Peserta Jogja International Kite Festival Dari Lithuania Begitu Semangat Untuk Tampil Di Pantai Parangkusumo 11 Dan 12 Juli 2026
Peserta Jogja International Kite Festival Dari Lithuania Begitu Semangat Untuk Tampil Di Pantai Parangkusumo 11–12 Juli 2026
Impessa.id, Yogyakarta, Indopnesia, Juli 2026: Saule Varskeviciute dan Liudvikas Sablauskas keduanya dari Lithuania, Eropa Timur, sangat antusias untuk segera menerbangkan layang-layang Rokaku mereka di Jogja International Kite Festival yang berlangsung di Pantai Parangkusumo, Bantul, Yogyakarta, pada 11–12 Juli 2026.
Saat hadir di Press Conference JIKF 2026 Rabu (1-7-2026) di Soeltan Cafe Yogyakarta, Saule Varskeviciute dan Liudvikas Sablauskas mengungkapkan rasa senangnya dapat berada di Indonesia, negeri yang menrut mereka sangat indah, terlebih di Yogyakarta, bergabung bersama ratusan peserta lainnya dari 17 negara.

“Saya senang sekali bisa berada disini, setelah bertemu dengan orang Indonesia ketika mengikuti festival layang-layang di India, yang bercerita bahwa di Yogyakarta-Indonesia juga akan digelar festival layang-layang internasional, dan kami sebagai tim, sangat tertarik, dan sekarang sudah berada di Yogyakarta, untuk pertamakalinya, dan sambil menunggu pelaksanaan festival, kami mengikuiti program dari panitia, jalan-jalan menikmati destinasi wisata yang ada,” ungkap Saule yang di-iya-kan rekannya Liudvikas.
Menjelang pelaksanaan Jogja International Kite Festival -JIKF 2026, panitia resmi memperkenalkan konsep penyelenggaraan, program terbaru, serta kolaborasi lintas sektor melalui kegiatan Press Conference tersebut. Kegiatan yang diselenggarakan oleh Komunitas Angkasa Satu tersebut dihadiri oleh panitia, media, mitra pendukung, volunteer, komunitas pelayang, serta tamu internasional.

Anang Sarjiyanto, S.Pd selaku Ketua Panitia JIKF 2026, dalam kesempatan itu menuturkan, “Memasuki penyelenggaraan yang ke-11, JIKF 2026 mengusung tema ‘Melayang Bersama Keluarga Membentuk Generasi Emas yang Berkualitas’. Tema ini dipilih sebagai upaya menghadirkan festival yang tidak hanya menjadi ruang hiburan dan pertunjukan budaya, tetapi juga sebagai sarana edukasi, pengembangan kreativitas, serta pembentukan karakter generasi muda melalui seni layang-layang,” ujar Anang.
“Antusiasme masyarakat terhadap pelaksanaan JIKF 2026 terlihat dari tingginya minat pada program relawan. Lebih dari 1.000 pendaftar volunteer, panitia menetapkan 92 volunteer terpilih yang akan terlibat dalam mendukung seluruh rangkaian kegiatan festival. Secara keseluruhan, sekitar 400 orang akan terlibat dalam pelaksanaan kegiatan. JIKF 2026 juga menghadirkan peserta dan delegasi internasional dari 17 negara, termasuk kehadiran tamu dan komunitas pelayang dari Lithuania, sebagai bagian dari upaya memperkuat pertukaran budaya dan memperluas jejaring internasional melalui media layang-layang,” jelasnya lebih lanjut.

Ketua Panitia JIKF 2026, Anang Sarjiyanto, menambahkan bahwa tema tahun ini dipilih untuk memperkuat posisi festival sebagai ruang interaksi keluarga dan pembelajaran lintas generasi.
“Tema Melayang Bersama Keluarga Membentuk Generasi Emas yang Berkualitas kami hadirkan karena kami ingin JIKF tidak hanya menjadi ruang pertunjukan, tetapi juga menjadi media pembelajaran, kreativitas, dan pengalaman budaya yang dapat membentuk generasi muda yang berkualitas,” ungkapnya.

JIKF 2026 menghadirkan sejumlah program baru yang lebih menekankan aspek edukasi dan pengembangan kompetensi. Salah satu program terbaru adalah Seminar dan Workshop Kite Aerial Photography, yaitu fotografi udara menggunakan media layang-layang yang ditujukan bagi masyarakat umum, mahasiswa, serta generasi muda untuk mengenal pemanfaatan layang-layang dari sisi teknologi dan kreativitas. Program itu berlangsung pada 7–9 Juli 2026, dengan pelaksanaan workshop utama pada 8 Juli 2026.
“Kami ingin memperkenalkan bahwa layang-layang tidak hanya menjadi bagian dari budaya dan permainan tradisional, tetapi juga dapat berkembang menjadi media edukasi, teknologi, dan kreativitas,” tambah Anang.

Selain itu, JIKF 2026 juga menghadirkan inovasi baru melalui Olimpiade Layang-Layang Pelajar Indonesia -OLLANESIA, yang telah terkurasi sebagai bagian dari pusat prestasi nasional sehingga sertifikat peserta dapat dimanfaatkan sebagai pendukung penilaian akademik. Kompetisi terbagi ke dalam beberapa kategori berdasarkan jenjang pendidikan, yaitu, TK-SD kelas 1–2 berupa mewarnai layang-layang; SD kelas 4–6, melukis layang-layang, dan SMP dengan merakit layang-layang. Rangkaian kegiatan OLLANESIA dilaksanakan di kawasan Parangkusumo, Yogyakarta.
JIKF 2026 juga menghadirkan pendekatan pembelajaran berbasis proyek melalui pelatihan keterampilan bagi pelajar tingkat SMA dengan harapan lulusan memiliki pengalaman dan kompetensi tambahan yang dapat dimanfaatkan di masa depan.

Sementara itu, Ketua Umum Komunitas Angkasa Satu, RDA Yuristianto, menyampaikan bahwa JIKF selama 11 tahun terus berkembang melalui evaluasi dan inovasi agar tidak hanya menjadi festival budaya, tetapi juga ruang kolaborasi yang berdampak lebih luas.
“Kami selalu berupaya mengembangkan festival ini agar tidak hanya dikenal sebagai pertunjukan budaya, tetapi juga menjadi ruang edukasi, kolaborasi, dan internasionalisasi budaya Indonesia.”
Ia menambahkan bahwa tahun 2026 JIKF juga menghadirkan penguatan pengalaman wisata melalui berbagai aktivitas dan perjalanan budaya di beberapa wilayah Yogyakarta sebagai bagian dari pengenalan budaya kepada peserta internasional.
“Kami ingin Yogyakarta semakin dikenal melalui pengalaman yang lebih dekat dengan masyarakat dan budaya lokal sehingga festival ini menjadi pengalaman yang berkesan bagi seluruh peserta.”

Dukungan terhadap penyelenggaraan JIKF 2026 juga disampaikan oleh Kepala Bidang Destinasi Dinas Pariwisata DIY, Antarikso Trisno Wibowo, yang mengapresiasi konsistensi penyelenggaraan festival hingga memasuki tahun ke-11.
“Kehadiran 17 negara menjadi peluang besar untuk memperkuat pertukaran budaya sekaligus memperluas dampak ekonomi kreatif dan pariwisata daerah.”
Menurutnya, penyelenggaraan JIKF di kawasan Parangkusumo diharapkan mampu meningkatkan kunjungan wisata, menggerakkan ekonomi masyarakat sekitar, serta memperkenalkan budaya Indonesia kepada masyarakat internasional.
Antusiasme terhadap JIKF juga datang dari peserta internasional. Salah satunya disampaikan oleh pelayang asal Lithuania, SaulÄ VarškeviÄÂÂÂiÅ«tÄÂÂÂ, yang mengaku tertarik mengikuti festival karena undangan dari komunitas pelayang internasional sekaligus keinginannya untuk mengenal Indonesia secara langsung.
“Saya datang ke Indonesia karena ingin merasakan pengalaman secara langsung dan bertemu dengan para pelayang dari berbagai negara. Saya suka dengan keramahan orang-orang disini, suasana Jogja sangat indah, dan saya menikmati kuliner lokal,” ungkap SaulÄÂÂÂ.
Saule juga menyampaikan harapannya agar masyarakat Indonesia terus menjaga semangat kebersamaan dan mempertahankan budaya layang-layang sebagai ruang yang mempertemukan banyak orang dari berbagai latar belakang.
“Teruslah saling menjaga dan terus menerbangkan layang-layang. Saya berharap semakin banyak orang dapat ikut berpartisipasi dan mengunjungi Jogja International Kite Festival di masa mendatang.”

Sebagai bagian dari peningkatan layanan bagi pengunjung, JIKF 2026 menjalin kerja sama dengan armada taxi Bluebird untuk mendukung akses transportasi menuju kawasan Pantai Pandansimo. Melalui kolaborasi tersebut, pengunjung dapat memperoleh potongan harga hingga 20 persen untuk pemesanan melalui aplikasi MyBluebird menggunakan kode promo JIKF selama periode kunjungan menuju kawasan Parangkusumo pada 11–12 Juli 2026. Program tersebut berlaku untuk layanan transportasi reguler maupun armada premium guna meningkatkan kenyamanan perjalanan pengunjung.
Selain fasilitas transportasi, panitia juga menyiapkan berbagai merchandise resmi JIKF 2026 yang dapat diperoleh selama pelaksanaan acara sebagai bagian dari pengalaman festival.
Melalui berbagai inovasi program, keterlibatan generasi muda, kolaborasi lintas sektor, serta partisipasi internasional yang semakin luas, Jogja International Kite Festival 2026 diharapkan selain menjadi ajang budaya tahunan, juga menjadi ruang pertemuan dunia yang memperkenalkan Yogyakarta dan Indonesia melalui kreativitas, budaya, dan semangat kebersamaan. (Sustono Ari Handoko-Antok Wesman-Impessa.id)
