budaya) untuk tumbuh dan berkembang. 

Dikatakan, dalam Pameran MAM#7, “AKAR” berfungsi sebagai kerangka konseptual yang memungkinkan seniman untuk mengeksplorasi berbagai interpretasi personal maupun kolektif. Bisa jadi seniman fokus pada penggambaran akar secara harfiah dalam karyanya untuk menyampaikan filosofi tentang kehidupan ditengah kondisi tertentu. Atau mungkin seniman mengeksplorasi akar dalam konteks fenomena sosial atau hubungan manusia dengan alam, menyoroti isu lingkungan atau konflik antara modernitas dan tradisi. 

Melalui pameran bertajuk “AKAR” seniman di-undang untuk menampilkan karya dengan keragaman pendekatan dan representasi visual yang nyata hingga abstrak dan konseptual, namun terikat pada sasaran sentral tentang pondasi dan asal usul. (Feature of Impessa.id by Ady Sucipta-Antok Wesman)