Event

Pesta Panen Wiwitan Sanggar Anak Alam Yogyakarta, Selasa, 23 April 2019 Pukul 14.00 WIB

Pesta Panen Wiwitan Sanggar Anak Alam Yogyakarta, Selasa, 23 April 2019 Pukul 14.00 WIB

Pesta Panen Wiwitan Sanggar Anak Alam Yogyakarta, Selasa, 23 April 2019 Pukul 14.00 WIB

Impessa.id, Bantul : Ada nuansa beda di sekitar sekolah Sanggar Anak Alam -SALAM, Nitiprayan, Ngestiharjo, Kasihan Bantul, Yogyakarta. Dewi Sri, julukan untuk padi, dan iring-iringannya menampakkan diri di pematang sawah disekitar sekolah. Untaian bulir-bulir padi telah menunduk, menguning, pertanda siap dituai. Tari-tarian ditampilkan, Gending dan Tetabuhan bertalu, serta doa dipanjatkan.

Adegan itu dapat disaksikan dalam acara tradisi panen perdana padi disebut dengan Upacara Wiwitan, dirayakan oleh seluruh warga SALAM dan masyarakat setempat pada Selasa, 23 April 2019, mulai pukul 14.00 WIB. Wiwitan atau Wiwit  adalah  tradisi turun temurun masyarakat Jawa, sebagai bentuk ungkapan rasa syukur atas panen hasil bumi. Adapun tokoh Dewi Sri yang diperankan, merupakan perlambang Dewi Kesuburan. 

Tokoh pendidik sekaligus pendiri SALAM Yogyakarta, Toto Rahardjo menjelaskan, secara batiniah, filosofi tradisi Wiwit adalah menjaga hubungan manusia dengan yang Maha Kuasa, Sang Pemberi Kehidupan, melalui kekayaan alam nan melimpah yang semestinya diolah dengan tata kelola yang benar. Sedangkan secara lahiriah "wiwit" diartikan sebagai penjaga ketahanan pangan melalui budidaya petani, dalam mengolah lahan pertaniannya. Sejatinya wiwit adalah mengambil padi yang sudah tua, untuk disimpan dan kelak digunakan sebagai benih di masa tanam yang akan datang.

“Wiwit merupakan kearifan lokal yang memiliki nilai-nilai luhur budaya bangsa karena sarat dengan ajaran tentang keseimbangan hidup antara manusia dengan alam,” ujar Toto.

Perayaan Wiwitan atau pesta panen tersebut, merupakan kerja bersama antara SALAM, forum orang tua SALAM -FOR SALAM, warga Nitiprayan, Gabungan Kelompok Tani (Gapoktan) Suka Tani dan didukung oleh Dinas Kebudayaan Kabupaten Bantul. Tradisi setiap dua tahunan itu digelar oleh SALAM sejak 2009, dimeriahkan dengan kirab keliling kampung melibatkan warga SALAM (siswa dan ortu) kerabat SALAM dan warga sekitar. Dilanjutkan dengan penyerahan bibit padi dan rebutan gunungan.

Ketua panitia penyelenggara Wiwitan 2019, Budi Widanarko berharap seluruh rangkaian acara dapat memberi manfaat kepada semua pihak. Selain menjadi upaya pelestarian budaya, juga diharapkan mampu menumbuhkan kesadaran untuk menjaga dan merawat lingkungan. Pesta panen Wiwitan juga diramaikan dengan rangkaian kegiatan, diantaranya, Workshop “Jajan dengan Bijak” selama dua hari, pada 15-16 April 2019. 

Workshop diikuti seluruh orang tua dan siswa SALAM menghadirkan pembicara Puji Heru Sulistiyono, Inovator Reaktor Cacing, dan TTG Pengolahan Sampah Basah dari Lembaga Pendidikan Pelatihan Penelitian dan Pengelolaan Lingkungan Hidup -LP4LH Berbah, Sleman Yogyakarta, serta tim dari Jogja Resik. 

Rangkaian acara pesta Panen Wiwitan dipungkasi pada 2 Mei 2019 dengan menggelar Pasar Pangan yang mengusung tema “Makanan Olahan Lokal Minim Gandum, Tanpa Pengawet, Tanpa Pemanis Buatan, Tanpa Pewarna dan Meminimalisir Plastik”. Di sela-sela transaksi jual beli, digelar panggung ekspresi menampilkan Bandana’s band yang beranggotakan para siswa SALAM. 

SALAM berdiri pada 1988 di Desa Lawen, Kecamatan Pandanarum, Banjarnegara. Pada 20 Juni 2000, SALAM dihidupkan lagi oleh pasangan Sri Wahyaningsih dan Toto Rahardjo, di Kampung Nitiprayan, Kelurahan Ngestiharjo, Bantul, Yogyakarta, hingga kini. SALAM merupakan laboratorium ”Sekolah Kehidupan” yang menitikberatkan proses belajar pada kebutuhan dasar manusia yakni; Pangan, Kesehatan, Lingkungan dan Sosial Budaya, sebagai perspektif yang dikembangkan dalam proses pembelajaran sehari-hari. (Reren/Antok)