Feature

MAHADIKA MUHAMMAD AKBAR, Mahasiswa ISI Yogyakarta Kenalkan Gitar Listrik Ukir Jepara Pada Pekan Fotografi Sewon Ke-19

MAHADIKA MUHAMMAD AKBAR, Mahasiswa ISI Yogyakarta Kenalkan Gitar Listrik Ukir Jepara Pada Pekan Fotografi Sewon Ke-19

MAHADIKA MUHAMMAD AKBAR, Mahasiswa ISI Yogyakarta Kenalkan Gitar Listrik Ukir Jepara Pada Pekan Fotografi Sewon Ke-19

Impessa.id, Yogyakarta, Indonesia, Juni 2026: Mahadika Muhammad Akbar, mahasiswa Program Studi Fotografi Institut Seni Indonesia -ISI Yogyakarta menampilkan perpaduan teknik ukir khas Jepara dengan instrumen musik modern melalui karya fotografi komersial yang dipamerkan dalam Pekan Fotografi Sewon (PFS) #19 bertajuk Prime Time.

Melalui karya berjudul Fotografi Komersial Produk Guitar Carving Indonesia, Mahadika memvisualisasikan gitar listrik dan bas yang dihiasi teknik ukiran khas Jepara sebagai upaya menghadirkan identitas budaya lokal ke dalam produk yang dekat dengan generasi muda.

"Yang menarik bagi saya adalah penggunaan teknik ukir Jepara pada media yang dekat dengan anak muda seperti gitar listrik dan bas. Selama ini teknik ukir Jepara lebih identik dengan perabot rumah tangga, sementara di sini diterapkan pada media instrumen musik modern," kata Mahadika.

Menurut dia, penerapan teknik ukir pada instrumen musik menunjukkan bahwa warisan budaya lokal dapat berkembang mengikuti perubahan zaman tanpa kehilangan identitasnya.

"Di situlah letak modernitasnya. Gitar listrik yang modern ternyata dapat menjadi media bagi teknik ukiran Jepara. Ini menunjukkan bahwa ukiran tidak hanya dapat diterapkan pada benda-benda tradisional, tetapi juga pada produk yang dekat dengan generasi sekarang," ujarnya.

Melalui pendekatan fotografi komersial, Mahadika berupaya menampilkan detail ukiran, tekstur, dan karakter visual produk secara komunikatif sekaligus membangun citra profesional bagi Guitar Carving Indonesia.

"Yang ingin saya tampilkan bukan hanya bentuk gitarnya, tetapi juga identitas budaya yang melekat pada produk tersebut," katanya.

Karya Mahadika menjadi salah satu dari 32 karya tugas akhir yang dipamerkan dalam PFS #19. Mengusung tema Prime Time, pameran tersebut menjadi ruang bagi mahasiswa untuk menampilkan karya hasil tugas akhir yang telah dijalani selama menempuh pendidikan fotografi.

Guru Besar Fotografi ISI Yogyakarta Prof. Soeprapto Soedjono menilai tema Prime Time yang diusung mahasiswa merepresentasikan momen penting selama mereka menempuh pendidikan fotografi.

"Prime Time adalah sebuah waktu yang luar biasa. Harapannya pilihan tema itu dapat terwakili melalui karya-karya fotografi yang dipamerkan hari ini," katanya saat membuka pameran.

Menurut dia, pameran tugas akhir bukan menjadi titik akhir perjalanan mahasiswa, melainkan awal untuk memasuki jenjang berikutnya dalam kehidupan dan karier.

"Ini bukanlah sebuah titik akhir, tetapi satu jenjang yang akan dilanjutkan," ujarnya.

Sementara itu, Sekretaris Jurusan Fotografi ISI Yogyakarta Kusrini yang mewakili Ketua Jurusan Fotografi mengatakan Prime Time diharapkan menjadi titik strategis bagi mahasiswa sebelum memasuki dunia profesional.

"Prime Time menjadi titik strategis dan juga menjadi waktu yang paling menentukan sekaligus menjadi pembuka bagi kesuksesan teman-teman ke depannya," katanya.

Menurut dia, PFS #19 juga menjadi bentuk publikasi ilmiah dan pertanggungjawaban publik atas proses penciptaan karya yang telah dilakukan mahasiswa selama menyelesaikan studi.

"Harapan kami teman-teman tetap konsisten, baik itu di bidang fotografi maupun bidang lain yang memberikan manfaat bagi masyarakat, bangsa, maupun negara," katanya.

Pekan Fotografi Sewon -PFS #19 bertajuk Prime Time, berlangsung pada 11-14 Juni 2026 di Galeri Pandeng dan Gedung Program Studi Fotografi ISI Yogyakarta. (Daru Aji/Antok Wesman-Impessa.id)