Event

Pesantren Genuine, Standart Lokalitas Walisongo

Pesantren Genuine, Standart Lokalitas Walisongo

Ngopi PUSPPA -Ngolah Pikir Pusat Studi Pesantren dan Pendidikan, Series-4 bertema “Success Story: Santri dan Pesantren Menghadapi Intensitas Perubahan Zaman”

Impessa.id, Yogyakarta: Dalam acara Ngopi PUSPPA -Ngolah Pikir Pusat Studi Pesantren dan Pendidikan, Series-4 dengan tema “Success Story: Santri dan Pesantren Menghadapi Intensitas Perubahan Zaman” yang berlangsung Rabu, 17 Februari 2021, via Zoom PUSPPA jam 13.00 WIB, terungkap bahwa strategi kebudayaan pesantren dalam menghadapi tantangan zaman perlu upaya progresif dan adaptif.

KH Jazilus Sakhok PhD, Wakil Katib Syuriah PWNU Daerah Istimewa Yogyakarta menuturkan, “Pesantren genuine menghadirkan karakter dan nilai nilai lokal dan Islam yang harus dan terus dilestarikan. Mukhafadoh ngala qodimissolih ini bathiniyah, nilai, prinsip yang harus mengakar pada tradisi ke-Indonesia-an dan ke-Islam-an, wal akhdu bil jadidil aslakh adalah dohiriyah, perilaku, factor-faktor luar yang bisa berubah sesuai perkembangan zaman.”

Dikatakan, “Beberapa pesantren juga punya nilai yang tidak tertulis yang dipercayai sebagian masyarakat dan santri. Semisal jika rumah kyai-nya lebih bagus dari asrama santri, maka santri sulit bertambah. Pesantren menambah pembangunan gedung jika santri sudah memenuhi semua ruangan asrama. Ini masuk dalam kategori tradisi tidak tertulis. Hal ini juga mengajarkan nilai nilai kejujuran dan kesederhanaan dalam dunia pesantren dan ketokohan seorang kyai,” tutur KH Jazilus Sakhok.

“Masing-masing pesantren punya tradisi yang berbeda. Nilai kesederhanaan, jujur, kemandirian menjadi kunci kuat di pesantren. Ini semua didukung oleh kemampuan leadership dan uswah yang dicontohkan oleh kyai dan pengasuh pondok pesantren. Selalu ada yang istimewa di setiap pesantren sehingga banyak santri dan masyarakat yang fanatik dan terkesima dengan pesantren dan kyai-nya,” ujarnya lebih lanjut.

Dijelaskan, pesantren memodifikasi diri tetapi tidak luntur dari nilai-nilai islami. Modernitas adalah hal yang dianjurkan tetapi harus dimaknai dengan tepat. Modernitas merupakan kemampuan merespon perkembangan terkini. Dalam hal kecil bisa dilihat seperti kapasitas tampungan kamar, ada komputer, perbedaan level dan kelas, digital, sarpras (sarana-prasarana) dan masih banyak lagi lainnya. Kesalahkaprahan pemahaman modern yang masih sempit itu yang harus dipahami, karena modern punya konsekuensi perubahan yang menyeluruh. Modernitas harus mencakup semua kebutuhan masyarakat dan peradaban.

Menurut KH Jazilus Sakhok, pesantren dulu didirikan untuk mandiri dan tidak tergantung dengan Negara. Tetapi sekarang pesantren banyak berkolaborasi dengan Negara, CSR, Komunitas, Lembaga dan Yayasan. Pesantren adaptif kolaboratif tetapi tetap mandiri dengan ketangguhan, pemikiran dan pendidikannya. Inilah konsep modern yang terus dinamis yang dideskripsikan terus berkembang. Arti modern tidak relevan jika tidak menyeluruh dan malah bisa menjebak jika modern diartikan hanya terbatas pada sarpras, bukan pada metode pembelajaran dan banyak lagi lainnya. Modern dan salaf akan menimbulkan sekat dan pertanyaan-pertanyaan berikutnya, karena  tipologi tersebut masih dipandang sempit.

“Pola keterhubungan kyai dan santri itu sangat penting dalam sebuah pesantren. Para pengasuh yang membimbing dan mendampingi ribuan santri itu tidak mudah. Membagi pengasuh dan santri dengan ukuran yang ideal, model pengasuhan santri dan figure kyai yang karismatik juga teladan umat akan mampu menjaga nilai dan keterhubungan kyai bersama santri dalam sebuah pesantren,” ungkapnya.

Sanad pemikiran dan keilmuwan memang mengikuti ulama Timur Tengah tetapi sanad perilaku didasarkan pada kearifan dakwah lokal Walisongo. Pesantren genuine punya standar lokalitas Walisongo. Pemikiran dan gerakan menjadi satu kesatuan dan keterpaduan di pesantren. Nusantara merupakan tempat persilangan budaya, sehingga akulturasi dan filtrasi kadang terjadi. Pesantren genuine punya peran besar menjaga identitas, moralitas dan religiusitas negeri ini. Pesantren tidak genuine tidak punya sanad dan tidak memiliki standar lokalitas dan identitas diri dalam kearifan berkehidupan bersama di bumi nusantara.

Ngopi PUSPPA -Ngolah Pikir Pusat Studi Pesantren dan Pendidikan, Series-4 dengan tema “Success Story: Santri dan Pesantren Menghadapi Intensitas Perubahan Zaman” yang dimoderatori oleh Gus Muhammad Irfai Muslim MSi, Dosen UIN Sunan Kalijaga, selengkapnya dapat diakses via link YouTube - http://www.youtube.com/watch?v=GkJMNNcgbHQ. (Mochammad Sinung Restendy-Divisi Media PUSPPA/Antok Wesman-Impessa.id)