Event

Hari Guru 25 November Bertepatan Kelahiran Pak Tino, Dirayakan Dengan Pameran Lukisan Benang Budiati-Gina Di Museum Taman Tino Sidin Yogyakarta

Hari Guru 25 November Bertepatan Kelahiran Pak Tino, Dirayakan Dengan Pameran Lukisan Benang Budiati-Gina Di Museum Taman Tino Sidin Yogyakarta

Hari Guru 25 November Bertepatan Kelahiran Pak Tino, Dirayakan Dengan Pameran Lukisan Benang Budiati-Gina Di Museum Taman Tino Sidin Yogyakarta

Impessa.id, Yogyakarta: Memperingati Hari Guru Nasional 25 November sekaligus mengenang almarhum Guru Gambar Pak Tino, Museum Taman Tino Sidin yang berlokasi di Jalan Tino Sidin 297, Kasihan, Bantul, Yogyakarta, menggelar pameran lukisan benang, bertajuk "Simpul Hati Dalam Estetika Benang dan Warna Budiati-Gina", hingga 31 Desember 2020.

Sebanyak 30 lukisan benang tersebut menjadi kado istimewa bagi kedua perupa yang sama-sama berulang tahun pada bulan Desember. Keduanya bersahabat sejak lama, bahkan orang tua kedua perupa itu teman karib. Budiati adalah putri Tino Sidin, sedangkan Gina Lubis adalah putri Batara Lubis.

Hajar Pamadhi selaku kurator pameran mengatakan, tajuk pameran "Simpul Hati dalam Estetika Benang & Warna" memaknai arti “simpul hati” mereka dari orang tuanya; Gina Lubis mengeksplorasi gagasan ayahnya Batara Lubis dan Budiati dari Tino Sidin. Kedua perupa ingin menautkan simpul hati mereka dengan orang tuanya melalui benang-benang warna yang disulamkan, ditisikkan, dan dijahitkan pada kain.

"Keduanya sama-sama anak perupa, bahan dan materi sama, namun ketika membaca nilai estetika objek menjadi berbeda. Gina mencari kesan ‘brush stroke' dengan menisikkan benang wool pada taferil kain. Budiati mengangkat tema lebih dahulu kemudian mencurahkan gagasannya dengan smooth tisikan benang wool yang variative. Sketsa-sketsa Batara Lubis diterjemahkan oleh Gina dengan mengaksentuasikan warna-warna benang wool. Gubahan warna pada beberapa karya seperti 'Penjual Mainan', 'Sewandanan', maupun 'Penjual Sayur' menjadikan warna tersendiri sketsanya Batara Lubis," ujar Hajar Pamadhi.

"Sedangkan Budiati membiarkan talenta gambar bentuk serta ilustrasi mendasari ekspresinya. Rasa estetika Budiati menampak pada pengembangan bentuk yang realis sehingga warna dan figur orang menjadi semakin jelas ‘Rasa Budiati’. Gambar bentuk pada karya berjudul 'Sayuran', 'Bunga dan Kupu-kupu', dan 'Empat Wajah', misalnya, merupakan kemasan rasa estetika bentuk sebagai alumni Pendidikan Seni tampak jelas," imbuh Hajar Pamadhi.

Pembukaan pameran berlangsung Rabu, 25 November 2020 jam 16.00 WIB oleh Erlina Hidayati Sumardi S.IP MM, Kepala Dinas Pemberdayaan Perempuan Perlindungan Anak dan Pengendalian Penduduk Daerah Istimewa Yogyakarta. Selama pameran juga digelar Workshop Melukis Benang pada 22 Desember 2020 di Museum Taman Tino Sidin.

Rangkaian perayaan memperingati Tino Sidin telah digelar sejak Oktober, berupa Lomba Lukis On the Spot, Sarasehan Seni, dan Pameran Hasil Lomba Lukis. Tino Sidin lahir pada 25 November 1925 dan meninggal dunia pada 29 Desember 1995 (umur 70 tahun), juga dirayakan Google dengan meluncurkan Google Doodle spesial HUT Tino Sidin 25 November 2020.

"Ini merupakan kado yang sangat spesial. Kami berterimakasih atas apresiasi dari Google untuk Pak Tino. Dengan Google Doodle Tino Sidin ini generasi milenial tentunya lebih antusias ingin tahu dan mengenal sosok Tino Sidin," tutur Kepala Museum Taman Tino Sidin, Panca Takariyati Sidin.

Communication Manager Google Indonesia, Feliciana Wienathan, menyampaikan, selain diperingati sebagai Hari Guru Nasional yang menandai berdirinya Persatuan Guru Republik Indonesia di tahun 1945, tanggal 25 November juga merupakan hari lahirnya salah satu tokoh guru di Indonesia, Pak Tino Sidin.

“25 November ini, Google Doodle merayakan salah satu tokoh guru di Indonesia, Pak Tino, yang dikenal melalui serial televisi 'Gemar Menggambar', di mana Pak Tino mengajari anak-anak cara menggambar dan mengasuh bakat kreatif mereka," tutur Felicianan.

Seperti banyak guru yang dirayakan di seluruh negeri setiap tanggal 25 November, Pak Tino mengasuh siswanya melalui dorongan positif, mendorong mereka untuk mencoba dan tidak takut membuat kesalahan dengan menunjukkan tutorial sederhana, mendorong untuk terus berkarya dengan menampilkan karya yang beliau terima dari anak - anak di seluruh penjuru Indonesia dan menyemangati dengan ucapan yang berkesan hingga kini: “Ya, bagus”.

"Selamat Ulang Tahun untuk para pendidik di Tanah Air, yang telah membantu memercikkan kreatifitas anak Indonesia, terima kasih kepada semua guru yang tanpa lelah telah membina generasi penerus bangsa," ungkap Feliciana Wienathan. (Ekha/Antok Wesman-Impessa.id)