Event

Peringatan 75 Tahun Yogya Kota Republik, Senin 4 Januari 2021, Pukul 19.00 Live Streaming di Channel Youtube, paniradyakaistimewan.

Peringatan 75 Tahun Yogya Kota Republik, Senin 4 Januari 2021, Pukul 19.00 Live Streaming di Channel Youtube, paniradyakaistimewan.

Peringatan 75 Tahun Yogya Kota Republik, Senin 4 Januari 2021, Pukul 19.00 Live Streaming di Channel Youtube paniradyakaistimewan.

Impessa.id, Yogyakarta: Peristiwa historis kepindahan ibukota Republik Indonesia dari Jakarta ke Yogyakarta pada 4 Januari 1946 diperingati oleh Paniradya Kaistimewan Daerah Istimewa Yogyakarta, dengan pemutaran video dokumenter, talk show dan pentas sendraswara, yang dapat diakses oleh masyarakat luas melalui live streaming pada Senin 4 Januari 2021 pukul 19.00 WIB di https://youtube.com/c/PaniradyaKaistimewan.

Video dokumenter berisikan narasi sejarah ihwal kepindahan ibukota RI ke Yogyakarta dilanjutkan Talkshow bersama narasumber Kepala Paniradya Kaistimewan Aris Eko Nugroho SP MSi, Penghageng Tepas Dworopuro Kasultanan Ngayogyakarta KRT Jatiningrat, Penghageng Kawedanan Budaya dan Pariwisata Kadipaten Pakualaman KPH Indrokusumo serta Guru Besar UGM Prof. Joko Suryo. Puncak acara disuguhkan pentas sendraswara bertajuk "Uruping Greget Merdika".

Sebanyak 50 pelajar SD hingga SMA berkolaborasi mementaskan drama musikal Yogya Kota Republik, besutan anyar Pardiman Djoyonegoro dan tim Omah Cangkem.

Peristiwa kepindahan ibukota RI dari Jakarta ke Yogyakarta mulai 4 Januari 1946 hingga 28 Desember 1949 menjadi bukti nyata bahwa peran Yogyakarta sangatlah besar bagi keselamatan sekaligus tegaknya eksistensi NKRI. Saat itu pemimpin Yogyakarta Sri Sultan Hamengku Buwono IX dan Adipati Pakualam VIII berinisiatif menawarkan Yogyakarta sebagai ibukota RI. Selain memberikan tempat, Sultan dan Pakualam juga menanggung segala kebutuhan operasional para pemimpin negara, para menteri termasuk keluarganya. Di Menumbing Bangka di akhir Mei 1949 Sultan bahkan menyerahkan selembar cek senilai 6 juta Gulden kepada Soekarno, sebagai biaya operasional untuk memulai kembali pemerintahan RI.

Saat menginjakkan kaki di Yogyakarta, Presiden Soekarno bersama ibu Fatmawati, wakil presiden Moh Hatta bersama ibu Rahmi Hatta dan keluarga serta sejumlah staff, ditampung sementara waktu di Puro Pakualaman selama tujuh pekan, menunggu perbaikan istana negara Gedung Agung sepeninggal penguasa Jepang. Di Puro Pakualaman dwi tunggal menempati kamar bersebelahan yang dipisahkan kamar tamu. Ruangan keduanya disebut Gedung Parangkarso. Semua perabotan yang dipakai seperti ranjang, almari, meja kursi, wastafel bahkan toilet duduk, hingga kini masih terpelihara baik.

Diharapkan Gedung Parangkarso kedepannya didedikasikan menjadi museum proklamator dilengkapi dengan buku, literasi, foto, video dan sumber-sumber referensi terkait sosok proklamator, sebagai sarana menunjang edukasi sejarah bagi generasi muda.

Disaat Yogyakarta menjadi ibukota RI, terjadi beberapa peristiwa yang menentukan jalannya sejarah bangsa Indonesia. Mulai dari agresi militer ll Belanda, perang gerilya Panglima Besar Jendral Sudirman, perundingan-perundingan yang ditengahi Komisi Tiga Negara, Serangan Umum 1 Maret, penarikan mundur pasukan Belanda atau yang kemudian dikenal dengan peristiwa Yogya Kembali, Proklamasi Kedua oleh Sri Sultan HB IX pada 30 Juni 1949, pelantikan Soekarno sebagai presiden RIS di Siti Hinggil, hingga lahirnya Universitas Gadjah Mada di Kraton.

Widihasto Wasana Putra, Koordinator Sekber Keistimewaan DIY menuturkan, beragam konten peringatan 75 Tahun Yogya Kota Republik produksi Sekber Keistimewaan DIY dimaksudkan sebagai edukasi sejarah bagi masyarakat khususnya generasi muda sekaligus upaya untuk memperkokoh jiwa nasionalisme dan patriotisme. Terlebih di tengah konstelasi global dimana dasar negara Pancasila dan sendi-sendi persatuan nasional terus menghadapi ancaman seperti intoleransi, radikalisme dan terorisme.

Hal itu digarisbawahi pula oleh Gubernur DIY Sri Sultan Hamengku Buwono X didampingi Walikota dan Bupati se DIY saat menyambut kirab budaya pengukuhan Yogya Kota Republik pada 4 Januari 2011 di Pagelaran Kraton, bahwa Pemerintah Daerah akan mengeluarkan Surat Keputusan Gubernur yang mewajibkan warga memperingati momentum Yogya Kota Republik sebagai kekuatan bersama untuk membangun kebersamaan di dalam memberikan kontribusi dan menatap masa depan bagian dari NKRI. (Hasto/Antok Wesman-Impessa.id)