Pameran KELANA LINI: Merayakan Seni, Komunitas, dan Identitas Lokal di Galeri Bulaksumur GIK UGM Yogyakarta, Pada 20 Juni Hingga 3 Juli 2026
Maestro Pelukis NASIRUN didampingi Luna pada Pameran KELANA LINI: Merayakan Seni, Komunitas, dan Identitas Lokal di Galeri Bulaksumur GIK UGM Yogyakarta, Kamis (25/6/2026)
Impessa.id, Yogyakarta, Indonesia, Juni 2026: Disela-sela berlangsungnya pameran seni “Kelana Lini” di Galeri Bulaksumur kompleks GIK UGM Yogyakarta, Maestro Pelukis NASIRUN kepada Impessa.id, Kamis (25/6/2026), mengungkapkan pentingnya ada ‘Arisan Ide’ dikalangan Seniman Jogja, mengingat Jogja merupakan sebuah Galeri Besar, Panggung Besar, yang senantiasa memberikan warna baru secara terus-menerus.
“Pameran Kelana Lini ini sudah eranya anak muda dengan semangat global menghadirkan ‘turunan’ merchandise yang terjangkau dalam hal cara menyebarkannya dan cara memberikan apresiasi keranah publik yang lebih luas,” tutur Nasirun.

“Kelana Lini”, sebuah pameran seni lintas kota yang menelusuri bagaimana sebuah tempat membentuk cara hidup, cara berpikir, dan pada akhirnya mempengaruhi ekspresi visual para perupanya. Mengambil Yogyakarta dan Surakarta sebagai titik berangkat, Program yang diinisiasi oleh Meramu.id didukung sepenuhnya oleh Kementerian Kebudayaan Republik Indonesia, Dana Indonesiana, dan LPDP, serta Indonesia Kaya. menghadirkan karya-karya perupa muda dan kolektif seni yang tumbuh dari keseharian kedua kota tersebut.
Berangkat dari misi Meramu.id untuk memperluas akses terhadap seni lokal dan mendekatkannya kepada masyarakat, Kelana Lini hadir sebagai ruang temu bagi seniman, komunitas kreatif, dan publik. Melalui pameran, diskusi, lokakarya, hingga berbagai aktivasi berbasis komunitas, program ini membuka ruang bagi lahirnya percakapan, kolaborasi, dan apresiasi baru terhadap seni Indonesia.


Mengusung tema “Locus Amoenus” atau tempat yang menyenangkan, Kelana Lini berangkat dari gagasan bahwa karya seni tidak lahir dalam ruang hampa. Lingkungan sosial, subkultur, kebiasaan sehari-hari, hingga ritme sebuah kota turut membentuk identitas visual para senimannya. Melalui pameran ini, Meramu.id bersama kurator Britto Wirrajati mengajak publik untuk mengamati bagaimana Yogyakarta dan Surakarta menjadi ruang yang melahirkan praktik-praktik artistik yang khas.
Britto Wirrajati menyebutkan, jika karya seni merupakan refleksi dari lingkungan sekitarnya, maka identitas visual suatu karya tidak dapat dipisahkan dari lokus tempat ia tumbuh. Berangkat dari kesadaran tersebut, Kelana Lini menelusuri praktik artistik di Yogyakarta dan Surakarta melalui karya-karya perupa muda dan kolektif seni tempatan. Semangat muda yang sering kali menggebu-gebu, kasual, dan spontan, kadang terkesan cuek dan kadang juga lugu, dipertemukan dengan semangat kolektif yang lekat dengan tradisi berbagi dan pengelolaan bersama. Dari pertemuan inilah lahir karya-karya yang berada pada irisan gaya hidup sehari-hari, subkultur, dan identitas lokal.


Adinda Fudia Hanamici, selaku Co-Founder Meramu.id. menjelaskan bahwa Kelana Lini lahir dari keyakinan bahwa seni tidak seharusnya terasa jauh atau eksklusif. “Kami ingin menghadirkan ruang di mana orang bisa bertemu dengan karya dan para senimannya secara lebih alami, melalui komunitas, percakapan, dan pengalaman bersama. Ketika seni menjadi bagian dari keseharian, di situlah ekosistem kreatif dapat tumbuh dengan lebih sehat dan berkelanjutan," jelasnya.
Pameran Kelana Lini menghadirkan karya dari Dewa, Nisrina, Jerojer, Usaha Dagang Garis, Dika Rabt Yoorabt, Ummi Luthfiyyah, Andika Namaste, Catur Danang, Setan Beras, serta muralis Fauzan Abusalan. Selain itu, pameran ini juga melibatkan sejumlah kolektif seni, yaitu Krack Studio, Canvas Confluence Collective, dan Titik Kumpul, yang masing-masing membawa perspektif dan praktik kreatif yang berakar pada konteks lokalnya.

Dikurasi oleh Britto Wirrajati, Kelana Lini berupaya menghadirkan pengalaman yang tidak hanya estetis, tetapi juga membuka ruang dialog mengenai hubungan antara seni, komunitas, dan budaya sehari-hari. Kurasi pameran berfokus pada bagaimana pengalaman keseharian, kultur anak muda, dan semangat kolektif diterjemahkan menjadi bahasa visual yang terus berkembang.
Britto Wirajati, menambahkan, “Dalam pameran Kelana Lini, seni dirayakan secara kasual, menariknya keluar dari dinding galeri kubah putih, menuju ruang-ruang publik. Dalam pameran ini tak ada batasan kaku seperti seni rupa ‘sekolahan' pada umumnya, namun juga tidak berarti serampangan dan asal-asalan. Pameran Kelana Lini Adalah sebuah parade berkeliling untuk mengamati kembali, bagaimana sebuah lokasi mempengaruhi ekspresi visual, dalam sebuah tempat yang menyenangkan (Locus amoenus)," imbuhnya.

Selain menghadirkan pameran kelompok, Kelana Lini juga menyelenggarakan berbagai program publik yang melibatkan komunitas lokal di masing-masing kota. Di Yogyakarta, program ini berkolaborasi dengan Cherry Pop Festival, Buku Akik, Guru Bumi, dan berbagai komunitas kreatif lainnya melalui workshop, bedah buku, aktivitas keluarga, hingga pertunjukan musik. Sementara di Surakarta, Kelana Lini menggandeng komunitas lintas disiplin mulai dari pelaku seni, komunitas lari, stand-up comedy, hingga ruang kreatif local untuk menghadirkan pengalaman yang lebih dekat dengan masyarakat.
Perpaduan antara pameran dan program publik ini bertujuan membawa audiens masuk ke dalam sebuah peristiwa artistik yang tidak hanya berbasis pada pengamatan, tetapi juga pengalaman langsung. Kelana Lini mengajak publik untuk tidak sekadar melihat karya seni, melainkan turut mengalami konteks sosial dan budaya yang melahirkannya.

Melalui perjalanan lintas kota ini, Meramu.id berharap Kelana Lini dapat menjadi ruang yang memperkuat hubungan antara seniman dan masyarakat, memperluas kesempatan bagi talenta lokal untuk berkembang, sekaligus menghadirkan seni sebagai bagian yang hidup dalam keseharian.
Lebih dari sekadar pameran, Kelana Lini merupakan sebuah perjalanan untuk melihat kembali bagaimana sebuah tempat membentuk identitas visual dan kehidupan budaya masyarakatnya. Sebuah perayaan seni yang bergerak, terbuka, dan menyenangkan, sebuah Locus Amoenus.
Program Kelana Lini, Pameran Seni Babak 1, berlangsung di Galeri Bulaksumur GIK UGM pada 20 Juni – 3 Juli 2026. Untuk di Surakarta, pameran berlangsung di Slari Coffee dan ruang publik kolaboratif, pada 4-18 Juli 2026.

Tentang Meramu
Meramu adalah sebuah online marketplace untuk karya seni original yang bertujuan memperluas akses terhadap seni lokal dan membuka peluang bagi para kreator untuk ditemukan oleh audiens yang lebih luas. Melalui pameran, kolaborasi, dan program berbasis komunitas, Meramu.id membangun ekosistem seni yang inklusif dan berkelanjutan, sekaligus menghadirkan seni sebagai bagian yang lebih dekat dengan kehidupan sehari-hari.
Saat ini Meramu.id telah berkolaborasi dengan lebih dari 200 seniman Indonesia dan menampilkan lebih dari 1000 karya yang dapat dikoleksi oleh publik. Dengan semangat "Making Art Accessible", Meramu.id terus berupaya mempertemukan karya-karya local dengan audiens yang tepat. (Luna- Kelana Lini /Frisca Harmala-Meramu.id/Antok Wesman-Impessa.id)
