Plaza Ambarrukmo Serahkan Charity Sarana Kesehatan Untuk Shelter Di Kalasan-Sleman
Impessa.id, Yogyakarta: Mengawali rangkaian peringatan 15 Tahun Plaza Ambarrukmo, Sabtu (6/3/2021) berlangsung pemberian bantuan sarana kesehatan untuk dua shelter di Tirtomartani dan Tamanmartani, bertempat di Kantor dan Balai Desa Tirtomartani, Kecamatan Kalasan, yang diterima langsung oleh Lurah Tirtomartani Indra Gunawan disaksikan Kepala Puskesmas Kalasan Dokter Dini Trisharjanti, Carik Tirtomartani Bekti Susanto dan Carik Tamanmartani, Tomi Nugraha, serta perwakilan dari Plaza Ambarrukmo Yogyakarta.
Lurah Desa Tirtomartani dalam kesempatan itu mengucapkan terima kasih kepada Plaza Ambarrukmo yang telah membantu sejumlah Matras-Bantal-Selimut, Infra-Red Thermometer, Blood-Pressure tools, termos, dan APD (Alat Pelindung Diri), melengkapi kebutuhan sarana kesehatan, sehingga dapat menunjang untuk penanganan pandemic Covid-19 di Desa Tirtomartani dan Desa Tamanmartani.


Dokter Dini Trisharjanti, Kepala Puskesms Kalasan untuk wilayah Kapanewon Kalasan Kabupaten Sleman Ketika dikonfirmasi Impessa.id terkait perkembangan Zona Kapanewon Kalasan yang masih Merah, mengatakan bahwa perkembangan Covid-19 di Kapanewon Kalasan secara akumulasi dari awal pandemic yaitu pada bulan Maret 2020, sampai hari ini, Sabtu, 6 Maret 2021, total jumlah kasus untuk warga Kalasan sekitar 700-an untuk yang confirm, atau yang positip Covid-19.
“Kami melakukan kajian-kajian untuk mengatasi supaya Zona ini tidak Merah dan alhamdulillah sampai dua hari lalu, Kamis, 4 Maret 2021, Zona Covid-nya Kalasan sudah menjadi Oren (oranye). Pada Februari, kasus Covid secara kumulatif di kita ada sekitar 500-an, kemudian yang masih isolasi 170-an. Setelah melakukan cek-dan-recek dengan satgas Covid tingkat RT, Pedukuhan hingga Kelurahan, akhirnya kami mendapatkan informasi bahwa pasien-pasien yang tadi kami sebutkan 170-an masih aktif, akhirnya sudah terdeteksi dan sekarang kita yang masih aktif isolasi tinggal 60-an,” ungkap dokter Dini Trisharjanti.


Dua Kelurahan yang dihadirkan dalam penyerahan bantuan tersebut dikarenakan keduanya sudah memiliki shelter Covid, untuk warga di kelurahannya masing-masing, yang apabila terdeteksi positip Covid-19, dia tidak bergejala atau bergejala ringan, dan rumah tidak memenuhi untuk isolasi mandiri, maka yang bersangkutan diberi fasilitas dari pihak satgas Covid Kelurahan untuk bisa isolasi di shelter Covid yang tersedia.
“Untuk shelter Kelurahan Tirtomartani, terdiri dari lima kamar dengan Kamar Mandi diluar. Satu kamar bisa terdiri dari dua pasien yang masih satu keluarga, satu rumah. Jumlah pasien yang ada di shelter ini sembilan orang, menempati kelima kamar tersebut, sehingga kamar shelternya sudah penuh,” tutur dokter Dini.


“Kemudian untuk shelter Covid-nya Kelurahan Tamanmartani, terdiri dari tujuh kamar, yang baru saja di launching akhir Februari 2021. Jadi sudah di setting, masing-masing kamar itu satu bed dan Kamar Mandi didalam,” imbuhnya lebih lanjut
Dokter Dini yang memimpin Puskesmas Kapanewon Kalasan dengan tenaga medis plus non-medis total 100-an orang, dengan tenaga Kesehatan murninya berjumlah 40-an, senantiasa memberikan motivasi kepada seluruh petugas, “Kalian adalah tenaga medis yang tahu persis Covid-19, Tahu persis penularan Covid-19 itu seperti apa, Tahu persis bagaimana mencegah Covid-19 itu, Tahu persis APD yang mana kalian harus pakai, APD Level 1, APD Level 2 atau APD Level 3. Jadi yakinlah, yakinlah dengan itu. Kalau semua tenaga medis sudah yakin dengan itu, penularannya itu hanya lewat hidung dan mulut, kemudian kita harus cuci tangan pakai sabun dengan air mengalir, jaga jarak, itu sudah cukup untuk memutus rantai penularan. Apalagi ditambah tidak ada kerumunan, mengurangi mobilitas, itu yang kami masih terus sampaikan kepada masyarakat karena masih adanya ketakutan-ketakutan. Pegang bahwa virus ini akan menular kurang dari satu-setengah meter, kalau bisa menjaga jarak lebih dari itu insya Allah sudah aman.,” pesannya.

Menurut dokter Dini, ada hal yang tampak sepele namun sering tanpa sengaja kita lakukan yaitu tangan kita secara reflek pegang mata, garuk-garuk hidung dan pegang mulut, sekarang kendalikan instruksi tersebut adalah instruksi yang ada dibawah kesadaran kita, sehingga sebelum tangan itu menyentuh mata, hidung dan mulut, cuci tanganlah terlebih dahulu pakai sabun atau dengan hand-sanitizer.
Sementara itu, Galuh selaku Bidan Desa Tirtomartani kepada Impessa.id menuturkan tantangan saat dirinya bersama tim tracing dan tracking melayani pasien hanya melalui WA dan telpon, karena tidak boleh kunjungan rumah langsung ke pasien. “Tantangan komunikasi tidak langsung, terkendala dari sisi pasien yang tidak melek teknologi sehingga perlu orang lain sebagai nara hubungnya, dan masih belum open-minded terkait dengan Covid sebagai penyakit yang tidak seharusnya dikucilkan. Isolasi Mandiri perlu banyak dukungan baik dari segi pendanaan untuk kebutuhan logistiknya, dari sisi psikologi juga harus dikuatkan oleh warga sekitar,” akunya. Senada dengan hal itu, Bekti Susanto selaku Carik Tirtomartani dan Tomi Nugraha selaku Carik Tamanmartani, sepakat hendaknya warga masyarakat tidak mengucilkan jika ada warganya yang positip Covid-19. (Antok Wesman-Impessa.id)

