KALIS MARDIASIH Luncurkan Novel Fiksi Family Drama Berjudul MAKAMKAN IBU DI SAMPING AYAH
Impessa.id, Yogyakarta, Indonesia, Juni 2026: Kalis Mardiasih, aktivis yang dikenal berani menyuarakan isu-isu terkait perempuan, pada Minggu (21/6/2026), mengenalkan novel perdananya, berjudul “Makamkan Ibu Di Samping Ayah” meski secara resmi telah dirilis pada 6 Juni 2026, setelah sukses menulis enam buku esai. Yang mengejutkan edisi pertama novel fiksi family drama seharga 59K tersebut, sebanyak dua-ribu eksemplar langsung ludes terjual, kebanyakan dibeli secara on-line.
Novel debutan Kalis “Makamkan Ibu Di Samping Ayah” yang diterbitkan oleh Shira Media Sleman-Yogyakarta tahun 2026, sempat memantik pertanyaan, ada apa dengan judul itu? bukankah sudah menjadi hal yang wajar jika isteri wafat dimakamkan disebelah makam almarhum suaminya, mengapa harus ditegaskan, sebagai wasiat bagi anak keturunannya?

Dalam bincang-bincang santai bersama awak media pada sore yang cerah di sebuah café nan hommy We Love You(th) di kawasan jalan Kaliurang Timur, Kalis memulai proses penulisan novel tersebut.
“Berawal dari luka generasional dalam keluarga Indonesia yang selama ini jarang disuarakan. Luka generasional, dalam psikologi dikenal sebagai intergenerational trauma, suatu kondisi dimana dampak psikologis dan pengalaman traumatis seseorang diturunkan dari satu generasi ke generasi berikutnya, dan seringkali tanpa disadari oleh siapapun dalam keluarga itu,” tutur Kalis.

Novel “Makamkan Ibu Di Samping Ayah” mencoba menggambarkan setiap karakter didalamnya menanggung luka versi masing-masing. Aji sebagai anak sulung yang sejak remaja memikul beban layaknya orang dewasa. Vikra sebagai anak tengah memilih jadi pendiam, dan Lini sebagai anak bungsu, tumbuh tanpa kenangan apapun bersama ayah kandungnya.
Didalam novel ini, Ibu yang digambarkan keras dan ambisius, ternyata menyimpan kerentanan yang tidak pernah ia tunjukkan kepada siapapun. Ayah yang pergi, ternyata membawa alas an yang jauh lebih kompleks dari versi yang selama ini diceritakan kepada anak-anaknya.

“Ini novel bukan tentang siapa yang benar atau salah, ini novel tentang apakah kita sanggup melihat orang-orang yang menyakiti kita sebagai manusia dan apa yang ingin kita lakukan dengan pemahaman itu,” ujar Kalis.
Kemudian, akhir-akhir ini, diskusi terkait dengan luka generasional, toxic parenting, dan kesehatan mental, semua dalam konteks keluarga, menjadi topik yang banyak dibicarakan di platform digital Indonesia.

“Banyak konten bertema family trauma, parentifikasi, dan intergenerational healing, marak beredar di media sosial, yang mencerminkan kebutuhan besar di masyarakat untuk memiliki ruang berbicara mengenai pengalaman pribadi yang selama ini disimpan dalam diam,” jelas Kalis lebih lanjut.
Maka novel “Makamkan Ibu Di Sanping Ayah” setebal 142 halaman ini, untuk mengisi kekosongan yang tidak bisa di isi oleh konten pendek. Novel yang menemani pembacanya ikut menelusuri permasalahan yang ada dengan kedalaman dan empati, kemudian duduk bersama pertanyaan-pertanyaan tentang pengampunan, tentang batas antara memahami dan membenarkan, dan tentang apakah sebuah keluarga yang retak masih bisa menjadi tempat pulang. (feature of Impessa.id by Antok Wesman)

