Feature

Banyak Pihak Mengapresiasi Hadirnya Rumah Budaya Hyatt Yogyakarta

Banyak Pihak Mengapresiasi Hadirnya Rumah Budaya Hyatt Yogyakarta

Banyak Pihak Mengapresiasi Hadirnya Rumah Budaya Hyatt Yogyakarta

Impessa.id, Yogyakarta: Hotel Hyatt Regency Yogyakarta, pada Minggu malam (27/12/2020) berkolaborasi dengan Rumah Budaya Royal House Cultural Activities, meluncurkan Rumah Budaya Hyatt dengan enam pentas seni secara marathon non-stop selama dua jam.

Ke-enam pentas seni tersebut masing-masing, Musik Kontemporer Lima Musisi Jalanan Malioboro, Monolog Jembatan dibawakan oleh cerpenis dan actor panggung senior Meritz Hindra, kemudian pementasan Wayang Milehnium Wae, dilanjutkan Musik dan Tari Mahameru oleh IENA Community, Monolog Bulan Pingsan Di Ubun, oleh aktor panggung Teguh Mahesa, dan diakhiri dengan pentas Wayang Garuda, kolaborasi antara Ki Nanang Garuda dengan Ki Ismoyo Budi Santoso.

Gardala -Garuda Pancasila, malam itu, Minggu (27/12/2020) berhasil mengalahkan Raksasa Corona dua warna Merah-Hijau yang telah mengganggu Bumi Nusantara dan berkibarlah Sang Saka Merah-Putih di atas pulau-pulau besar Sumatra, Jawa, Kalimantan, Sulawesi dan Papua, representasi Indonesia dalam wujud wayang.

Demikian cuplikan tampilan Wayang Garuda mewarnai keberadaan Rumah Budaya Hyatt Yogyakarta, dibawakan secara kolaborasi antara Ki Nanang Garuda dengan Ki Ismoyo Budi Santoso, mengangkat lakon “Gardala Kridha Mbrantas Memala”, mengisahkan perjuangan Gardala dan para Rakyan Nusantara yang kini sedang dirundung berbagai masalah, lebih-lebih saat munculnya pandemic global virus Corona.

Singkat cerita, keadaan semakin kritis ketika pada waktu bersamaan Bethara Angkara beserta antek-anteknya semakin brutal menciptakan kegaduhan di Bumi Nusantara, agar mereka lebih leluasa mengeruk kekayaan demi kepentingan ambisi kekuasaan. Seluruh sendi kehidupan berbangsa dan bernegara menjadi lumpuh dan Sang Gardala Kembali muncul menjadi penyelamat bagi Ibu Pertiwi.

Kemudian pementasan Wayang Milehnium Wae, wayang-wayang berukuran besar terbuat dari lembaran aluminum sehingga jika digerakkan atau digesek-gesekkan menimbulkan efek suara nyaring-bergemuruh, sebagai hasil olah dan kreasi Ki Mujar Sangkerta dari Institut Sangkerta Indonesia, malam itu dimainkan oleh Ki Waluyo.

Wayang Millehnium Wae hadir manakala bumi dalam kegelapan. “Ia hadir menjadi semacam penolak bala, menyeruak, menerobos sengkala demi memukul lebur kehidupan seperti pandemic global Covid-19 agar segera sirna dari Bumi Nusantara,” ujar Ki Mujar.

Musik dan Tari Mahameru oleh IENA Community. Tampilan tarian modern yang didalamnya mengambil idiom tari Jawa, Sunda, Bali, Kalimanntan, dan tari Sumatra. IENA yang didirikan di Jakarta pada 2012 oleh Arita Savitri, merupakan gabungan kelompok musik dan tari yang mengangkat karya sendiri bertemakan keindahan alam, nilai-nilai filosofis, mitos, legenda, cerita sejarah, dan perdamaian ummat manusia.

Monolog Jembatan dibawakan oleh cerpenis dan actor panggung senior Meritz Hindra. Monolog Jembatan menyiratkan kehidupan manusia yang senantiasa bergulir dalam ketidakpastian. “Bagaimana kita menyikapi persoalan-persoalan dalam hidup menjadi cara untuk tetap bertahan, sebagai sebuah laku hidup dalam diri kita masing-masing,” tuturnya.

Meritz Hindra mengatakan, banyak pilihan dalam hidup dan berkehidupan. Dalam perenungannya muncul pencerahan lewat suara Adzan, suara Allah yang menjadi panggilan dan pengingat menuju kebesaranNYA.

Agenda berikutnya berupa Monolog berjudul “Bulan Pingsan Di Ubun,” dicuplik dari karya sastra Damtoz Andreas dan dibawakan ulang oleh aktor panggung Teguh Mahesa didukung pantomimer Marco Dinata dan iringan music oleh composer-musisi Memet Chairul Slamet.

Monolog “Bulan Pingsan Di Ubun” menyuarakan ketidakberdayaan yang selalu menjadi dilema bagi manusia. Ketidakberdayaan juga memiliki banyak arti didalam setiap lini kehidupan. Ketidakberdayaan bisa menjelma menjadi puncak dari segala bentuk kebimbangan yang mempengaruhi raga-rasa-pikir. Ketidakberdayaan ikut membangun ketidaknyamanan ditengah keberadaan hidup.

Musik Kontemporer bersama lima pemusik-musisi jalanan Maloboro yakni Jojo, Mujar, Tufan, Gatot dan Bejo. Musik Kontemporer yang tampil jam-session di awal dan di akhir acara, memadupadankan musik diatonik dan pentatonic, seperti Saron, Gender, Kendhang, Siter, Jimbe, Patrol, Suling, Bass Gitar dan Drum.

Berikut tanggapan seniman Nanang Garuda yang ditemui Impessa.id. “Luar biasa, karena hari ini Hyatt memberi ruang untuk menampilkan apresiasi budaya, jadi sambil kami menunggu untuk bisa mengisi kegiatan berekspresi dan berkesenian, ini saat yang tepat diakhir tahun semoga dengan tema corona ini harusnya segera pergi dari Indonesia, dengan beberapa tema yang ditampilkan oleh seniman lain lagi, mudah-mudahan bener-bener di tahun 2021, itu lenyap dari Bumi Nusantara,” ungkapnya.

Dalam kesempatan itu, Tazbir Abdullah kepada Impessa.id mengemukakan pendapatnya. “Menurut saya justru sekarang ini kita berbicara tentang bagaimana membangun satu kolaborasi, dan ini langkah real, kolaborasi antara temen-temen dipelaku pariwisata khususnya perhotelan khususnya hotel Hyatt, dengan temen-temen seniman-budayawan. Jogja ini kan basisnya adalah budaya, nah budaya yang dibawa ke lingkungan hotel, menjadi sesuatu yang bisa dinikmati oleh public, walaupun dalam kondisi pandemic, tapi tetep dengan standard protocol. Yang penting ini inisiatif dan action yang sangat real, yang kita tunggu-tunggu. Jadi dalam kondisi begini, kolaborasi seperti ini, langkah real, langkah strategis yang sangat diharapkan.”

“Mudah-mudahan Hyatt ini sudah mulai dalam melakukan sesuatu ya tentu saja di evaluasi dan sebagainya, terutama mungkin pentasnya, menjadi pentas untuk jualan pariwisata, ya konsepnya, ya durasinya, kita evaluasi, tetapi ini awal yang bagus. Saya appreciate, apresiasi kepada Hyatt yang sudah memulai, menggarap kolaborasi dengan pentas seni,” imbuih Tazbir.

Sementara itu, kepada Impessa.id, cerpenis senior Meritz Hindra mengatakan. “Dalam situasi dan kondisi sekarang ini, Covid-19 kita ambil hikmahnya, hantam dengan doa, hantam dengan keyakinan, hantam dengan kreatifitas tetapi protocol Kesehatan tetap dijaga. Jadi kita tetap bergerak, tetep aktif tapi dengan prokes. Kaitannya dengan Hyatt, itu sangat kita apresiasi karena dia mulai membuka ruang berkesenian, ruang berkebudayaan, baik yang bersifat tradisi maupun non-tradisi. Paling tidak berbudaya menjadi sangat penting dalam situasi yang sekarang ini.”

Usai pementasan, Memet Chairul Slamet yang kini berprofesi sebagai Pengajar Komposisi Musik, Ilustrasi Musik, Estetika dan Metode Penelitian di ISI Yogyakarta saat ditemui Impessa.id menyatakan. “Ada suatu kesadaran bahwa budaya itu menjadi penting untuk diimplementasikan untuk sekelas hotel semacam ini (Hyatt). Jadi orientasi mereka sudah bukan lagi pada komersial saja tetapi memberikan apresiasi kepada tamu-tamu hotel. Karena tamu-tamu hotel biasanya kan hanya diisi hiburan yang sifatnya ringan-ringan saja, tetapi sekarang mereka kayaknya punya orientasi bagaimana tamu-tamu disini juga diberi kepuasan sebuah karya seni yang dikomunikasikan oleh si seniman kepada para penontonnya. Menurut saya ini sebuah peningkatan kesadaran orientasi diluar mainstream,” aku Memet Chairul Slamet.

Disela-sela eforia suksesnya acara, General Manager Hyatt Regency Yogyakarta I Nyoman Gedhe Nurcahyadi menguraikan suka-cita yang dia rasakan kepada Impessa.id. “Malam ini saya senang sekali bisa bersama-sama menyaksikan pergelaran budaya yang dari dulu saya pengin banget lakukan. Embrionya mungkin dari sekitar 40 tahun yang lalu, waktu itu saya masih umur 10 tahun, saat itu kalau libur kita pergi ke Balai Desa belajar Gamelan. Ada temen yang belajar tari, ada yang belajar wayang, ada yang belajar untuk Ngedhalang. Hal itu wajar banget terjadi di desa-desa, di kampung, jaman dulu. Pada waktu itu Sanggar Tari itu hidup, dan orang bisa mendapatkan penghasilan dari sana. Sekitar 20 tahun terakhir ini yang terjadi justru perubahan yang sangat drastis, anak-anak muda mulai meninggalkan hal-hal seperti itu, ada keresahan yang kita harus mulai menggali, karena kita sebagai generasi orangtualah yang seharusnya meninggalkan warisan nenek-moyang kepada anak-anak kita. Akibat teknologi, anak-anak sekarang lebih tertarik kepada budaya Barat dari Amerika dan budaya Asia dari Korea. Hal itu seharusnya meresahkan kita," akunya.

"Nah, apa yang kita lakukan di Hyatt, akhirnya kita ingin menjadi ikut berperan untuk menjadikan Hyatt sebagai Rumah Budaya, dimana para seniman bisa menunjukkan dengan bangga apa yang mereka lakukan, menunjukkan kepada dunia bukan hanya di Jogja atau di Indonesia tapi juga ke seluruh dunia bahwa budaya kita luar biasa bagus. Orang-orang luar menjadi keder melihat budaya kita. Untuk itu Hyatt ingin ikut berperan dan pertunjukan malam ini menjadi awal suatu pelestarian budaya dan sinergi yang bagus diantara pelaku budaya dan Hyatt sebagai panggung budayanya. Kita ingin menunjukkan kepada dunia bahwa kita punya sesuatu yang bagus di Jogja dan kita ingin melestarikan itu,” ungkap Nurcahyadi secara panjang lebar.

“Terimakasih kepada semua seniman dan Royal House, sebagai uji-coba, pertunjukan malam ini tidak ada satupun yang mendapat manfaat finansial, semua dengan sukarela, semuanya dengan satu tujuan mulia untuk menjaga budaya itu sendiri, untuk bermain, untuk membuat budaya kita tetap ada. Hyatt ingin, mudah-mudahan ada step-step berikutnya, bersama-sama berkolaborasi menunjukkan sinergi untuk menjaga budaya[BY1]  supaya anak-cucu kita bisa menikmatinya sampai nanti,” imbuhnya.

Guna menindaklanjuti sukses perhelatan perdana Rumah Budaya Hyatt, General Manager Nurcahyadi melalui Impessa.id menjelaskan. “Kita tetap mau mempertahankan supaya Hyatt ada pentas budaya yang berikutnya, dimana kita mengangkat budaya-budaya yang non-mainstream, yang jarang dipentaskan, Hyatt tugasnya menjaga itu semua. Kita ingin berkolaborasi lebih banyak lagi, supaya seniman-seniman yang selama ini susah mencari panggung, akan bisa mendapatkan panggung disini,” paparnya.

Emha Irawan, Director Rumah Budaya Royal House Cultural Activities dalam sambutan tertulis yang dibacakan oleh Arya Pandhu menyampaikan apresiasi atas kehadiran Rumah Budaya Hyatt sebagai sebuah usaha memperjuangkan agar seni budaya tetap lestari dan menjadi bagian penting dari pembentukan karakter kebudayaan di semua lini kehidupan bangsa. Karena dengan begitu eksitensi dan konsistensi seni budaya itu dapat terus terjaga untuk kita lestarikan bersama.

Menurutnya, Ikon Jogja dengan segala hiruk-pikuknya menjadi klangenan tersendiri sebagai cermin dari kota Seni dan Budaya yang sudah mengakar kuat di Indonesia. Kesinambungan hubungan Manusia dengan Manusia, Manusia dengan Alam Lingkungannya dan Manusia dengan Sang Pencipta-Nya. Menjadi sesuatu yang relevan untuk kita angkat kembali dengan hadirnya Rumah Budaya Hyatt melalui kesatuan Raga-Rasa-Pikir yang tercermin dalam Wiraga, Wirasa dan Wirama.

“Kami merasa bangga dan terhormat bisa menjadi bagian dari perubahan dalam menyikapi geliat jagat seni dan budaya di Yogyakarta dan Sleman pada khususnya. Karena perubahan itu adalah sesuatu yang pasti, menjadi bagian dan ikut mengambil peran dalam perubahan itu jauh lebih penting, sebagaimana keberadaan Rumah Budaya Hyatt,” tutup Emha Irawan. (Features Impessa.id by Antok Wesman)


 [BY1]buhnya