Feature

Pentas Seni SEHARI BOLEH GILA Di Studio KALAHAN Menghidupkan Kembali JOGJA Sebagai Barometer Seni Dunia

Pentas Seni SEHARI BOLEH GILA  Di Studio KALAHAN Menghidupkan Kembali JOGJA Sebagai Barometer Seni Dunia

Pentas Seni SEHARI BOLEH GILA  Di Studio KALAHAN Menghidupkan Kembali JOGJA Sebagai Barometer Seni Dunia

Impessa.id, Yogyakarta, Indonesia, April 2026: Rabu, 15 April 2026, di tengah perayaan Hari Seni Sedunia, puluhan orang datang dengan kostum, atribut, dan simbol yang tampak ganjil: ada yang mengenakan sayap, topeng, pakaian profesi masa kecil, hingga benda-benda yang menyerupai fragmen mimpi. Namun justru dari “keganjilan” itulah SBG -Sehari Boleh Gila, yang digelar di Studio Kalahan beralamatkan di Jalan Patukan, Ambarketawang, Gamping, Seman, Daerah Istimewa Yogyakarta, menghidupkan satu hal yang kerap terlupakan manusia dewasa: mimpi masa kecil sebagai sumber paling jujur dari kreativitas.

Seniman kondang Heri Dono, selaku tuan rumah, saat ditemui Impessa.id menuturkan, “Dengan tema ‘Spiritual Anarchy’ kita melihat apakah Jogja ini benar-benar sebagai pusat barometer seni atau hanya sebagai penamaan tanpa adanya realitas dimana kita tidak melakukan eksporasi, sehingga banyak sekali pameran-pameran yang kita tidak mendapatkan highlight dari seni tersebut.

“Isu-isu global ternyata juga bisa menjadi tema dimana kita adalah bagian dari masyarakat dunia untuk melihat kebijakan-kebijakan yang ada di masyarakat dunia itu juga bisa memberi dampak kepada eksistensi kita sebagai masyarakat dunia sehingga kemerdekaan berekspresi itu menjadi sangat penting, bahwa kita berkarya melalui hati-nurani,” ungkap Heri Dono.

Ada komunitas dari Tamansari mereka bikin demo membatik, kemudian Wendi Anhar yang berpidato tentang kesadaran akan kemerdekaan kita, kemudian Dwi Maryanto yang berdiskusi dengan Oe Hong Djien yang menegaskan bahwa event ini bukan yang sifatnya sensasi, tetapi event yang mencoba mencari kedalaman dari seniman Jogja dalam berekspresi di era 70-an 80-an, ketika para budayawan sangat subur disini, dan dengan adanya medsos, seharusnya mereka dibangkitkan kembali untuk menelaah apa yang diproduksi sebagai kebenaran yang sifatnya filsafati,

“Jadi disini kita lintas disiplin dan mencoba menghilangkan hirarki antara seniman sukses-seniman tidak sukses, seniman terkenal-seniman tidak terkenal, bahwa seniman itu pada intinya tidak mempunyai kelas sosial. Melalui SBG ini kita mencari momentum apakah betul kita betul-betul akan bisa menjadi lagi parameter senirupa dunia, karena marketnya begitu memborbardir sehingga terjadi singularitas, menjadi kesamaan pameran, sehingga kalau ada pameran dari rumahpun sudah tahu pamerannya akan seperti itu-itu saja. Hari ini kita memberikan shock therapy sehingga memberi dampak untuk event-event seni di Jogja selanjutnya,” jeas Heri Dono.

Seniman Heri Dono melihat perhelatan SBG memiliki arti penting dalam konteks perkembangan seni rupa Indonesia hari ini. Menurutnya, acara ini merupakan statement penting untuk menegaskan kembali parameter seni rupa Indonesia di tengah kecenderungan praktik seni kontemporer yang semakin mengerucut pada nilai singular.

“Kehidupan kontemporer justru ditandai oleh kemajemukan, tetapi perkembangan seni sering bergerak ke arah yang sebaliknya, lebih tunggal dan menyempit. Eksplorasi seni dewasa ini kerap mengalami stagnasi karena masih terjebak dalam narasi seni modern yang mapan. Akibatnya, dimensi localness, pembacaan global, dan ruang inventiveness sering terabaikan, sementara banyak perhelatan seni hanya berhenti pada level seremonial. Dalam konteks itulah SBG menemukan relevansinya: menghadirkan seni sebagai ruang inventif yang memberi kebebasan bagi seniman dan publik untuk mencari antitesis, formula kreatif, dan kemungkinan estetik yang baru,” imbuh Heri Dono lebih lanjut.

Sementara bagi Prof Drs, M. Dwi Marianto, MFA. PhD mimpi masa kecil bukan sekadar nostalgia, melainkan arsip batin yang terus hidup dalam hati, pikiran, dan kalbu manusia.

“Setiap orang punya mimpi masa kecil yang mendiami hati, pikiran, dan kalbu sang pemilik. Mimpi itu tak pernah bosan merengek, merajuk, minta disapa dan diindahkan; berperan sebagai juru rekam dan pencatat sejarah tuannya. Maka, mimpi masa kecil itu penting, mata air ide, tak ternilai harganya,” ujar Prof. Dwi.

Gagasan itulah yang menjadi landasan tema Spiritual Anarchy dalam SBG 2026. Para peserta hadir dengan busana dan atribut yang berkait dengan mimpi atau keinginan masa kecilnya, lalu secara bebas mengaktualisasikannya melalui simbol, metafor, tanda, maupun kombinasi elemen bahasa visual lainnya. Tujuannya bukan sekadar bermain imajinasi, tetapi membongkar endapan memori, mengarikaturisasi trauma menjadi energi kreatif, dan mentransformasikan masa lalu menjadi kesadaran baru.

Koordinator SBG, Lejar Daniartana Hukubun, menyebut forum ini sebagai ruang eksplorasi yang terus relevan bagi perkembangan seni dan kebudayaan.

“Sehari Boleh Gila dapat menjadi salah satu media eksplorasi untuk menghasilkan kebaruan kreatif. Dalam situasi yang memberi kebebasan penuh, orang sering menemukan lapisan paling autentik dari dirinya,” ujarnya.

Insanul Qisti Barriyah, pelaku seni sekaligus salah satu penggagas kegiatan menyatakan bahwa SBG lebih dari sekadar pertunjukan atau parade ekspresi, SBG telah menjadi ruang kebudayaan alternatif yang bertahan hampir dua dekade., mengingat kembali bagaimana forum ini pertama kali dirintis bersama Prof. Dwi pada 2007.

“Kami ingin menghadirkan seni sebagai ruang yang membebaskan manusia untuk kembali bertemu dengan dirinya yang paling awal: mimpi masa kecil, ingatan yang lama tertimbun, bahkan trauma yang bisa diolah menjadi energi kreatif,” kata Insanul Qisti Barriyah.

Tema mimpi masa kecil tahun ini juga memberi penekanan pada seni sebagai praktik mindfulness dan transformasi batin. Masa lalu tidak sekadar dikenang, tetapi dihadirkan kembali untuk dimaknai ulang sebagai sumber ide, keberanian, dan kemungkinan baru, untuk dilahirkan kembali menjadi mimpi baru.

Di tengah kehidupan sosial yang semakin serba cepat dan rasional, forum seperti SBG menjadi pengingat bahwa kreativitas sering lahir dari keberanian untuk sesaat “gila”: keluar dari kebiasaan, membiarkan imajinasi bekerja, dan memberi tempat bagi sisi manusia yang paling polos namun paling visioner.

Selama hampir 19 tahun, SBG terus menunjukkan bahwa seni tidak selalu harus dimulai dari kanvas atau galeri. Kadang ia justru lahir dari sesuatu yang lebih sederhana, mimpi masa kecil yang diam-diam masih tinggal di hati manusia dewasa.

Dalam pada itu, Vita mewakili teman-teman dari Bogor, dari Persatuan Gerak Badan Bangau Putih, yang menyempatkan hadir di acara “:Sehari Boleh Gila” di Studio Kalahan Jogja, kepada Impessa.id, dia menyampaikan rasa senangnya dapat hadir melihat langsung event tersebut, “Sehari Boleh Gila, bener-bener gila, seru, bagus, aku kagum, OK banget karya-karyanya,” ujarnya singkat. (Feature of Impessa.id by Antok Wesman)