Event

Hadirkan Penterjemah Tuna Rungu, UAJY Menuju Kampus Inklusif

Hadirkan Penterjemah Tuna Rungu, UAJY Menuju Kampus Inklusif

Hadirkan Penterjemah Tuna Rungu, UAJY Menuju Kampus Inklusif

Impessa.id, Yogyakarta : Ada yang menarik saat digelar Seminar Umum bertemakan “Menyuarakan Dunia Sunyi, Pentingnya Kampus Inklusif  Bagi Tuli Di UAJY” yang berlangsung Jumat (17/5/2019), di Ruang Audiovisual Gedung Thomas Aquinas Universitas Atma Jaya Yogyakarta, atas gagasan salah satu mahasiswa Penyandang Disabilitas.

Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik Universitas Atma Jaya Yogyakarta (FISIP UAJY) menyelenggarakan Seminar Umum yang digagas oleh salah satu mahasiswa Tuna Rungu dari Program Studi Sosiologi FISIP UAJY, Davi Muchlisin, dengan mengundang publik untuk hadir, termasuk beberapa penyandang Tuna Rungu dari Yogyakarta.

Interpreter atau penerjemah disediakan pihak panitia seminar untuk memfasilitasi para hadirin yang tuna rungu. didatangkan dari Komunitas Relawan Tuli Yogyakarta. Kehadiran interpreter tersebut membuat mereka peserta seminar dari penyandang Tuna Rungu begitu antusias bergabung.

“Tingginya entusiasme para penyandang Tuna Rungu mengikuti seminar dikarenakan selama ini boleh dikata jarang ada kampus yang menggelar seminar dengan menyediakan interpreter. Agenda ini sebagai salah satu bentuk usaha UAJY menuju Kampus Inklusif,” ujar Trifosha Adi Wiyono, selaku Wakil Ketua penyelenggara Seminar Tuli FISIP UAJY 2019.

Beberapa pembicara sebagai narasumber masing-masing, Phieter Angdika selaku Peneliti Junior Laboratorium Riset Bahasa Isyarat (LRBI) dan Ketua Gerakan untuk Kesejahteraan Tunarungu Indonesia (Gerkatin) Kepemudaan, kemudian Gustian Hafidh selaku peserta kajian tuli LRBI dan aktivis tuli. Hadir pula Ro’fah., MA., PhD selaku pendiri Pusat Layanan Difabel (PLD) sekaligus dosen UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta, serta Pupung Arifin, M.Si, Wakil Rektor III UAJY hadir sebagai moderator.

“Pergerakan menuju kampus inklusif ini sangat baik adanya, terutama Atma Jaya yang berinisiatif memulai ketika kampus yang lain belum begitu tergerak untuk menjadi kampus yang inklusif bagi penyandang disabilitas. Ini yang patut kita bangun, kesadaran akan inklusif yang tidak datang hanya dari pemerintah semata melalui fasilitas umum dan lainnya, tetapi juga dari akademik, pengajaran yang terbuka untuk disabilitas,” ujar Ro’fah dalam pembahasan materinya. (Rebekka/Antok)