Yayasan KALIMASADA Sleman Gelar Festival MEMEDI SAWAH Ke-2, Di Pakembinangun, Pakem, Sleman, Yogyakarta, 1-30 Juni 2026
Yayasan KALIMASADA Sleman Gelar Festival MEMEDI SAWAH Ke-2, Di Pakembinangun, Pakem, Sleman, Yogyakarta, 1-30 Juni 2026
Gagasan Budaya dari Novelis Budi Sarjono Hadir Merayakan Tradisi Agraris
Impessa.id, Yogyakarta, Indonesia, Juni 2026: Yayasan Kalimasada kembali menggelar Memedi Sawah Festival yang ke-2, sebuah perhelatan budaya yang berangkat dari tradisi agraris masyarakat dan berkembang menjadi ruang ekspresi seni, budaya, serta pemberdayaan masyarakat desa.

Wakil Ketua Festival Memedi Sawah Ke-2, Addi Siswosoedharmo yang akrab disapa Vey menuturkan, Memedi Sawah atau boneka orang-orangan yang dipasang di persawahan bertujuan untuk menakut-nakuti burung-burung pemakan padi, yang terbuat dari barang-barang bekas, merupakan inisiatif yang digagas oleh novelis dan budayawan Budi Sarjono.

“Menurut penggagas festival, Budi Sarjono, budaya agraris tidak hanya berkaitan dengan aktivitas bertani, melainkan juga menyimpan nilai-nilai kemanusiaan, kebersamaan, dan kearifan lokal yang perlu terus dirawat,” jelas Vey.

Budi Sarjono menyebutkan bahwa Memedi Sawah Festival adalah upaya menghadirkan kembali ingatan kolektif masyarakat terhadap tradisi agraris yang selama ini menjadi bagian penting kehidupan kita. Melalui seni dan budaya, kita merayakan sekaligus merawat warisan tersebut agar tetap hidup dan relevan bagi generasi sekarang maupun mendatang.

Dikatakan, Memedi Sawah Festival lahir dari kegelisahan akan semakin jauhnya masyarakat modern dari akar budaya agraris yang selama berabad-abad menjadi fondasi kehidupan masyarakat Nusantara. Sosok memedi sawah atau orang-orangan sawah dipilih sebagai simbol karena tidak hanya berfungsi menjaga tanaman, tetapi juga merepresentasikan hubungan manusia dengan alam, kerja kolektif, dan nilai-nilai kehidupan pedesaan.

Vey lebih lanjut mengatakan, pada penyelenggaraan tahun kedua ini, festival Memedi Sawah menghadirkan beragam kegiatan seni dan budaya yang melibatkan masyarakat, seniman, pelajar, komunitas budaya, hingga pengunjung dari berbagai daerah. Melalui pertunjukan seni, instalasi, pameran, diskusi budaya, dan berbagai aktivitas kreatif lainnya, Agar lebih dikenal masyarakat luas, maka sebanyak 50 karya aneka rupa Memedi Sawah, dipamerkan selama bulan Juni 2026.

“Memedi Sawah Festival berupaya menjadikan ruang sawah dan desa sebagai panggung kebudayaan yang hidup. Selain menjadi ajang perayaan budaya, festival ini juga diharapkan mampu memperkuat identitas lokal, mendorong partisipasi masyarakat dalam kegiatan kebudayaan, serta membuka peluang pengembangan ekonomi kreatif berbasis potensi desa,” ujar Vey.

Dengan semangat kolaborasi antara masyarakat, seniman, komunitas, dan pelaku budaya, Memedi Sawah Festival II Kalimasada, yang diwarnai dengan Gejog lesung, Tari-tarian, serta Arak-arakan Gunungan, diharapkan menjadi ruang perjumpaan yang mempertemukan tradisi, kreativitas, dan harapan akan masa depan kebudayaan yang berakar kuat pada nilai-nilai lokal.

Tentang Memedi Sawah Festival
Memedi Sawah Festival merupakan festival budaya berbasis masyarakat yang digagas oleh novelis dan budayawan Budi Sarjono. Festival ini mengangkat tradisi agraris sebagai sumber inspirasi seni dan kebudayaan, sekaligus menjadi ruang kolaborasi untuk memperkuat identitas budaya lokal dan keterlibatan masyarakat dalam pelestarian warisan budaya. (Feature of Impessa.id by Vey-Iwan-Antok Wesman)
