Forum Komunikasi Museum Bantul Peringati HARI MUSEUM DUNIA 2026: Membangun Sejarah Peradaban Lewat Museum
Forum Komunikasi Museum Bantul Peringati HARI MUSEUM DUNIA 2026: Membangun Sejarah Peradaban Lewat Museum
Impessa.id, Yogyakarta, Indonesia, Mei 2026: Museum kini tak lagi bisa dipandang sebelah mata. Di tengah perkembangan teknologi dan perubahan gaya hidup masyarakat, museum justru dituntut menjadi ruang hidup yang aktif, terbuka, dan dekat dengan publik. Semangat itulah yang terasa kuat dalam peringatan Hari Museum Internasional 2026 yang digelar Forum Komunikasi Museum Bantul -FKMB, yang menjadi bagian dari Badan Musyawarah Musea -BARAHMUS DIY.
Mengusung tema “Museum Menyatukan Dunia yang Terpecah” (Museum Uniting a Divided World), acara yang berlangsung di Andi Bayou Museum dan Galeri Musik, di jalan Sejahtera, Green Garden, Sumberan, Ngestiharjo, Kasihan, Bantul, Selasa (18/5), menjadi momentum penting bagi para pengelola museum, pegiat budaya, akademisi, hingga komunitas sejarah untuk duduk bersama membicarakan masa depan museum di Yogyakarta.
Bukan sekadar acara seremonial tahunan, forum ini berubah menjadi ruang diskusi yang hangat sekaligus penuh gagasan segar. Sebanyak 17 museum anggota BARAHMUS DIY wilayah Bantul ikut terlibat dalam forum tersebut. Mereka berbagi pengalaman, membangun jejaring, hingga membahas bagaimana komunitas dan pengelola museum di Bantul bisa semakin relevan di tengah masyarakat modern.

Suasana acara pun dibuat lebih cair dan akrab. Dengan adanya talkshow yang dipandu dan dimoderatori oleh Joana Zettira, M.Sc., bersama sejumlah narasumber, seperti Kustap, S.Sn., M.Sn., Kaprodi Musik, FSP – ISI Yogyakarta, Fajar Wijanarko, S.S., Praktisi Museum DIY, dan Andi Haryo Setiawan, S.H., M.H., selaku pemilik Andi Bayou Museum dan Galeri Musik. Forum silaturahmi ini, juga dimeriahkan penampilan Marcella Dee, finalis X Factor Indonesia 2021, bersama kibordis Hastono yang membawakan lagu dari pentas musikal Java War dan Ilir-Ilir. Sentuhan musik itu membuat suasana museum terasa lebih hidup dan jauh dari kesan kaku.
Dalam sambutannya yang diwakili Sekretaris Dinas Kundha Kabudayan Bantul, Sarjiman, S.I.P., M.E., Kepala Dinas Kundha Kabudayan Bantul, Yanatun Yunadiana, S.Si., M.Si., menyampaikan apresiasi dan rasa terimakasih kepada seluruh pihak yang telah mendukung acara ini. Mengingat museum memiliki posisi penting dalam menjaga keberlanjutan sejarah dan budaya daerah. Untuk itu, sebagai perwakilan dari pemerintah daerah ia berharap forum seperti ini dapat memperkuat ekosistem permuseuman sekaligus melahirkan inovasi baru bagi pengembangan museum di DIY.
Ketua FKMB, Gatot Nugroho, S.Pd., menegaskan bahwa museum hari ini harus mampu bertransformasi. Menurutnya, generasi muda harus dikenalkan dengan museum sejak dini. Mengingat museum bukan lagi sekadar tempat penyimpanan benda bersejarah, tetapi juga ruang belajar, ruang dialog, dan ruang membangun identitas budaya masyarakat.

“Untuk itu, kini bersama BARAHMUS DIY juga mulai mendorong lahirnya regulasi daerah yang lebih serius dalam mendukung pengembangan museum melalui Komisi D, DPRD DIY. Langkah tersebut dinilai penting agar museum memiliki posisi yang lebih kuat dalam pembangunan kebudayaan daerah, melalui Perda Museum DIY,” tandas Wakil Ketua BARAHMUS DIY yang juga menjadi Kepala Museum Jenderal Besar, HM. Soeharto itu.
Pandangan serupa juga disampaikan Penasehat FKMB dan BARAHMUS DIY, Drs. Budiharja, M.M. Ia menilai pengelolaan museum ke depan harus lebih kreatif dan inovatif agar mampu menjangkau masyarakat luas. “Bantul punya kekayaan sejarah dan budaya yang luar biasa. Potensi ini harus dirawat bersama lewat museum yang aktif, edukatif, dan menarik,” katanya.
Sementara itu, Kepala Bidang Sejarah, Permuseuman, Bahasa dan Sastra Kundha Kabudayan Bantul, Purwanto, S.Pd., M.Si., menyebut museum memiliki peluang besar menjadi pusat interaksi budaya masyarakat. Tidak hanya sebagai tempat belajar sejarah, tetapi juga ruang bertemu, berdiskusi, hingga membangun kesadaran budaya bersama.

Salah satu gagasan menarik yang muncul dalam forum datang dari Pengelola Museum dan Galeri Keris Sanggar Keris Mataram -SKM Yogyakarta, Ki Arya Pandhu. Ia mendorong agar museum bisa ikut dilibatkan dalam Kurikulum Pendidikan Khas Ke-Jogja-an -PKK yang baru diluncurkan Pemda DIY.
Menurutnya, museum bisa menjadi sarana belajar yang lebih nyata dan dekat bagi generasi muda. Selain itu, ia juga menyoroti pentingnya peningkatan kualitas sumber daya manusia museum melalui adanya bantuan sertifikasi uji kompetensi profesi dari pemerintah pusat lewat Direktorat Sejarah dan Permuseuman Kementerian Kebudayaan RI. Melalui LSP-P2 Kebudayaan Kementerian Kebudayaan RI bagi tenaga profesional museum, mulai dari edukator, kurator, registrator, konservator, penata pameran hingga humas dan marketing museum.
“Museum masa kini harus inklusif, menarik, dan relevan dengan kehidupan masyarakat. Museum tidak hanya menjaga benda sejarah, tetapi juga membangun kesadaran budaya, keterlibatan publik dan rasa memiliki terhadap sejarah peradaban bersama,” ungkap Praktisi Keris dari Serikat Nasional Pelestari Tosan Ajin Nusantara –SENAPATI NUSANTARA itu memberi pesan.

Peringatan Hari Museum Internasional 2026 di Bantul akhirnya memperlihatkan satu hal penting: museum sedang bergerak menuju wajah baru. Tidak lagi eksklusif dan jauh dari masyarakat, tetapi hadir sebagai ruang publik yang hidup, kreatif, dan berdaya. Di tengah dunia yang semakin cepat berubah, museum justru bisa menjadi tempat untuk kembali memahami akar sejarah, budaya, dan identitas bersama. (Ki Arya Pandhu/Antok Wesman-Impessa.id)
