KEMUNING KEMBAR Gelar Sarasehan Nasional RESILIENSI BERBASIS BUDAYA: Kesehatan Mental, Pendidikan, dan Pembentukan Karakter Untuk Menjawab Tantangan Zaman
KEMUNING KEMBAR Gelar Sarasehan Nasional RESILIENSI BERBASIS BUDAYA: Kesehatan Mental, Pendidikan, dan Pembentukan Karakter Untuk Menjawab Tantangan Zaman
Impessa.id, Yogyakarta, Indonesia, April 2026: Pusat Pengembangan Diri dan Komunitas Kemuning Kembar Prawara Witatama Yogyakarta menggelar sarasehan nasional Resiliensi Berbasis Budaya: Kesehatan Mental, Pendidikan, dan Pembentukan Karakter Untuk Menjawab Tantangan Zaman, bertempat di Taman Budaya Embung Giwangan Yogyakarta, pada 2-3 Mei 2026.
Sarasehan nasional tersebut mencakup enam panel utama, masing-masing;
1. Menjawab Tantangan Zaman: Budaya, Pendidikan, dan Pembentukan Karakter Nyawiji, Greget, Sengguh lan Ora Mingkuh, yang dibahas oleh Ruby Chaerani Syiffadia B.A (Hons)., MSc; (Anggota DPR RI komisi X), Gusti Kanjeng Ratu Hayu (Penghageng Tepas Tandha Yekti, Keraton Ngayogyakarta Hadiningrat) dan Dr. Indria Laksmi Gamayanti., M.Si., Psikolog Klinis (Pendiri Kemuning Kembar)

2. Langen Carita: Menumbuhkan Kemampuan Memahami Nilai, Moral, dan Makna Kehidupan Melalui Narasi dan Simbol, yang akan dibahas oleh Tri Yuliyanti Setyasari, S.Sn., M.Pd.,Gr (Praktisi Budaya) dan Intan Kusuma Wardani, M.Psi., Psikolog (Psikolog Klinis)
3. Tari: Mengembangkan Kesadaran Diri, Disiplin Koordinasi Gerak, Serta Regulasi Emosi, yang akan dibahas oleh Kinanti Sekar Rahina., M.Sn (Praktisi Budaya dan Pendiri Sanggar Seni Kinanti Sekar) dan Anggiastri Hanantyasari Utami.,M.Psi., Psikolog (Psikolog Klinis)

4. Pengalaman Masa Kecil & Pembentukan Diri: Menyadari Jejak Kecil Dapat Berdampak Besar, dan Mempengaruhi Perkembangan Anak Menjadi Tangguh atau Rapuh, yang akan dibahas oleh dr. Santi Yuliani, M.Sc., Sp.KJ (Pakar Kesehatan Jiwa), Retno Utari, M.Psi., Psikolog (Psikolog Klinis) dan Dian Nugrahati, M.Psi., Psikolog (Psikolog Klinis)
5. Tembang dan Dongeng: Menstimulasi Kemampuan Bahasa, Memori, dan Kepekaan Rasa, yang akan dibahas oleh Paksi Raras Alit (Praktisi Budaya) dan Dra. Tika Bisono, M.Psi., Psikolog (Psikolog)

6. Dolanan Tradisional: Melatih Kemampuan Sensori-Motorik, Kerja Sama, Empati, serta Keterampilan Memecahkan Masalah bersama Irma Restyana, S.Psi (Praktisi Budaya dan Fasilitator Museum Kolong Tangga) serta Ni Luh Putu Utari Mayadevi, M.Psi.,Psikolog (Psikolog Pendidikan).
Dr. Indria Laksmi Gamayanti selaku pendiri Kemuning Kembar menuturkan, peran penting budaya terhadap proses pendidikan dan pengasuhan dalam hal ini Budaya Nusantara sejatinya menyediakan perangkat pendidikan dan pengasuhan yang komprehensif melalui seni tradisi dan praktik keseharian.

“Dalam konteks budaya Jawa, nilai-nilai seperti asah–asih–asuh, andhap asor, dan ngemong rasane bocah bukan hanya ajaran normatif, tetapi juga prinsip relasional yang mendukung empati, regulasi emosi, serta keharmonisan sosial dalam keluarga. Nilai-nilai ini memiliki potensi besar sebagai sumber daya kultural dalam membangun resiliensi berbasis budaya,” ujar Dr Gamayanti.
Sarasehan Nasional bertema “Resiliensi Berbasis Budaya: Kesehatan Mental, Pendidikan, dan Pembentukan Karakter untuk Menjawab Tantangan Zaman” diselenggarakan sebagai ruang dialog ilmiah dan reflektif untuk meninjau kembali peran budaya dalam memperkuat kesehatan mental, ketahanan keluarga, dan pendidikan karakter. Forum ini diharapkan menjadi wadah pertemuan antara akademisi, praktisi pendidikan, psikolog, budayawan, dan pemangku kebijakan guna merumuskan strategi pengembangan Pendidikan dan pengasuhan yang adaptif, kontekstual, dan berkelanjutan.

Tujuan umum yaitu mendorong pemahaman dan penguatan praktik pendidikan serta pengasuhan berbasis budaya sebagai fondasi kesejahteraan psikologis dan pembentukan karakter dalam menghadapi tantangan zaman.
Kegiatan itu sekaligus menjadi bagian dari rangkaian 20 tahun berdirinya Pusat Pengembangan Diri dan Komunitas -PPDK Kemuning Kembar, yang sejak awal bergerak dalam pelayanan psikologi, pendidikan, kesehatan, dan budaya. Sekaligus pendirian Pusat Kajian dan Pendidikan Anak–Keluarga Berbasis Budaya “Omah Perden” sebagai ruang pengembangan keilmuan dan praksis reflektif.

Dengan semangat nyawiji, greget, sengguh lan ora mingkuh, Pendidikan dan pengasuhan diharapkan mampu menumbuhkan keseimbangan antara akal, rasa, dan laku—mewujudkan manusia yang waskita ing budi, wening ing rasa, lan kukuh ing tumindak. Dari ruang-ruang keluarga dan sekolah yang hangat, semoga tumbuh peradaban yang ayem, adiluhung, dan berkelanjutan bagi generasi mendatang. (Feature of Impessa.id by Vinia Prima-Antok Wesman-Impessa.id)
