Mahasiswa ISI Yogyakarta Gelar Pekan Fotografi Sewon Ke-19 PRIME TIME, 11-14 Juni 2026
Impessa.id, Yogyakarta, Indonesia, Juni 2026: Mahasiswa Program Studi Fotografi Institut Seni Indonesia (ISI) Yogyakarta menyoroti ketahanan komunitas menghadapi persoalan lingkungan melalui sejumlah karya yang dipamerkan dalam Pekan Fotografi Sewon (PFS) #19 bertajuk Prime Time pada 11-14 Juni 2026.
Melalui pendekatan yang berbeda, para pengkarya merekam berbagai upaya masyarakat dalam menjaga ruang hidupnya, mulai dari bertahan di tengah abrasi pesisir, memanen air hujan sebagai sumber air alternatif, hingga menjaga keseimbangan alam melalui sistem adat yang diwariskan secara turun-temurun.
Salah satu karya yang dipamerkan adalah Foto Dokumenter Krisis Lingkungan dan Ketahanan Masyarakat Akibat Abrasi di Kampung Beting, Desa Pantai Bahagia, Kabupaten Bekasi karya Rahid Putra Laksana.

Selama satu tahun, Rahid mendokumentasikan kehidupan masyarakat Kampung Beting yang terus beradaptasi dengan abrasi yang perlahan menghilangkan daratan tempat mereka tinggal.
"Yang ingin saya tunjukkan bukan hanya kerusakan lingkungannya, tetapi bagaimana masyarakat tetap bertahan dan beradaptasi di tengah kondisi tersebut," kata Rahid.
Menurut dia, persoalan abrasi di Kampung Beting masih belum banyak diketahui masyarakat luas meskipun dampaknya dirasakan setiap hari oleh warga pesisir.
"Saya berharap karya ini dapat menjadi salah satu cara untuk menyuarakan persoalan abrasi yang terjadi di Kampung Beting agar lebih banyak diketahui masyarakat luas," ujarnya.

Upaya masyarakat dalam merawat lingkungan juga diangkat Rizmi Azza Aqiffina melalui karya Foto Dokumenter Gerakan Memanen Air Hujan oleh Komunitas Banyu Bening.
Karya tersebut mendokumentasikan berbagai aktivitas komunitas dalam memanen, mengolah, dan memanfaatkan air hujan sebagai sumber air alternatif.
"Krisis air bersih masih menjadi persoalan di berbagai daerah. Padahal Indonesia memiliki curah hujan yang cukup tinggi sehingga air hujan sebenarnya dapat dimanfaatkan sebagai salah satu alternatif untuk memenuhi kebutuhan air," kata Azza.
Selain proses pemanenan air hujan, Azza juga merekam kegiatan edukasi masyarakat dan aksi konservasi lingkungan yang dilakukan komunitas tersebut.
"Melalui karya ini saya ingin menunjukkan bahwa air hujan dapat menjadi solusi yang nyata untuk membantu mengatasi persoalan krisis air bersih jika dikelola dengan baik," ujarnya.

Selain melalui berbagai bentuk adaptasi dan pengelolaan sumber daya alam, hubungan masyarakat dengan lingkungan juga tercermin dalam tata kelola kehidupan yang diwariskan secara turun-temurun. Pandangan tersebut diangkat Irza Saputra melalui karya Potret Environmental Rorokan di Kasepuhan Gelaralam, Kabupaten Sukabumi, Jawa Barat.
Karya tersebut menampilkan para rorokan, yakni perangkat adat yang memiliki peran dalam menjaga keseimbangan antara kebutuhan masyarakat dan kelestarian alam.
"Saya ingin memperlihatkan bahwa rorokan bukan hanya struktur pemerintahan adat, tetapi juga bagian dari sistem yang menjaga hubungan masyarakat dengan alam," kata Irza.
Menurut dia, sistem rorokan turut menjaga keseimbangan antara kebutuhan masyarakat adat dan kelestarian lingkungan yang menjadi sumber kehidupan komunitas Kasepuhan Gelaralam.
Ketiga karya tersebut menjadi bagian dari PFS #19 bertajuk Prime Time yang menghadirkan karya tugas akhir 32 mahasiswa Program Studi Fotografi ISI Yogyakarta.
Pameran akan dibuka pada Kamis (11/6) pukul 15.00 WIB di Gedung Auvi Fakultas Seni Media Rekam ISI Yogyakarta dan berlangsung hingga 14 Juni 2026. (Daru Aji/Antok Wesman-Impessa.id)

