Event

Pameran Seni Rupa Bertajuk Tandang Gawe, Kulon Progo Annual Art, 5-19 Nov 2022

Pameran Seni Rupa Bertajuk Tandang Gawe, Kulon Progo Annual Art, 5-19 Nov 2022

Pameran Seni Rupa Bertajuk Tandang Gawe, Kulon Progo Annual Art, 5-19 Nov 2022

Impessa.id, Yogyakarta: Pameran Seni Rupa Beratjuk “Tandang Gawe”, Kulon Progo Annual Art, berlangsung di Exhibition Hall Taman Budaya Kulon Progo Jl. Kawijo No.5, Pengasih, Kecamatan Wates, Kulon Progo, 5-19 Nov 2022.

Kurator Pameran Bambang Toko dan Arya Sucitra melalui rilis kepada Impessa.id menuturkan bahwa Tandang gawe adalah istilah dalam Bahasa Jawa yang berarti bekerja. Tema ini dipilih sebagai kelanjutan dari tema Kulon Progo Annual Art (KPAA) sebelumnya pada tahun 2021 yaitu ‘Gugah’.

Gugah dapat dimaknai sebagai bangunnya seni rupa Kulon Progo, atau mulai bangkitnya seni rupa Kulon Progo, dan tentunya harus dilanjutkan dalam event yang berkesinambungan. Tema ‘Tandang gawe’ juga dapat dikaitkan sebagai sebuah aktifitas positif setelah bangun/ bangkit. Tandang gawe tentu bermakna sangat luas.

Bekerja adalah aktifitas semua manusia, namun khusus bagi para perupa, ‘Tandang Gawe’ dapat diterjemahkan sebagai proses berkarya dan berpameran. Dalam artian, karya seni rupa yang dihasilkan dan dipamerkan dapat memberi efek bagi masyarakat luas. ‘Tandang gawe’ sebagai sebuah Langkah nyata dalam bentuk kerja, kerja dan kerja bukan hanya sebagai harapan.

Tema ‘Tandang Gawe’ dapat dihubungkan dengan kondisi sosial dan budaya yang terjadi di Kulon Progo saat ini. Pada titik inilah peran perupa sangat penting bagi terwujudnya transfer knowledge (alih pengetahuan) mengenai perubahan/ perkembangan aspek sosial, budaya, ekonomi, dll yang terjadi di wilayah Kulon Progo bagi masyarakat luas, terutama bagi masyarakat Kulon Progo sendiri.

Situasi Kulon Progo yang berkembang sangat cepat akibat pembangunan infrastruktur dan maraknya aspek pariwisata, tentunya mempunyai implikasi baik positif maupun negatif. Bagaimana efek positif dapat dimanfaatkan sebanyak-banyaknya serta efek negatif ditekan sekuat-kuatnya diperlukan media yang menarik dan tepat sasaran.

Untuk itulah melalui pameran seni rupa Kulon Progo Annual Art ini, peran perupa lewat hasil karyanya sebagai media transfer knowledge sangatlah tepat. ‘Tandang Gawe’ sekaligus sebagai sebuah sikap bagi masyarakat Kulon Progo yang harus berperan aktif, tidak hanya sebagai penonton dalam perkembangan/ pembangunan Kulon Progo. Metode partisipatoris semacam ini dianggap sebagai metode yang pas bagi warga setempat untuk ikut mengontrol perkembangan sebuah kawasan, sehingga tidak salah arah.

Pameran ‘Tandang Gawe’ diikuti oleh 36 seniman Kulon Progo dan 5 seniman tamu. Hadirnya seniman tamu ini diharapkan dapat memacu perkembangan karya maupun semangat perupa Kulon Progo dalam menghadirkan ide-ide kreatifnya. Dari 5 seniman tamu, 2 seniman sudah bermukim di Kulon Progo yaitu Iwan Yusuf, yang mulai menetap dan berkarya di daerah Sentolo, dan Ir. Eko Prawoto, seorang arsitek sekaligus pemilik warung Pari Klegung di daerah Dekso.

Seniman tamu lainnya, Ivan Sagita mulai membangun studio di daerah Girimulyo. Sedangkan 2 seniman selanjutnya, Nasirun dan Budi Ubrux sudah sering beraktifitas di daerah Kulon Progo.

Dari sini, kita bisa melihat bahwa Kulon Progo mempunyai daya tarik tersendiri bagi para seniman luar daerah. Pesona alam dan gairah yang ada di Kulon Progo mampu memunculkan spirit untuk berkreasi. Mampu lebih menambah dinamika kehidupan.

Seniman-seniman Kulon Progo sendiri seperti tak mau kalah dalam menampilkan karyanya di pameran ini. Teguh Paino, Freddy S. Widodo, Agus Sri Prihandoko, Angga Sukma Permana, Ariswan Adhitama, Anto Sukanto, Agung Menoreh, dan Wisnu Harjuno menampilkan karya instalasi yang berukuran besar. Bahkan, Pajirun yang seorang illustrator, menampilkan karya yang bersifat interaktif, dengan memberi kesempatan pengunjung pameran untuk bisa ikut mewarnai gambar ilustrasinya. Selain itu, karya-karya 2 dimensi juga tak kalah menariknya.

Hampir semua seniman Kulon Progo menyoroti perkembangan yang terjadi di daerahnya, tampak semangat dalam menyongsong perubahan, namun di sisi lain juga menunjukkan kekhawatiran pada efek pembangunan yang dapat mengikis budaya lokal.

Pameran ini sangat menarik untuk dikunjungi, tidak hanya sebagai media apresiasi namun terutama, lewat karya-karya yang ditampilkan, kita dapat mengetahui bagaimana posisi dan peran warga Kulon Progo dalam menjalani perkembangan daerahnya yang sangat cepat.

Selain pameran juga akan diadakan sarasehan dengan tema “Strategi Berkarya Seni dalam Kaitannya dengan Ruang/ Wilayah dan Lokalitasnya” pada hari Sabtu, 12 November 2022, jam 19.00 WIB dengan pembicara Ir. Eko Prawoto, M.Arch., Novida Kartika Hadhi, S.T., Bambang Witjaksono, M.Sn. dan I Gede Arya Sucitra, M.A. (Bambang Toko-Arya Sucitra/Antok Wesman-Impessa.id)