Feature

Merayakan HUT 75 RI, Komunitas Pesepeda Black Sangit Gelar Touring 850 Kilometer Bekasi-Jogja

Merayakan HUT 75 RI, Komunitas Pesepeda Black Sangit Gelar Touring 850 Kilometer Bekasi-Jogja

Peserta Touring Black Sangit 850 Kilometer Bekasi-Jogja, saat memasuki halaman Grand Inna Malioboro Yogyakarta, Jumat, 21 Agustus 2020.

Impessa.id, Yogyakarta: Begitu sinyal Lampu Hijau menyala, maka berbondong-bondonglah wisatawan domestik pada khususnya, ke Jogja, tampak dipenuhinya jalanan Kota Yogyakarta dengan mobil-mobil ber-plat non-AB, demikian halnya hotel-hotel mulai diserbu terlihat dari penuh sesaknya kendaraan di areal parkir perhotelan. Tak ketinggalan Komunitas Pesepeda Nasional yang bermarkas di Bekasi bernama “Black Sangit” lantas mengarahkan Touring mereka ke Yogyakarta. Tak dinyana 32 pesepeda, dua diantaranya wanita usia 54 dan 58 tahun, semua berhasil masuk Jogja dengan selamat, setelah menempuh perjalanan selama tujuh hari, dengan rute melintasi berbagai destinasi wisata baik pegunungan, pantai maupun pedesaan.

Black Sangit bermakna kulit yang terbakar matahari karena seringnya bersepeda, merupakan Komunitas Pesepeda dari berbagai profesi, berusia 45 sampai 74 tahun, tetap bersemangat untuk mengayuh sepeda mengarungi keindahan alam Nusantara secara mandiri tanpa pengawalan siapapun. Lantas apa tujuan mereka menggelar Touring hingga ke Yogyakarta, berikut bincang-bincang Impessa.id dengan empat personil di Hotel Grand Inna Malioboro Yogyakarta, Sabtu (22/8/2020).

Sundarto Yoso (Pak Sun) didampingi Sugeng Prayitno, Sasmita dan Antonius Suhardi, mewakili peserta Touring menuturkan, “Black Sangit menggelar event Touring dari Bekasi menuju Jogja, sebagai event kami yang sudah ke-enam kalinya, pesertanya dari berbagai komunitas, diantaranya dari Baghasasi, KGS (Koloni Gowes Sakgeleme), Romli (Rombongan Liar) dan Lalagon. Black Sangit, di setiap Bulan Agustus, menyelenggarakan Touring untuk ikut memeriahkan Kemerdekaan Republik Indonesia dengan adventure melintasi rute-rute cross country guna menghindari keramaian jalan, dan untuk tahun 2020, kami menentukan Jogja sebagai target tujuan,” tutur Pak Sun.

Tur de Jawa, demikian mereka menjuluki event Touring tersebut mengambil rute start dari Bekasi menuju Tangerang, Serang, Cilegon, Anyer, Carita, Teluk Tanjung Lesung, Maliping, Bayak, Pelabuhan Ratu, Pangandaran, Logending, Jogja. Rute itu keliling pantai, jauhnya sekitar 850 Kilometer.

“Rute terberat yakni saat dari Bayak menuju Pelabuhan Ratu, medannya didominasi oleh tanjakan miring, start jam 7.30 pagi sampai di puncak Habibie jam 11.30 malam, kami beristirahat sambil bermalam di suatu masjid. Pagi pukul 6 kami start melanjutkan perjalanan, nah dikala memasuki Kawasan Cisolok, jalanan berbelok menurun, sepeda saya tak terkendali, tangan serasa kram tak bisa untuk nge-rem, saya terjatuh masuk got, tapi alhamdulillah, begitu tahu badan dan sepeda tetap utuh, saya langsung sujud syukur,” ungkap Pak Sun.

Peserta Touring Black Sangit Tur de Jawa 2020 Bekasi-Jogja, mentargetkan jelajah rata-rata100 Kilometer per-harinya, tergantung kontur medan, dengan kecepatan sekitar 20-30 Km/Jam. “Kalau pas di tanjakan, kami tetap diatas sepeda dengan memainkan gigi persneling, sebab jika kami turun dan menuntun sepeda malah akan terasa berat dan lebih menguras energi, sehingga cepat lelah,” aku Pak Sun.

Pak Sun (62 tahun) dan ke-tiga kawannya menaiki sepeda alloy ber-endurance tinggi dilengkapi box berisi perlengkapan termasuk First-Aid box, spare-parts ada sambungan rantai dan sebagainya, dan Tool-Kit peralatan bengkel praktis. Sepeda seluruh peserta telah dilengkapi berbagai asesories pengaman, seperti Lampu Kedip, Hazard, Lampu Merah depan-belakang, Bel atau Klakson serta Bendera Merah-Putih penanda identitas tim. “Selama perjalanan dari Bekasi sampai Jogja, alhamdulillah ban sepeda kami semuanya utuh, tidak ada yang harus diganti,” imbuh Pak Sun.

Kiat menjaga stamina bagi pesepeda agar tetap prima meski usia semakin senja, Pak Sun mengungkapkannya kepada Impessa.id. “Saya pribadi setiap hari mentargetkan bersepeda sejauh 30 kilometer, demikian pula halnya yang dilakukan teman-teman bahkan ada teman yang targetnya 50 kilometer per-harinya, terlebih untuk mempersiapkan diri mengikuti Touring Bekasi-Jogja, tiga bulan sebelumnya kami rutin melakukan pemanasan tiap hari keliling areal hijau kawasan Pekayon, agar otot kaki dan tangan tidak kaget,” ujarnya.

“Kami ini adanya seneng dan seneng, karena disaat melintasi pantai, angin itu berhembus sangat kuat, sepeda-sepeda kami nyaris jatuh terkena terpaan angin pantai, kalau jatuh kan bisa tabrakan dengan teman yang melaju disamping maupun yang ada di belakang, cuaca tersebut menghambat kelancaran laju sepeda kami, itu tantangan tersendiri bagi pesepeda, menyenangkan juga sih,” papar Pak Sun.

Di perjalanan, solidaritas antar-teman terjaga kuat, jika ada pesepeda yang terpisah tertinggal jauh dibelakang, maka teman terdekat akan menunggu dengan batas toleransi waktu 10 menit, sehingga kembali berkumpul dalam satu rombongan menyamakan irama formasi kayuhan, yang ternyata mampu memecahkan tekanan beban dari depan, ibarat rombongan burung Bangau yang terbang membentuk formasi anak panah, yang mampu meringankan tekanan bagi anggota yang ada dibelakangnya.

Jika sampai di spot-spot yang indah-menawan, mereka pun mengabadikan momen yang ada, bahkan ada peserta yang membuat vlog dan mempublishnya ke YouTube, nah gara-gara vlog yang ditayangkan tersebut Komisaris PT Hotel Indonesia Natour (Persero) Toni Zulkarnaen tertarik dan lantas menawarkan pihak manajemen hotel Grand Inna Malioboro Yogyakarta untuk memfalisitasi rombongan gowes tersebut, hal itu terungkap Ketika General Manager Grand Inna Malioboro Ni Komang Darmiati  mengungkapkannya kepada wartawan.

“Betul sekali, kami mengapresiasi, kami merasa senang dan terhormat, menerima kedatangan peserta Gowes Bekasi-Jogja dalam memeriahkan HUT ke-75 Proklamasi Kemerdekaan RI, dan Pak Sun beserta tiga perwakilan dari peserta bisa hadir dan berbincang-bincang tentang keseruan kisah perjalanan luarbiasa oleh para pesepeda senior-berpengalaman di beragam arena touring skala lokal-nasional bahkan internasional ini,” tutur GM Grand Inna Malioboro Ni Komang Darmiati yang didampingi Retno Kusuma selaku Public Relations Manager.

Grand Inna Malioboro Yogyakarta kini mempunyai tempat parkir khusus sepeda “mahal” yang dibawa tamu yang menginap, mengingat semakin membudayanya bersepeda di semua kalangan memasuki tatanan baru ini.

Pak Sun dan ketiga temannya mengakui meskipun relatif, dipastikan setiap pesepeda peserta gowes touring Bekasi-Jogja yang telah dilengkapi dengan safety tool, helmet, kacamata pelindung, masker, sarung tangan, juga membawa bekal sangu antara 2,5-3 juta rupiah. Pesan Pak Sun mewakili pesepeda senior lainnya kepada anak muda bangsa, hendaklah berani merubah mind-set, berani bergerak, jangan melulu main game di kamar, gabung dengan anak muda lainnya yang mulai gemar bersepeda, bersosialisasi sambil menikmati keindahan alam Indonesia yang luarbiasa eloknya tiada duanya di muka bumi ini.

“Ada teman saya goweser yang telah melanglang buana menceritakan bahwa panorama alam Nusantara memang tak tertandingi, semisal promosi wisata di Thailand ternyata bukan apa-apanya jika dibandingkan dengan yang ada di Indonesia, berita bagus ini perlu terus disebarluaskan sehingga pesan wonderful Indonesia semakin mendunia,” pungkas Pak Sun. (Feature Impessa.id by Antok Wesman)