Feature

Padepokan Seni Bagong Kussudiardja Gelar JAGONGAN WAGEN Episode 155, PANJAT HUJAN Oleh TONY YAP Dari Australia

Padepokan Seni Bagong Kussudiardja Gelar JAGONGAN WAGEN Episode 155, PANJAT HUJAN Oleh TONY YAP Dari Australia

Padepokan Seni Bagong Kussudiardja Gelar JAGONGAN WAGEN Episode 155, PANJAT HUJAN Oleh TONY YAP Dari Australia

Impessa.id, Yogyakarta, Indonesia, Juli 2026:  Padepokan Seni Bagong Kussudiardja -PSBK bekerja sama dengan Tony Yap Company -TYC, menghadirkan pertunjukan tari kontemporer bertajuk “Panjat Hujan” dalam panggung Jagongan Wagen Episode 155 pada Jumat, 24 Juli 2026 pukul 19.00 WIB. Presentasi itu menjadi fase awal yang krusial dari program kolaborasi residensi jangka panjang menuju pementasan penuh pada tahun 2027.

Wakil Direktur Eksekutif Yayasan PSBK, Doni Maulistya menuturkan bahwa pertunjukan “Panjat Hujan” dikembangkan melalui kerangka residensi sepekan bertajuk 'A Scent of Time' di Yogyakarta, berangkat dari praktik riset jangka panjang yang melibatkan berbagai konteks geografis dan kultural, serta menghubungkan seniman, praktisi trance, dan performer lintas negara.

“Kolaborasi terbentuk melalui kesesuaian cara pandang PSBK yang memposisikan dirinya sebagai simpul untuk menghubungkan praktik artistik dengan dinamika sosial yang terus berkembang,” ujarnya.

Dikatakan, residensi A Scent of Time di PSBK merupakan fase ketiga dari evolusi proyek: integrasi trance Bantengan yang dipimpin oleh maestro trance sekaligus pendiri Festival Bantengan Bull-Trance, Agus Riyanto. Pertemuan dua sistem trance yang berbeda, kosmologi Bissu yang mediatoris dan transformasi animistik Bantengan yang intens, menjadi landasan eksplorasi koreografis tentang bagaimana trance memproduksi temporal affects di dalam tubuh: durasi, repetisi, ruptur, suspensi, akselerasi, serta ambang antara kendali dan pelepasan.

“Ini merupakan langkah nyata bagi PSBK untuk mewujudkan tema kerja tahun ini yaitu Bridging The Nodes untuk menjalin simpul-simpul kerja kebudayaan dan kesenian. Residensi dan Jagongan Wagen kali ini merupakan upaya mewujudkan tanggung jawab bersama untuk memajukan kebudayaan dan kemanusiaan, dengan cara berbagi sumber daya dan memastikan kerja kebudayaan dan kesenian yang berkelanjutan,” ungkap Doni Maulistya.

Panjat Hujan Oleh Tony Yap, Pertunjukan Tari Kontemporer berdurasi: 90 menit.

Panjat Hujan, berangkat dari kosmologi masyarakat Bugis di Sulawesi Selatan, di mana gagasan tentang “mustahil” tidak menjadi bagian dari cara pandang terhadap dunia. Karya ini mengeksplorasi bagaimana ritual dan pengalaman spiritual membentuk persepsi tubuh terhadap waktu dan ruang.

Menghubungkan praktik shamanistik dengan pendekatan tari kontemporer, “Panjat Hujan” dikembangkan melalui eksplorasi ruang yang dipahami sebagai ruang sakral, dimana tubuh bergerak dalam relasi dengan struktur-struktur tak kasatmata. Dalam proses ini, keadaan trance dihadirkan sebagai metode untuk membuka spektrum pengalaman sensorik dari yang intens hingga yang hampir tak terasa.

Karya ini tidak hanya berfokus pada bentuk gerak, tetapi juga pada bagaimana tubuh mengalami durasi, perubahan, dan ambang antara kendali dan pelepasan. Di dalamnya muncul pertanyaan reflektif tentang ketahanan dan kerentanan: dalam upaya untuk bertahan, apakah kita mampu tetap menjaga kelembutan?

Sebagai kolaborasi lintas budaya, Panjat Hujan menjembatani praktik dari masa lalu dengan konteks kontemporer, sekaligus membuka ruang dialog antara pengalaman artistik, pengetahuan tradisi, dan pemaknaan baru di masa kini. Pertunjukan ini juga dapat dilengkapi dengan sesi diskusi bersama seniman dan akademisi untuk memperluas konteks dan pemahaman terhadap karya.

Tony Yap, selaku seniman utama adalah penari dan koreografer kelahiran Malaysia yang menetap di Melbourne, Australia. Ia dikenal atas karya-karya yang memadukan tradisi shamanistik Asia dengan tari kontemporer, menjadikan tubuh sebagai medium riset dan trance sebagai metodologi somatik. Sebagai pendiri dan direktur artistik MAP Fest (Movement, Arts and Performance Festival), serta penerima berbagai penghargaan termasuk Green Room Award dan Australia Council Dance Fellowship. Situs web: www.tonyyapcompany.com

Reuben Lewis, musisi adalah trompetis, komposer, dan produser pemenang penghargaan yang dikenal dengan warna suara elektro-akustik lintas genre. Ia memimpin ansambel I Hold the Lion’s Paw dan menciptakan karya yang memadukan jazz, improvisasi, dan pemrosesan suara langsung. Proyek terbaru mencakup Lost in Place di Mona Foma dan Imagination Exploration bersama Musica Viva.

Jack Riley adalah penari berbasis di Melbourne dengan latar belakang panjat tebing dan seni beladiri. Lulusan Victorian College of the Arts ini telah menciptakan karya tari independen, tampil di panggung internasional, dan membintangi film pendek pemenang penghargaan. Kini ia berkolaborasi dengan Tony Yap dalam eksplorasi batas gerak dan pertunjukan.

Taichi Ishii adalah penari yang bergerak di wilayah persilangan antara tari kontemporer dan praktik somatik. Dengan sensibilitas artistik yang terbentuk melalui latihan di Jepang dan Australia, ia membawa dimensi relasional dan kepekaan ruang yang memperkaya eksplorasi kolektif dalam residensi ini.

Agus Riyanto adalah maestro trance Bantengan dan pendiri Festival Bantengan Bull-Trance di Batu, Jawa Timur. Keahliannya dalam praktik trance animistik menjadi landasan pengetahuan utama riset ini. Wawancaranya yang direkam dalam proyek ini, tentang metode, filosofi, dan pemahamannya mengenai kepemilikan, ketulusan, dan hal luar biasa dalam praktik Bantengan, menjadi salah satu dokumen riset penting.

Anca adalah kolaborator dari Makassar yang terlibat dalam fase riset Bissu pada proyek “Panjat Hujan” sebelumnya. Keterlibatannya memberikan kontinuitas kultural dan konteks praktik shamanistik Bissu dalam proses integrasi dua sistem trance.

Sebelum pertunjukan berlangsung, PSBK menggelar bincang bersama Tony Yap dimana Tony banyak bercerita terutama dari sudut pandang seorang seniman yang momosisikan residensi sebagai metodologi riset bersifat embodied. Tony mengajak audience untuk memahami bagaimana referensi, pengalaman, dan eksperimen diolah menjadi bahasa artistik dalam karya. Ia banyak memberi gambaran bahwa sebuah karya merupakan proses panjang menyerap pengalaman, mempertanyakan apa yang diwariskan, dan menemukan cara baru untuk mengungkapkannya.

Tentang Jagongan Wagen

Sejak 2007, Jagongan Wagen berkomitmen menampilkan karya pertunjukan segar dan inovatif. Mulai 2025, Jagongan Wagen berfokus pada pertunjukan beragam dari seniman lokal dan internasional, sebagai upaya strategis dalam membangun ekosistem seni pertunjukan yang kuat dan menciptakan pengalaman apresiasi seni yang otentik.

Pertunjukan tari kontemporer Panjat Hujan oleh Tony Yap tampil dalam agenda Jagongan Wagen episode 155 pada Jumat, 24 Juli 2026 di Padepokan Seni Bagong Kussudiardja, Bantul, Yogyakarta pukul 19.00 WIB dengan reservasi kursi. Sebagai bagian dari ekosistem Jagongan Wagen, presentasi ini juga menjadi ruang pertemuan yang tidak hanya menghadirkan karya, tetapi juga memperkuat simpul pertukaran pengetahuan dan praktik seni pertunjukan yang berkelanjutan, kontekstual, dan terhubung secara global.

Tentang PSBK

Melanjutkan spirit Bagong Kussudiardja, PSBK menyelaraskan visi misi sebagai pusat seni berbasis tempat (venue-based art center). Evolusi ini dapat terwujud lewat penyempurnaan rencana induk desain kawasan pada 2024. PSBK berupaya untuk mewujudkan misi Lembaga untuk menjaga kualitas dan aksesibilitas ruang seni untuk pengembangan hubungan seni, seniman, dan masyarakat dengan kekuatan presentasi, literasi, perekaman dan dokumentasi, serta konservasi.

Dengan kekuatan tersebut dan praktik manajemen profesional, PSBK meneguhkan posisi sebagai pusat pengetahuan (resource center) yang berkontribusi pada ekosistem seni global, menciptakan dampak pada kualitas SDM seni maupun non-seni, serta terus menjaga relevansi seni sebagai kebutuhan hidup. (Tim Media PSBK/Antok Wesman-Impessa.id)