STIPRAM Yogyakarta Gelar Talkshow Desa Wisata Berkelanjutan Di Balai Desa Wisata Krebet Bantul
Impessa.id, Yogyakarta, Indonesia, Juni 2026: Talkshow bertajuk "Desa Wisata Berkelanjutan: Perkembangan Desa Wisata Menuju Pariwisata Hijau Berkelas Dunia" yang diselenggarakan oleh Mahasiswa Magister Pariwisata STIPRAM Yogyakarta, berlangsung Sabtu, 27 Juni 2026, 08.00–11.30 WIB, di Balai Desa Wisata Krebet, Bantul, Yogyakarta.
Narasumber yang tampil masing-masing, Ir. Ciptaningtyas -Praktisi & Pengelola Desa Wisata Pentingsari, Dr. Nur Widiyanto, S.Sos.,M.A. -Dosen Pengampu Mata Kuliah Tourism Attraction and Event Resources Development, dan Dr. Amin Kiswantoro, S.Par.,M.Par.,CHE -Kaprodi Magister Pariwisata, dipandu Moderator, Muh. Ridzaldy Pratama, S.Tr.Par.


Ir. Ciptaningtyas –Praktisi & Pengelola Desa Wisata Pentingsari yang akrab disapa Bu Naning: dalam kesempatan itu menyatakan, “Berhubung peserta yang hadir mayoritas mahasiswa maka kegiatan ini sangat penting untuk membekali mereka, para generasi muda mengingat wisatawan merupakan denyut-nadi pengelolaan Desa Wisata. Tanpa wisatawan, otomatis tidak akan ada yang dikelola dan tidak ada juga evaluasi. Desa Wisata di DIY dinilai sudah luar biasa dalam mengelola Desa Wisata masing-masing. Terkait dengan keberlanjutan, Desa Wisata Pentingsari Sleman dan Desa Wisata Krebet Bantul, di tahun 2025, sudah mendapat sertifikasi tentang Desa Wisata Berkelanjutan sehingga semoga apa yang menjadi Desa Wisata Hijau sudah kami jalankan,” ungkapnya.
“Desa Wisata Pentingsari pernah booming di tahun 2017, mendapat kunjungan wisatawan sampai sebanyak 20-ribu, dan di tahun 2018 meningkat menjadi 23-ribu. dari hasil penelitian yang dilakukan pihak Akademisi dalam hal ini dari UGM, banyaknya wisatawan yang berkunjung ke Desa Wisata Pentingsari dinilai overload, untuk area Desa Wisata seluas 2,3 hektar, dengan jumlah wisatawan setiap bulannya sampai 2500-2700 orang, tidak sesuai dengan kapasitas yang tersedia dan daya dukung yang ada. Akhirnya kami menerapkan listing mengatur reservasi jumlah wisatawan yang masuk ke Desa Wisata Pentingsari. Idealnya per-hari hanya menerima kunjungan 400-500 orang saja. Dari itu hasilnya berdampak positip terhadap lingkungan Desa Wisata. Hingga kini jumlah kunjungan wisatawan ke Desa Wisata Pentingsari tetap stabil,” jelas Bu Naning.

Sementara itu, Dr. Nur Widiyanto, S.Sos.,M.A. -Dosen Pengampu Mata Kuliah Tourism Attraction and Event Resources Development, mengutip pernyataan Mahatma Gandhi bahwa jiwa suatu bangsa itu ada di desa, bukan di kota karena kota itu hybrid, campuran berbagai ragam budaya.
“Hal ini relevan dengan pengembangan Desa Wisata di Indonesia. Yang memberi istilah Desa Wisata dengan segala konsepnya, hanya di Indonesia. Ini menjadi penting di era kontemporer dan paralel dengan konsep Green Tourism, Sustainability, dengan pilar-pilar antara lain, keberlanjutan dari sisi budaya, ekonomi dan ekologi. Ketiga hal tersebut menjadi ruh atau spirit dari pengembangan desa. Sustainability itu sudah ada di desa-desa di Indonesia sejak dahulu, karena di desa keasli-an budaya itu dirawat, sebagai bagian dari kehidupan sehari-hari. Kalau berbicara ekologi, di desa itu mata pencahariannya selalu terkait dengan bentang alamnya, bertani, berladang, nelayan dsb, sehingga kalau itu semua tidak dijaga maka hilang-lah sumber mata pencaharian mereka. Selanjutnya terkait kolektivitas ekonomi, di pedesaan kalau kita punya warung dan tetangga titip produk rumahan kira-kira boleh tidak? Bandingkan dengan di super-market besar di kota, anda membawa arem-arem lalu bawa ke kasirnya, bilang, mbak nitip boleh gak? Pasti ditolak. Itulah kolektivitas ekonomi yang menjadi ciri khas dari adanya kehidupan desa.,” ungkap Pak Nur.


“Jadi tiga pilar Green Tourism itu sudah menjadi praktik sehari-hari dari masyarakat kita yang ada di desa. Itulah yang kita jaga, menjadi bagian dari kehidupan kita. Menghidupi Desa Wisata berarti sama juga menghidupi jiwa bangsa,” akunya.
“Terkait keseimbangan. Kalau kita berbicara pariwisata sebagai aktivitas ekonomi sehingga tiba-tiba Pengelola Desa Wisata itu menjadi village corporate, perusahaan di desa, kemudian dengan segala cara mengikuti jaman, tentu akan mempromosikannya, termasuk melalui platform digital sesuai dengan perkembangan masa, Impact-nya, muncul ketidakseimbangan ketika viral, ketika dianggap unik, tiba-tiba melebihi daya dukungnya. Secara akademis ada tiga cara untuk menjaga keseimbangan yang dikenal dalam wisata hari ini, dengan sistem kuota, banyak diterapkan semisal di seluruh Taman Nasional, kemudian premium rate-dimahalin, ini efektif tapi kejam, karena hanya yang punya uang yang bisa masuk, ini tidak adil. Ketiga yakni Temporary Closing, ditutup untuk sementara waktu, untuk recovery,” imbuh Pak Nur lebih lanjut.
Dr. Amin Kiswantoro, S.Par.,M.Par.,CHE -Kaprodi Magister Pariwisata dalam pada itu melengkapi pernyataan yang telah terungkap. “Desa Wisata harus tetap menjaga keasliannya, meski tetap adaptif dengan kemajuan jaman, kalau perlu harus dengan digital marketing ya ikuti saja. Jangan tergiur selera pasar yang harus meninggalkan keaslian lokal, sebagai tulang punggung keaslian budaya. Menjaga keseimbangan ketiga pilar utama tersebut, yaitu keberlanjutan-ekonomi-ekologi, dapat mengurangi munculnya dampak yang kurang baik, misalkan kalau hanya fokus ke ekonomi saja maka terjadilah overload seperti itu,” pungkas Dr Amin.
Menurut Dr Amin, terkait dengan sertifikasi, ditekankan pada implementasinya sehari-hari. Demi keberlanjutan Desa Wisata diperlukan SDM -Sumber Daya Manusia, yang berkompeten, sehingga mampu menerapkan semisal kebersihan, pelayanan yang ramah, menjaga dari hal-hal yang dapat merusak lingkungan, dalam kehidupan keseharian warga desa, prinsip-prinsip yang diwujudkan kedalam sertifikat itu sudah dilakukan sehari-hari oleh warga di Desa Wisata tersebut.
Bu Naning menambahkan bahwa ada 174 indikator yang harus dipenuhi untuk bisa menjadi Desa Wisata Berkelanjutan, salah satunya adalah dampak ekonomi yang dihasilkan apakah sudah merata ke semua warga desa atau belum? Kemudian bagaimana cara mengelola sampahnya untuk menjaga kelestarian Desa Wisata, bagaimana cara Desa Wisata bermitra dengan TPS -Tempat Pembuangan Sampah. Pengelola Desa Wisata tidak melulu harus menglola kunjungan wisatawan harus banyak, karena dampak negatip yang diakibatkannya juga pasti ada.
“Desa Wisata Pentingsari, sudah menganjurkan kepada para wisatawan yang berkunjung untuk membawa tumbler sendiri, guna meminimalisir adanya sampah plastik yang dibawa wisatawan,” imbuhnya.


Disela-sela Talkhsow berlangsung, penulis menemui Riyadi Jibril, Wakil Ketua Pengelola Desa Wisata Krebet, menanyakan potensi Desa Wista Krebet, yang kemudian dirinya mengungkapkan segalanya.
Terkait Uniq Selling Point -USP, unggulan Desa Wisata Krebet, Riyadi menjelaskan Batik Kayu yang sudah melegenda sejak tahun 1990-an sampai sekarang. Sudah berjalan selama 36 tahun.
“Kami mengembangkan semua potensi yang ada di Desa Wisata Krebet, mulai dari keseniannya, kulinernya, kemudian permainan tradisional, juga mengembangkan wisata alam seperti lokasi untuk offroad, dengan tarif short 450-ribu dan long seharga 550-ribu, keluar wilayah Krebet, mampir ke Goar Selarong, ke Bendung Kamijoro,. Untuk jelajah tersedia empat ATV dengan tarif 100-ribu untuk short dan 150-ribu untuk long rute, dan Kereta Kelinci atau Kereta Wisata, dengan tarif 1.250-ribu, bisa menuju Pantai-pantai yang ada di Bantul, seperti Pantai Pandansimo, berjarak sekitar 25 Kilometer, berkapasitas 32 orang,” jelasnya.


Terkait Paket kuliner, Riyadi menuturkan, “Kami menyediakan mulai dari makanan tradisional seharga 15-ribu sampai 35-ribu. bisa box ataupun prasmanan. Khas yang ada di Desa Wisata Krebet adalah Gudeg Manggar, gudeg dari bunga kelapa, dipadukan dengan Sayur Sambel Krecek, plus Gudangan, lalapan sayuran segar di ramu dengan parutan kelapa muda yangn sudah dibumbui, yang secara tradisi disajikan oleh warga ketika Hari Raya Lebaran,” ujarnya.
“Untuk minuman khas Desa Wisata Krebet berupa Legen dari nira kelapa, yang langsung diminum dihari yang sama tatkala memanennya dari Pohon Kelapa. Rasanya manis segar. Khusus minuman legen ini memang harus pesan terlebih dahulu sebelumnya, guna menjaga legen masih segar, belum terfermentasi secara alami. Se botol besar harganya 25-ribu. Selain itu juga ada Wedang Seruni -Sereh-Jeruk Nipis, Wedang Jahe-Asem, Wedang Kunir-Asem, mengingat di kawasan Dea Wisata Krebet terdapat banyak pohon Asam Jawa, yang berbuah lebat disaat musimnya” tutur Riyadi.


“Kami juga menyediakan ‘Sega Megana’ -nasi yang sudah ada lauknya, santapan tradisi warga desa ketika memasang ‘Molo’ saat membangun rumah. Per-pack seharga 35-ribu. Selain itu kami juga menyediakan paket permainan anak tradisional, seperti, Jeg-jeg-an, Baksodor, Wul-wul-an, Bas-bas-an, Main Tali, Main Kelereng, itu semua kami jadikan paket untuk wisatawan yang berminat,” imbuhnya.
“Keunikan lain yakni ada paket kesenian dimana wisatawan tidak lagi menonton, tetapi praktik langsung, diantaranya, Baca Mocopat, Tari-tarian, Gendhing Sholawat, Karawitan, Jathilan, sebagai Paket Edukasi Kesenian. Jika wisatawan ingin lebih jauh mendalami paket kesenian itu, maka Desa Wisata Krebet telah menyediakan 25 Homestay seharga 150-ribu per-malamnya,” tambahnya.


“Semua itu Kami sajikan teruntuk wisatawan guna mendukung usaha Batik Kayu yang ada, karena lahan yang ada di Desa kami hanya mengandalkan curahan hujan untuk menghidupkan tanaman sayur dan palawija. Jika musim kemarau tiba, maka seluruh lahan menjadi kering dan tanahnya retak-retak,” tutp Riyadi.
Usai isoma setelah Talkshow berakhir, seluruh peserta diajak berkeliling desa naik Kereta Wisata, meninjau sentra kerajinan Batik Kayu, dan meninjau lokasi lapangan Pulosari yang menjadi kandidat lokasi perhelatan Ngayogjazz November 2026. (Feature of Impessa.id by Antok Wesman)

