Feature

A Second Cup of Java, Novel Roman Karya Joriah Anwar, Penulis Singapura, Sarat Makna Edukasi

A Second Cup of Java, Novel Roman Karya Joriah Anwar, Penulis Singapura, Sarat Makna Edukasi

A Second Cup of Java, Novel Roman Karya Joriah Anwar, Penulis Singapura, Sarat Makna Edukasi

Impessa.id, Yogyakarta: Setelah sukses dengan buku pertamanya berjudul “A Cup of Java” atau secara harfiah disebut “Secangkir Kopi Pertama Mantap, Menantikan Hadirnya Secangkir Kopi Kedua". Joriah Anwar, penulis dari Singapura, yang juga pendidik Bahasa Inggris, meluncurkan lagi buku “A Second Cup of Java” A Tale of Teenage Angst and First-time Romance, yang mengisahkan romansa remaja putri Yogya dan pria Jakarta yang penuh liku-liku dan kejadiannya berlangsung di Yogyakarta.

Buku “A Cup of Java” karya Joriah Anwar (Author), sepenuhya didukung oleh Izzul Izz Ali (Editor), Saif Essad Bin Saim (Editor) dan Jack Chong Wei Lew (Illustrator). Buku tersebut.menelusuri cinta antara Dewi, remaja berusia 17 tahun, yang lahir dan besar di Yogyakarta dan Arjun, musisi penuh talenta, pria kaya Jakarta, dengan latar belakang keluarganya yang terkenal, kakek dari pihak ayahnya adalah mantan Wakil Gubernur Jakarta, kakek dari pihak ibunya adalah Dalang ternama.

(Miss Jo saat bertandang ke Jogja, bertemu kerabatnya)

Cinta kedua sejoli yang gagap, mengancam akan kandas di tengah jalan tanpa pernah lepas landas, terlepas dari kecantikan, bakat, kecerdasan, dan akal Dewi, sosok pemalu, sama pemalunya dengan kuncup mawar cantik yang tumbuh di belantara Merapi, gunung berapi aktif yang menjadi lanskap Yogya.

“A Second Cup of Java” karya Joriah Anwar yang akrab disapa Miss Jo, kali ini didukung oleh Muhammad Zaqi Raihan, (Ilustrator), Caesura Brilian Budhiasti (Ilustrator), Sophie Andrea Binte Adam Fiezan (Editor), Caesura Brilliant Budhiasti (Editor), Muhammad Zaqi Raihan (Editor), Foto Deposit (Fotografer). Terbit dalam Format: Kindle Edition, pada 30 Agustus 2020.

Disetiap peristiwa ataupun kejadian yang ditemui dan dialami Dewi, termasuk keluhan-keluhan batinnya, semua dia tuangkan kedalam Diary, Buku Harian-nya yang menjadi saksi bisu atas segala sesuatu yang menimpa dirinya. Tulisan-tulisannya yang diabadikan didalam Diary-nya, sangat membantu bagi Dewi, sebagai seorang yang begitu pemalu dan introvert.

Dewi yang tinggal bersama kedua orangtuanya bangun pagi-pagi bersamaan dengan kokok ayam pertama di pagi buta, serumah dengan Paman Norman. Dewi sebetulnya sangat mencintai Arjun, kekasih hatinya, namun lantaran pemalu, dia hanya bungkam seribu bahasa, tidak berani mengungkapkan kata hatinya. Terkadang Tindakan yang dilakukan Dewi justru berlawanan dengan apa yang ada dihatinya.

Sedangkan bagi Arjun, setiap ke Jogja, dia menginap dirumah bibinya dikawasan Kotabaru. Berhubung gaya hidupnya ala Jet-Set, maka Arjun lebih sering menggeluti profesinya sebagai musisi yang sering menggelar pementasan termasuk tur ke berbagai negara seperti Singapura dan Jepang.

"Oh, Arjun! Kau sangat tampan, dan aku sangat mencintaimu!" aku Dewi. “Oh Diary, kapan ilmuwan gila jenius akan menciptakan mesin yang dapat menyampaikan perasaan dilarang dari seorang gadis remaja pemalu kepada pria yang benar-benar dicintainya?” gumam Dewi.

Bahkan ketika pertemuan mereka di Pasar Minggu di Malang, dan kemudian Arjun menyanyikan lagu berjudul “Jaga Selalu Hatimu” yang begitu mengena bagi Dewi, sampai dia menulis didalam Diary-nya bahwa tubuhya merinding keheranan karena bagaimana bisa Arjun menyanyikan lagu favoritnya. “Apakah itu indra keenam atau mata ketiganya yang mengatakan kepadanya?” pertanyaan yang muncul dibenak Dewi. (Chapter 16)

Didalam novel roman itu, ada adegan yang berlangsung di rumah makan Ibu Rosa yang beralamatkan di jalan Sosrokusuman Nomor 27 Yogyakarta. Berikut cuplikan dialog yang terjadi antara Arjun dan Tante Sulastri.

"Apakah itu mengganggumu, Arjun, bahwa Dewi pemalu?" tanya Tante Sulastri.

"Sebenarnya tidak, Tante. Saya tidak berpikir dia akan menjadi pemalu selamanya. Bahkan aku menemukan rasa malunya agak menawan. Ada sesuatu yang melekat begitu seksi tentang orang pemalu. Setiap kali Dewi memberiku dua dari dirinya, aku tahu ada delapan lagi dalam harta karun cinta dan hasratnya bagiku untuk menggali lebih dalam dan menikmatinya." Jawab Arjun.

Pada saat kencan, Arjun berkata dengan suara yang sangat lembut: "Dewi, aku benar-benar menyesali komentarku tentang Jogja dan budaya Jawa yang membuatmu kesal. Aku hanya mengatakan semua hal itu karena aku orang Jawa, kakek dari pihak ayahku berasal dari Kolkata-India, tapi aku masih memiliki lebih banyak darah Jawa, jadi, aku benar-benar mengkritik diriku sendiri!"

Dewi menatapnya tajam, seolah sedang mencari informasi baru.

“Dewi, I have a rough idea why you’re unhappy with me, but I want to know exactly why – from the horse’s mouth because I want us to be together always – forever! Let’s thrash it out Dewi! Don’t let the resentment, anger and unhappiness poison your whole system.”

"Dewi, mengapa kamu tidak senang denganku, aku ingin tahu mengapa, karena aku ingin kita bersama selalu selamanya! Ayo Dewi! Jangan biarkan kebencian, kemarahan dan ketidakbahagiaan meracuni dirimu."

“Do you know why the English have to borrow the word ‘amuk’ from Malay? Most of us Malays – including Filipinos, allow ourselves to be bullied and then when our bottled-up resentment reaches boiling point, we snap, run amok and hurt anybody and everybody in our path. The English don’t have that word in their vocabulary as it’s not in their nature to let bullies continually take advantage of them, and then run amok and indiscriminately hurt innocent people.”

"Tahukah kamu mengapa orang Inggris meminjam kata 'amuk' dari Bahasa Melayu? Sebagian besar orang Melayu, termasuk orang Filipina, membiarkan diri kita diganggu dan kemudian ketika kebencian kita mencapai puncak, kita mengamuk dan melukai siapa pun dan semua orang di jalanan. Orang Inggris tidak memiliki kata itu dalam kosakata mereka, karena mereka tidak membiarkan pengganggu terus-menerus menganggu mereka, mengamuk dan tanpa pandang bulu menyakiti orang yang tak bersalah."

He looked at me with soulful eyes. “So Dewi please...”

Dia menatapku dengan penuh harap. "Ayolah Dewi..."

“You said that I was putting on a malu-malu kucing act! I’m a frigid snow-princess, cold and frozen all year round, and you’re sick and tired of all the shy and manja citizens of Yogya!”

"Kau bilang aku melakukan aksi malu-malu kucing! Aku seorang putri salju yang cuek, dingin dan beku sepanjang tahun, dan Kamu gak suka dengan warga Yogya yang pemalu dan manja!"

Even after seeing his shell-shocked face, I was determined to lay it on thick. “When aggressive women say, ‘That’s who I am!’ men like you applaud them for being true to their aggressive selves, but girls like me are never allowed to be true to ourselves!”

Wajah Arjun tampak terkejut, Dewi bertekad untuk tetap tegar. Ketika wanita agresif mengatakan “Itulah dia!' Pria menjadi salut ketika wanita agresif menunjukkan jati-dirinya, tetapi gadis-gadis seperti Dewi tidak mendapat ruang untuk menjadi diri mereka sendiri.

Dalam percakapan lain, Dewi sependapat dengan Arjun terkait anugerah Tuhan.

“I agree that Barack Obama is God’s gift to the US, and Pak Jokowi is God’s gift to the people of Indonesia, and George Best was God’s gift to Ireland and British soccer, and Tristan Alif and is God’s gift to Indonesian soccer and Alip BaTa and Fay Ehsan are God’s gift to Indonesian music 300%!” I said, pushing down my overflowing, hard-to-control emotions. “But I disagree with the idea that you’re God’s gift to women.”

"Aku setuju bahwa Barack Obama adalah karunia Tuhan bagi Amerika Serikat, dan Jokowi adalah karunia Allah bagi Indonesia, dan George Best adalah karunia Tuhan untuk Irlandia dan sepakbola Inggris, dan Tristan Alif merupakan karunia Allah bagi sepakbola Indonesia, serta Alip Ba Ta dan Fay Ehsan adalah karunia Tuhan untuk musik Indonesia 300%!" aku Dewi. "Tapi aku tidak setuju dengan gagasan bahwa kau adalah karunia Tuhan untuk wanita."sergahnya lebih lanjut.

“Why is that?”

"Mengapa begitu?" tanya Arjun heran.

“Because you’re God’s gift to me and me alone! And I love you!”

"Karena kau karunia Tuhan untukku dan aku sendiri! Dan aku mencintaimu!" jawab Dewi.

He looked at me for a long time with what I felt was a self-congratulatory smile.

Arjun menatap Dewi dengan rasa tertegun.

“A Second Cup of Java”, setebal 445 halaman, merupakan bacaan ideal bagi remaja usia 12-18 tahun, namun juga, menurut Miss Jo, penting bagi mahasiswa psikologi serta Konseloer Sekolah yang berhubungan dengan remaja.

Kepada Impessa.id, Miss Jo menuturkan, “Remaja pemalu meskipun mereka berpura-pura menjadi tangguh. Mereka mencoba menyembunyikan rasa malu mereka. Orang-orang pemalu sangat mudah tersinggung. Orang lain (orang tua) yang berurusan dengan remaja harus tahu bahasa tersembunyi mereka. Ketika seorang remaja mengatakan kepada sesama remaja "Kau Gila!" mereka sebenarnya mengatakan “Aku Suka Kamu”, karena remaja berbeda dengan orang dewasa.”

“A Second Cup of Java” berbahasa Inggris, yang Kindle Edition-nya dapat diperoleh di Amazon.com. Didalamnya, juga mengulas tentang resep kuliner yang populer di Indonesia, Singapura dan Malaysia, diantaranya, Rujak Cina, Power Paus Bakpao, Ikan Bakar Padang, Rendang, Laksa, Fish Head Curry. Ragam seluruh resep kujliner tersebut dapat disimak karena telah ditayangkan di channel YouTube Joriah Anwar.

Selain itu, didalam “A Cup of Java” Joriah Anwar menyertakan halaman Pintar Bahasa Inggris, tata-cara belajar Bahasa Inggris dengan mudah, seperti belajar menggunakan Idiom Bahasa Inggris, Kata Kerja Phrasal dan Peribahasa menggunakan metode alami. (Feature Impessa.id by Antok Wesman)