MALIOBORO CLASSICAL Gelar O, NOL KOMA Pertama, Jumat 10 Juli 2026, Bangkitkan MALIOBORO Sebagai Ruang Kreatif Lintas Generasi
Gelaran O, NOL KOMA Pertama, Jumat 10 Juli 2026, Bangkitkan MALIOBORO Sebagai Ruang Kreatif Lintas Generasi
Impessa.id, Yogyakarta, Indonesia, Juli 2026: Upaya kerja keras bersama oleh Malioboro Classical, Komunitas Seniman Jogja yang Cinta Malioboro, untuk menggaungkan kembali proses panjang Malioboro melahirkan banyak seniman hebat di negeri ini, terwujud dalam peristiwa seni bernama “0, -Nol Koma”, melibatkan puluhan seniman lintas generasi di Malioboro pada Jum’at, 10 Juli 2026.
Kawasan Titik Nol Kilometer Yogyakarta kembali menjadi ruang perjumpaan para seniman lintas generasi dalam gelaran O, -Nol Koma #1 bertajuk “Ruang Awal, Ruang Bersama” hadir sebagai upaya merawat ingatan kolektif sekaligus menghidupkan kembali semangat Malioboro sebagai ruang budaya yang terbuka untuk semua orang.

Bagi banyak seniman dan budayawam, Malioboro bukan sekadar kawasan wisata. Selama puluhan tahun, kawasan ini dikenal sebagai ruang tumbuh yang melahirkan penyair, musisi, pelukis, budayawan, hingga pemikir yang memberi warna bagi perjalanan kebudayaan Indonesia.
Malioboro memiliki sejarah panjang sebagai ruang publik yang melahirkan banyak gagasan, karya seni, dan tokoh penting di bidang seni budaya. Karena itu, gelaran O, -Nol Koma #1 dirancang sebagai pengingat bahwa Malioboro selain memiliki nilai ekonomi, juga menyimpan warisan sosial dan budaya yang perlu terus dirawat.

Hal itu terungkap dalam Press Conference yang berlangsung Senin (6 Juli 2026) di Mili Sayidan, bersama Seno Prawoto Ketua Malioboro Classical, Agus 'Dayak' Imron selaku Steering Committee, Koord. Acara: Diar Sahudi, Koord. Musik: Jaka Prasetya, Koord. Sastra: Feri Ludyanto dan Koord. Seni rupa: Joko 'Gundul' Sulistiono.
Seno Prawoto selaku Ketua Malioboro Classical menyebutkan bahwa semangat tersebut berangkat dari posisi Jalan Malioboro yang merupakan bagian penting dari Sumbu Filosofi Yogyakarta yang telah ditetapkan sebagai Warisan Dunia oleh UNESCO pada tahun 2023. Namun, kekuatan utama Malioboro tidak hanya terletak pada aspek fisik dan sejarah kawasan, melainkan pada tradisi perjumpaan, dialog, dan proses kreatif yang tumbuh di dalamnya.

“Malioboro bahkan kerap disebut sebagai ‘kampus jalanan’, tempat siapa saja dapat belajar tanpa batas latar belakang sosial maupun pendidikan formal. Dari ruang terbuka itu lahir berbagai pengalaman, jejaring, dan perspektif yang membentuk perjalanan banyak pelaku seni dan budaya,” ujarnya.
“Melalui O, -Nol Koma #1, Malioboro Classical Jogja menghadirkan kembali ruang ekspresi yang mempertemukan pengalaman para seniman senior dengan energi generasi muda. Acara ini tidak hanya menjadi panggung apresiasi seni, tetapi juga ruang regenerasi Kebudayaan,” jelasnya.

Agus 'Dayak' Imron selaku Steering Committee, menambahkan, “Sejumlah musisi yang tampil dalam gelaran tersebut, antara lain Sirkus Barock, Akrosh, Alceena Inside, Beauty Disaster, Diar Sahudi & Friends, Jagger, Frida, Lia Yures, Aan Stones, Partikelir, Tjongpick, hingga Kelompok Penyanyi Jalanan Malioboro -KPJM,” tutur Agus.
Koordinator Musik: Jaka Prasetya menambahkan bahwa kehadiran grup musik kawakan Sirkus Barock di panggung depan ex Senisono, tanpa dihadiri dedengkot Sawung Jabo, mengingat sang maestro masih berada di Australia, menjaga stamina tubuh sambil mempersiapkan konser emas 50 Tahun Sirkus Barock,” tutur Jaka Prasetia, sang gitaris Sirkkus Barock.

Koordinator Sastra: Feri Ludyanto, menjelaskan, “Acara Sastra menghadirkan pembacaan puisi dan sastra oleh Doni Haryo, Sekartaji Ayuwangi, Luwi Darto, Dinar Roos & Pak Yan, Ahmad Jalidu, Piwulang Sastra, Silvia Anggreni Purba, Dewi Wapah, Menik Sithik, dan Daniel Godan,” jelasnya.
“Yang menarik dari pembacaan puisi dan sastra yang dimulai pukul 2 siang tersebut, seniman berada di atas mobil terbuka berhenti di satu titik mulai dari jalan masuk ke Malioboro, lantas membacakan puisinya, kemudian berpindah hingga berhenti di delapan titik di sepanjang Malioboro, sampai menuju Titik Nol Kilometer Kota Yogyakarta,” ungkap Feri.

Sementara itu, Koordinator Seni Rupa: Joko 'Gundul' Sulistiono mengatakan, “Disekitar panggung utama yang berbentuk Angka Nol, dimana para musisi siap menghibur pengunjung Malioboro, sekitar 15 pelukis junior mendemonstrasikan kemahirannya melukis on the spot, dimulai pukul 3 sore,” ujarnya.
Agus ‘Dayak’ lebih lanjut mengatakan, Salah satu agenda utama dalam pembukaan O, -Nol Koma #1, adalah peresmian simbolik Monumen Umbu Landu Paranggi oleh Wali Kota Yogyakarta. Umbu Landu Paranggi, dikenal sebagai "Presiden Malioboro", dipilih sebagai tokoh pertama dalam program memorial budaya yang digagas penyelenggara. Adapun monumen real-nya dijadwalkan didirikan pada penyelenggaraan O, -Nol Koma #2 yang mengusung tema “Merawat Jejak, Merajut Waktu”.
“Monumen tersebut dirancang sebagai media dokumentasi dan pengenalan tokoh-tokoh yang memiliki kontribusi besar terhadap perkembangan seni, budaya, dan kehidupan intelektual Yogyakarta. Selain memuat informasi dasar mengenai tokoh, monumen dilengkapi kode QR yang menghubungkan pengunjung dengan arsip digital berisi dokumentasi, karya, serta referensi terkait perjalanan hidup Umbu Landu Paranggi,” ungkap Agus lebih lanjut.

Menurut Seno Prawoto, ke-depan, program memorial budaya ini menghadirkan tokoh-tokoh lain yang memiliki pengaruh besar dalam sejarah dan perkembangan kebudayaan Yogyakarta. Nama O, -Nol Koma, dipilih untuk menggambarkan bahwa setiap perjalanan besar selalu berawal dari titik kecil. Acara ini tidak hanya dimaksudkan untuk mengenang masa lalu, tetapi juga membuka ruang bagi lahirnya generasi baru pelaku seni dan budaya.
Gelaran O, -Nol Koma #1, diharapkan dapat menjadi titik awal tumbuhnya kembali ruang dialog, ruang apresiasi, dan ruang kreatif yang selama ini menjadi denyut kehidupan Malioboro. Sebab, seni tidak hanya membutuhkan panggung, tetapi juga ekosistem yang memungkinkan gagasan, karya, dan manusia bertumbuh bersama. (Diar Sahudi/Pras AB/Antok Wesman-Impessa.id)
