Feature

Hari Wayang Se Dunia, 7 November 2021, Di Tandai Dengan Peluncuran Wayang Omah Kreasi Formekers Yogyakarta, di Rumah Budaya Kahangnan, Desa Wisata Krebet, Pajangan-Bantul

Hari Wayang Se Dunia, 7 November 2021, Di Tandai Dengan Peluncuran Wayang Omah Kreasi Formekers Yogyakarta, di Rumah Budaya Kahangnan, Desa Wisata Krebet, Pajangan-Bantul

Hari Wayang Se Dunia, 7 November 2021, Di Tandai Dengan Peluncuran Wayang Omah Kreasi Formekers Yogyakarta, di Rumah Budaya Kahangnan, Desa Wisata Krebet, Pajangan-Bantul

Impessa.id, Yogyakarta: Hari Wayang Se Dunia, 7 November 2021, ditandai dengan peluncuran Wayang Omah kreasi Formekers -Forum Mebel, Kerajinan dan Seni Yogyakarta, di Rumah Budaya Kahangnan, Dusun Pring Gading RT 01 Guwosari, Pajangan-Bantul, Daerah Istimewa Yogyakarta.

Itock Van Diera seorang disainer dan arsitek sebagai Bidang Kreatif di Formekers -Forum Mebel, Kerajinan dan Seni Yogyakarta, serta Ketua Bidang Destinasi Wisata KADIN DIY, kepada Impessa.id menjelaskan perihal Wayang Omah tersebut. “Ini mungkin suatu keprihatinan kita bahwa komunikasi didalam keluarga sekarang sudah berubah, dalam arti dengan masuknya dunia sosmed, kalau dulu interaksi itu terjadi di meja makan, ketemu, ngobrol, sekarang sudah tidak ada lagi. Kita perhatikan dalam satu keluarga untuk menyuruh anak makan-minum, kan ada dua lantai, itu menggunakan WA, Nak turun, makan, dia jawab, nanti, itu saja sudah tidak ada. Disinilah saya dari Formekers, ingin bagaimana ada dua keinginan yang saya juga, disini keprihatinan saya karena komunikasi dalam keluarga sudah tersingkirkan, dampak kurang baik dari teknologi. Otomatis budaya juga tersingkirkan,” jelasnya.

“Dalam beberapa pertemuan saya selalu bertanya, kalau ini Rumah Budaya, apakah jika kita sudah memasukinya lantas kita menjadi berbudaya? Saya berpendapat bahwa Rumah Budaya itu dimulai dari rumah kita masing-masing. Katakanlah di satu RT ada satu Rumah Budaya yang sebenarnya, bisa dibayangkan akan ada satu kelompok masyarakat dengan budaya guyup rukun,” tutur Itock.

“Konteks Wayang Omah itu sebenarnya kita mengembalikan komunikasi dengan menggunakan wayang. Semisal dalam satu keluarga ada lima penghuninya, masing-masing menjadi Dalang, jadi dengan bahasa wayang mengatakan misalnya, Pak, mbok aku ditukoke sepatu, Pak..si Bapak menjawab, Nanti Le, sepatumu kan masih bagus, kenapa harus beli lagi? Mbok ditabung duitnya, itu menggunakan media wayang, didalam suatu ruang. Tanpa terasa itu akan menarik. Dengan Wayang Omah itu mengembalikan tradisi kita, budaya kita, yang sekarang tersingkirkan oleh dunia sosmed, disitulah saya mengambil ide Wayang Omah ini yang saya aplikasikan kepada mas Hangno, mungkin ini belum sempurna, dalam satu kesempatan ada mbak Novi dan tokoh-tokoh Formekers. Kami bercerita tentang kehidupan sehari-hari, saling mengejek dan sebagainya. Kelak akan ada Wayang Omah Formekers, Wayang Omah Antok Family, bayangkan kalau disetiap rumah ada wayang, yang akhirnya bisa membentuk karakter, itu akan menjadi menarik. Terus dari sisi industri, kami dari Formekers semua anggota disarankan untuk mempunyai wayang. Kalau setiap rumah ada wayang, maka industri wayang yang selama ini terkuburkan, dan tidak tahu produknya akan dijual kemana, selain kepada Dalang, bayangkan kalau semua rumah menjadi market wayang, semua akan berubah, orang tidak lagi membeli produk mainan import, maka Wayang Omah ini menjadi ada di hati setiap warga,” ungkapnya bersemangat.

Lebih lanjut dikatakan, disetiap hunian akan terdapat wayang bercirikan tersendiri, bahkan hewan piaraan pun dapat dijadikan wayang, inilah sebenarnya membangun industri dengan cara yang bermartabat.

Mengkreasi Wayang Omah, guna mengantisipasi derasnya terpaan dunia sosmed dikalangan generasi muda yang menjadikan mereka Phubbing, sibuk main HP dan mengabaikan orang dihadapannya atau disebut sebagai pola anti sosial atau dengan perkataan lain, seseorang yang sibuk sendiri dengan gadget ditangannya sehingga ia tidak perhatian lagi terhadap orang yang ada didekatnya. Phubbing singkatan dari kata Phone dan Snubbing, istilah yang ditemukan oleh Alex Haigh, ilmuwan dari Australia yang sudah masuk dalam kamus Bahasa Inggris di berbagai negara.

Itock Van Diera, singkatan dari Evan dan Nadiera, nama kedua anaknya, yang telah menemukan nuansa kebahagiaan tatkala berkecimpung di dunia budaya dan pariwisata, berupaya agar Wayang Omah kreasinya memasuki kehidupan di setiap rumah tangga, dimana setiap penghuni rumah untuk memegang wayang yang mewakili dirinya disaat melakukan komunikasi dengan anggota keluarga yang lain. Budaya komunikasi dikeluarga nyaris hilang karena masing-masing, terlebih anak, sudah Phubbing, ajakan orangtua untuk makan bersama lewat HP pun telah diabaikan karena si anak fokus Phubbing dikamar, dilantai atas.

Jikalau disetiap rumah sudah memerlukan sejumlah wayang untuk menjalin komunikasi, untuk bercerita, bersenda-gurau ataupun meluapkan emosi, semua itu dilakukan lewat perantara wayang, maka muncul budaya baru yang menarik, wayang menjadi budaya di rumah, setiap anggota keluarga sekaligus menjadi Dalang, muncul dialog seru sambil menggerak-gerakkan wayang yang ada ditangannya, hal itu berdampak positip, menyatukan kembali sebuah keluarga yang kehilangan aura kebersamaan di meja makan, karena masing-masing sibuk bermain gadget.

“Kami dari Formekers ingin membangkitkan dunia pengrajin wayang menjadi berkembang, dari sisi industri, maka produk wayang mempunyai pasar baru yang jumlahnya tak terbatas. Ide brilian yang menginspirasi, karena dialog antara orangtua dengan anak dilakukan melalui media wayang ditangannya masing-masing, dipastikan seru dan menyenangkan sehingga budaya phubbing akan terkikis dengan sendirinya, alhasil, wayang ada di hati setiap insan,” jelas Itock Van Diera.

Drama satu babak, penampilan singkat sekitar tujuh menit, Wayang Omah menampilkan lima sosok  anggota Formekers Yogyakarta, masing-masing Itock van Diera yang menginginkan wayang menjadi tonggak awal bagian dari kehidupan dan rumah menjadi rumah budaya setiap keluarga. Kemudian Novi Bamboo sebagai Dalang Perempuan yang memandu wayang-wayang alias empat temannya untuk ambil peran berdialog mengungkapkan keluh-kesah masing-masing. Ada Herman yang memainkan musik pengiring, Ada Sarah nan sexy dan Waluyo yang menjadi target di-bully oleh dalang, serta Hangno yang main Kecrek dan memainkan Susana melalui bit-bit pukulannya pada kotak kayu.

Novi Bamboo yang bertindak selaku Dalang didalam pementasan Wayang Omah menuturkan kesannya kepada Impessa.id, “Ini hal yang baru bagi saya, tetapi karena saya itu menyukai seni, memang sejak kecil saya suka wayang, saya sering melihat wayang dideket rumah saya di Aghastya Gedongkiwo, saya megajak Kucing saya naik sepeda terus melihat disana ketemu banyak bule-bule, terus greeting, sampai besar kan usaha yang saya lakukan ketemu dengan bule-bule juga, memang sejak kecil saya dipupuk budaya dan dipupuk komunikasi yang natural, suka aja gitu, terus diminta untuk menjadi dalang Wayang Omah ini. Spontan saja tanpa persiapan apapun, terlebih sudah kenal akrab dengan sosok yang diwakili wayang-wayang itu, ya aksi berjalan lancar,” ujarnya.

Menurut Novi Bamboo, intinya Wayang Omah itu adalah sebuah keseharian, entah itu peristiwa yang menjadikan memori, sesuatu yang lucu, yang menjadi kenangan, yang semakin menambah semangat dalam menjalani kehidupan sehari-hari. “Ya memang disitu terselip ada pesan, ada humor yang notabene itu tidak membuat sesuatu itu menjadi boring, dan itu bisa disampaikan dengan komunikasi yang secara langsung, mungkin kita jarang ketemu dengan orang-orang yang hanya lewat WhatsApp, tetapi dengan cara yang seperti ini, akan ada komunikasi yang lebih mendalam, lebih lucu, lebih unik. Salah satu upaya untuk melestarikan wayang kulit, meskipun dengan wujud yang lain. Karena yang namanya pengenalan, kita menyukai sesuatu itu diawali dengan kita juga suka sesuatu, yang nantinya akan digiring ke sesuatu yang sebenarnya, bahwa wayang itu seperti ini, itu akan membuat seseorang semakin ingin tahu untuk mengeksplorasi wayang yang sesungguhnya secara mendalam, kita kenalkan dengan sesuatu yang sederhana dulu. Kedepannya, secara rutin Wayang Omah kami sosialisasikan kepada anggota komunitas, karena menurut saya ini betul-betul menghibur,” aku Novi Bamboo. (Antok Wesman-Impessa.id)