Film Dokumenter DJUM Karya AHMAD BRILIAN MAULANA VITJAYANTO, Mahasiswa ISI Yogyakarta, Raih Penghargaan Internasional Di Golden FEMI Film Festival 2026 SOFIA, Bulgaria
Film Dokumenter DJUM Karya AHMAD BRILIAN MAULANA VITJAYANTO, Mahasiswa ISI Yogyakarta, Raih Penghargaan Internasional Di Golden FEMI Film Festival 2026 SOFIA, Bulgaria
Impessa.id, Yogyakarta, Indonesia, Juni 2026: Film dokumenter pendek DJUM karya sutradara muda Ahmad Brilian Maulana Vitjayanto berhasil mengharumkan nama Indonesia dengan meraih penghargaan pada Golden FEMI Film Festival 2026 yang diselenggarakan di Sofia, Bulgaria.
Prestasi tersebut menjadi bagian dari keberhasilan tiga film Indonesia yang memperoleh apresiasi dalam festival internasional tersebut, bersama film panjang Solata karya Ichwan Persada dan film pelajar Dolanan Nusantara karya Dimas Surya Pratama.

DJUM merupakan film dokumenter pendek produksi Selat Sunda Creative, komunitas pembuat film yang lahir dari proses produksi karya-karya Ujian Akhir Semester mahasiswa Program Studi Film dan Televisi Institut Seni Indonesia Yogyakarta sejak semester dua.
Berawal sebagai ruang pembelajaran akademik, komunitas ini berkembang menjadi wadah kolaborasi kreatif bagi mahasiswa aktif yang konsisten berkarya, mengikuti festival, serta menorehkan prestasi di tingkat nasional maupun internasional.

Film berdurasi 18 menit 46 detik ini mengangkat kisah Jumadi (69), seorang penggerobak sampah yang telah mengabdikan lebih dari empat dekade hidupnya untuk keluarga. Berkat ketekunan dan kerja kerasnya, Jumadi berhasil mengantarkan anak-anaknya menempuh pendidikan tinggi. Namun, menjelang pernikahan anak terakhirnya, ia kembali diuji ketika sang istri mengalami stroke dan membutuhkan perawatan intensif.
Dari situ, DJUM menghadirkan potret tentang cinta, pengorbanan, dan keteguhan seorang ayah dalam menjalani kehidupan. Menariknya, film ini berawal dari sebuah proyek Ujian Akhir Semester mata kuliah Dokumenter di Program Studi Film dan Televisi ISI Yogyakarta.

Dari ruang kelas dan proses pembelajaran akademik, DJUM kemudian berkembang menjadi karya yang mampu menjangkau panggung internasional. Pada Golden FEMI Film Festival 2026 yang diikuti lebih dari 9.600 film dari 130 negara, DJUM berhasil meraih penghargaan “Best Production with Strong Social Message and Humanitarian Contribution Award” pada kategori dokumenter.
Penghargaan tersebut diberikan kepada karya yang dinilai memiliki pesan sosial yang kuat serta kontribusi terhadap nilai-nilai kemanusiaan. Golden FEMI Film Festival sendiri memiliki reputasi internasional yang sangat kuat. Selama empat tahun berturut-turut, festival ini diselenggarakan di bawah patronase Wakil Presiden Republik Bulgaria, Iliana Iotova, dan pada tahun 2025 memperoleh kehormatan berada di bawah naungan Parlemen Eropa. Hal tersebut semakin menegaskan posisi festival sebagai ruang budaya internasional yang kredibel, bergengsi, dan memiliki pengaruh yang signifikan.

Berdasarkan undangan resmi penyelenggara, sutradara DJUM, Ahmad Brilian Maulana Vitjayanto, diundang untuk menghadiri Gala Awards Ceremony yang berlangsung pada Sabtu, 6 Juni 2026 di Royal Ballroom, Sofia Balkan Palace Hotel, Sofia, Bulgaria. Namun karena berbagai keterbatasan, kehadiran tersebut tidak dapat direalisasikan.
Pada malam penganugerahan, penghargaan untuk DJUM diterima secara simbolis oleh Kedutaan Besar Republik Indonesia (KBRI) Sofia yang mewakili para sineas Indonesia. Kehadiran KBRI Sofia menjadi bentuk nyata dukungan diplomasi budaya Indonesia melalui medium film sekaligus memperkuat hubungan persahabatan antara Indonesia dan Bulgaria.

Selain DJUM, dua film Indonesia lainnya juga memperoleh penghargaan dalam festival tersebut. Film panjang Solata karya Ichwan Persada, yang sebelumnya telah tayang di bioskop Indonesia dan kini terus melanjutkan perjalanan festival internasionalnya, meraih penghargaan. Sementara itu, film pelajar Dolanan Nusantara karya Dimas Surya Pratama turut memperoleh penghargaan pada kategorinya.
Keberhasilan ketiga film tersebut memperlihatkan keberagaman wajah perfilman Indonesia, mulai dari film panjang profesional, film dokumenter mahasiswa, hingga film pelajar, yang sama-sama mampu memperoleh pengakuan di panggung dunia.

Sutradara Ahmad Brilian Maulana Vitjayanto menyampaikan bahwa film ini berangkat dari pandangan tentang keterbatasan manusia, kekuatan cinta, doa, dan kebaikan sederhana yang dijalani pak Jumadi setiap hari. Ia juga melihat DJUM sebagai refleksi atas sosok ayah yang kerap diam, tetapi tetap berusaha memberikan yang terbaik bagi keluarga.
“Melalui Pak Jumadi, saya belajar bahwa kekuatan manusia sering kali lahir dari cinta, doa, dan kebaikan-kebaikan sederhana yang dilakukan setiap hari. Film ini juga mengingatkan saya pada sosok ayah yang mungkin tidak banyak bicara, tetapi diamdiam memikul begitu banyak tanggung jawab demi keluarganya,” ujarnya.

Sebelum meraih penghargaan di Bulgaria, DJUM telah memperoleh berbagai apresiasi di tingkat nasional dan internasional, di antaranya menjadi Finalis Festival Film Dokumenter 2025, semifinalis Tianjin International Academic Film Festival di Tiongkok, serta memperoleh seleksi resmi dalam berbagai festival film internasional di Amerika Serikat, Italia, Korea Selatan, Ukraina, dan Jamaika.
Keberhasilan DJUM menjadi bukti bahwa karya yang lahir dari lingkungan kampus dapat berkembang menjadi medium yang menjangkau audiens global. Pencapaian ini sekaligus menunjukkan bahwa cerita-cerita lokal Indonesia memiliki kekuatan universal yang mampu melampaui batas geografis maupun budaya.

Tentang Film DJUM
DJUM adalah film dokumenter pendek berdurasi 18 menit 46 detik yang disutradarai oleh Ahmad Brilian Maulana Vitjayanto dan diproduseri oleh Al Barr Nurwani. Diproduksi oleh Selat Sunda Creative, film ini merekam kehidupan Jumadi, seorang penggerobak sampah yang menjalani kehidupan penuh tanggung jawab, kasih sayang, dan pengabdian terhadap keluarga. Tentang Selat Sunda Creative
Selat Sunda Creative merupakan komunitas dan rumah produksi film independen yang dibentuk oleh mahasiswa Program Studi Film dan Televisi Institut Seni Indonesia Yogyakarta. Berawal dari kolaborasi produksi tugas akademik sejak semester dua, komunitas ini berkembang menjadi ruang kreatif yang berfokus pada produksi film, pengembangan talenta muda, serta partisipasi dalam festival film nasional dan internasional.

Pernyataan Sutradara
Sebagai sutradara, saya melihat bahwa setiap manusia hidup dengan keterbatasannya, dan dari ruang itulah kita belajar bergantung pada sesuatu yang lebih besar dari diri kita. Dari perjalanan Pak Jumadi, saya melihat bagaimana kekuatan itu tumbuh dari rasa cinta, doa, dan kebaikan sederhana yang ia lakukan setiap hari. Film ini juga mengingatkan saya pada sosok ayah, figur yang sering terlihat diam, tetapi dalam diamnya selalu berusaha memberikan yang terbaik bagi keluarganya. Lewat film ini, saya ingin menyampaikan bahwa selama manusia terus berusaha, Tuhan selalu menemukan cara untuk berjalan bersama kita.
Biografi Sutradara :
Ahmad Brilian Maulana Vitjayanto (Brian) adalah penulis dan sutradara asal Jombang, Jawa Timur, serta mahasiswa aktif Program Studi Film dan Televisi Institut Seni Indonesia (ISI) Yogyakarta. Pada tahun 2026, ia meraih predikat Mahasiswa Berprestasi Peringkat 3 tingkat institusi. Karya-karyanya telah diputar dan diapresiasi di berbagai festival film nasional maupun internasional. Film dokumenternya yang is sutradarai, DJUM (2025), terpilih sebagai finalis Festival Film Dokumenter 2025, semifinalis Tianjin International Academic Film Festival di Tiongkok, serta meraih penghargaan pada Golden FEMI Film Festival 2026 di Bulgaria. Sementara itu, film pendek fiksi yang ia tulis dan sutradarai, Apem Pak Sugeng (2025), memperoleh Juara 3 Kara Short Film Competition dan menjadi finalis Jatim Festa serta Semar Awards 2025. Brian memandang sinema sebagai medium yang tidak hanya memiliki nilai artistik, tetapi juga mampu menghadirkan refleksi dan memperkuat hubungan manusia dengan realitas sosial di sekitarnya.

Biografi Produser
Al Barr Nurwani berasal dari Aceh dan saat ini menempuh studi Film dan Televisi di Institut Seni Indonesia Yogyakarta sejak 2023. Ia mulai mendalami dunia audiovisual sejak 2021 dengan ketertarikan pada produksi, manajemen, dan distribusi film. Albarr turut terlibat dalam distribusi film ke berbagai festival nasional dan internasional, termasuk Festival Film Dokumenter dan Tianjin Academic International Film Festival. Selain itu, ia juga mengeksplorasi praktik kreatif dalam produksi film sebagai Art Director pada film pendek fiksi Mengejar Untuk Mengalah (2025) serta Produser film DJUM (2025). Ia terus mengembangkan minatnya pada produksi dan visual film independen. (Feature of Impessa.id by Daru Aji-Antok Wesman)
