AFIF SYAKUR, Maestro Pembatik Mengenalkan Batik Tulis Premium Dalam Pameran Bertajuk BATIKKU TIGA NEGERI
AFIF SYAKUR, Maestro Pembatik Mengenalkan Batik Tulis Premium Dalam Pameran Bertajuk BATIKKU TIGA NEGERI
Impessa.id, Yogyakarta, Indonesia, Desember 2025: Batik tulis spektakuler terkini karya Maestro Pembatik AFIF SYAKUR – Yogyakarta, Indonesia, terungkap dalam pameran Pameran Batik dan Peluncuran Buku berjudul “BATIKKU TIGA NEGERI”, di Gedung PDIN –Pusat Disain Industri Nasional, Jl. C. Simanjutak No. 19 Yogyakarta, pada 2-7 Desember 2025.
Dalam penjelasannya kepada awak media Selasa (2/12/2025) jelang pameran berlangsung, Afif Syakur menuturkan bahwa Tiga Negeri, merupakan kolaborasi kreativitas para perajin batik dari tiga daerah yakni, Lasem, Pekalongan, dan Solo-Yogyakarta, yang menampilkan keragaman budaya wastra Nusantara.
“Sejak lama di tahun 1870-an, jenis batik ini telah diproduksi melalui serangkaian proses pewarnaan yang Panjang, di tiga kota, merah di Lasem, biru di Pekalongan, dan cokelat di Solo-Yogyakarta. Hasilnya berupa selembar kain cantik yang menampilkan corak ‘abang-getih-pitik’ atau merah darah ayam, kemudian biru indigo dan cokelat soga, dengan perpaduan ragam motif khas masing-masing daerah,” ungkap Afif Syakur.
Afif Syakur lebaih lanjut menjelaskan, proses pewarnaan Batik Tiga Negeri dimulai di Lasem, dengan motif utama berupa Buketan Oriental seperti bunga Anyelir atau Teluki, dan kadang dikembangkan dengan motif pagi-sore, selanjutnya motif fauna khas peranakan seperti Burung Hong atau Phoenix, Ayam Hutan, Naga, sering juga ditampilkan.
“Bang-bangan Lasem, abang berarti merah, Adalah kain yang baru diberi pola dasar dan dicelup warna merahpada sebagian motifnya. Warna merah darah ayam atau abang getih pitik, berasal dari ekstraksi akar mengkudu dan akar jeruk, dipadukan dengan air Lasem yang memiliki kandungan mineral khas, sehingga tidak dapat ditiru cara pembuatannya. Sehingga banyak opembatik dari daerah lain semisal, Pekalongan, Surakarta, Yogyakarta, Semarang, dan Cirebon, mencari kain blanko bang-bangan Lasem, untuk di isi dengan ragam hias dan warna lain di bagian badan maupun latarnya,” jelasn pembatik yang telah menekuni profesi membatik lebih dari tiga dekade itu.
“Bang-bangan Lasem tersebut oleh pembatik Pekalongan ditambahi motif lain pada bagian latarnya seperti Bunga Lili dan Bunga Tulip, lalu dicelup dengan warna biru indigo dari tanaman Indigofera, sehingga menghasilkan kain bang-biron atau biru-merah. Sedangkan untuk pencelupan warna soga atau cokelat, bang-bangan Lasem itu dikirim ke Jogja atau Solo, maka seluruh proses pembatikan yang melibatkan tiga daerah itu selesai dilakukan,” imbuh Afif Syakur.

Bagi Sang Maestro Afif Syakur, Batik Tiga Negeri merupakan batik yang Istimewa, sebuah mahakarya yang menjadi unggulan di berbagai daerah. Batik Tiga Negeri bernilai tinggi mengingat proses produksinya unik dan pengerjaannya memerlukan waktu lama, sehingga warisan berharga ini perlu digali, dipelajari dan dikembangkan, sehingga dapat dinikmati oleh masyarakat luas.
Pameran “BATIKKU TIGA NEGERI” oleh Afif Syakur merupakan tonggak pencapaian tersendiri baginya bahwa dirinya dapat mengangkat kembali Batik Tiga Negeri, sekaligus mampu membuat karya seperti halnya para pembatik terdahulu, patut diapresiasi.
“Mari kita gali kekayaan karya para pendahulu, eksplorasi konsep mereka, lantas dielaborasikan dengan konsep kekinian untuk menciptakan karya-karya baru, sehingga batik tidak hanya tentang masa lalu, tetapi juga masa kini, dan masa yang akan datang,” tutur Afif Syakur.
Melalui pameran “BATIKKU TIGA NEGERI” Afif Syakur menunjukkan bahwa Batik Tiga Negeri merupakan karya seni, bukan hanya selembar kain kerajinan tangan, ataupun komoditas dagang, dan dengan begitu Afif Syakur mengajak masyarakat melihat batik dari kacamata seni. Sehingga sudah semestinya karya batik dapat turut mewarnai perkembangan seni rupa Tanah Air, alhasil apresian batik juga datang dari kalangan masyarakat seni.


Sebanyak 20 ragam motif Batik Tiga Negeri berupa lembaran kain dan selendang batik premium digelar diantaranya, motif “Satria Wibawa”, motif batik yang sarat dengan nilai-nilai kesatria, kebijaksanaan dan kepemimpinana yang berwibawa. Satria berarti seseorang yang gagah berani, setia pada kebenaran, dan menjunjung tinggi keadilan. Wibawa artinya charisma atau pengaruh yang dimiliki oleh seseorang karena sikap, tindakan, dan integritasnya.


Motif “Sengkang Kencana”, motif batik yang sarat makna simbolik. Sengkang berarti penghubung atau penjaga batas, secara visual bisa berarti ornament pengikat pola utama. Sedangkan Kencana berarti emas, sering menjadi symbol kemuliaan dan kejayaan. Motif ini memadukan bentuk geometris teratur atau Sengkang, dan warna emas simbolis atau Kencana, sebagai pesan akan kehidupan yang tertata, luhur, dan bernilai tinggi, baik secara budaya maupun spiritual.


Motif “Wirasat”, adalah salah satu motif batik klasik dari keraton Yogyakarta yang memiliki makna filosofis mendalam dan sakral. “Wirasat” berasal dari bahasa Jawa yang bermakna wasiat atau petuah, yaitu pesan moral atau nilai luhur yang diwariskan kepada keturunan. “Wirasat” melambangkan pesan-pesan hidup yang yang diturunkan dari orangtua kepada anak, atau dari leluhur kepada generasi berikutnya.


Motif “Kitiran”, adalah salah satu motif batik yang terinspirasi dari kincir angin kecil terbuat dari bambu atau kertas yang dalam Bahasa Jawa disebut “Kitiran”. Meski terkesan sederhana, motif ini sarat makna simbolis dan estetika yang kuat. “Kitiran” melambangkan energi kehidupan yang tidak diam, seperti roda yang gterus berputar, mengajakl kita untuk selalu semangat. Mencerminkan nilai-nilai positif, seperti adaptasi, keceriaan, dan dinamika zaman. Dalam dunia modern, motif ini mempunayi bentuk yang ceria dan penuh makna ringan namun menyentuh. (Feature of Impessa.id by Antok Wesman)
