Ekonomi-Bisnis

Pranatan Anyar Plesiran Jogja Dipadu Polis Asuransi, Membuat Tenteram Wisatawan

Pranatan Anyar Plesiran Jogja Dipadu Polis Asuransi, Membuat Tenteram Wisatawan

Pranatan Anyar Plesiran Jogja Dipadu Polis Asuransi, Membuat Tenteram Wisatawan

Impessa.id, Yogyakarta: Sejak Maret 2020, wabah virus Corona yang kemudian melanda Indonesia, menghentikan aktivitas seluruh masyarakat di Tanah Air, akibatnya antara lain, dunia pariwisata lumpuh total. Kini, setelah enam bulan semua orang melakukan Stay at Home dan Work from Home, di Daerah Istimewa Yogyakarta, kehidupan mulai berangsur pulih kembali, termasuk industri pariwisatanya.

Terkait dengan terjadinya perubahan tata kehidupan yang diakibatkan banyaknya korban meninggal setelah terpapar wabah virus Corona tersebut, Pemerintah Daerah Istimewa Yogyakarta menetapkan tata-aturan baru Pranatan Anyar Plesiran Jogja, yang mencakup 4M yakni, Memakai Masker, Mencuci Tangan, Menjaga Jarak dan Menjauhi Kerumunan. Hal itu guna mencegah merebaknya pandemi Covid-19 di seluruh sektor aktivitas kehidupan, termasuk destinasi wisata.

Dalam paparannya pada Webinar bertajuk “Sinergi Menunbuhkan Sektor Pariwisata Pasca Pandemi”, inisiasi wartawan ekonomi Yogyakarta, dipandu Benny, Selasa (17/11/2020), Dr Siswanto Spesialis Paru-Paru, anggota Satgas Rumah Sakit Akademik Universitas Gadjah Mada, menekankan manfaat pemakaian masker wajah. “Masker kain yang ideal minimal dua lapis, lebih bagus lagi kalau terbuat dari paduan hybrid kain katun dan flannel, selain mampu menghalangi dari sisi mekanis, penyebaran virus dari seseorang ke orang lain, ketika bertemu dan saling bercakap-cakap, juga dari sisi elektro statis, karena dua kain yang menempel itu memunculkan listrik statis, yang berfungsi menghalangi pergerakan virus,” ungkapnya.

Dr Siswanto juga menuturkan bahwa kebanyakan pasien Covid-19 itu kadar vitamin D didalam tubuhnya rendah, sehingga mengurangi imunitas tubuh, hal itu sangat ironis, mengingat hidup di iklim tropis seperti di Indonesia ini, pancaran cahaya Matahari melimpah dan itu menjadi sumber vitamin D yang murah, tanpa biaya apapun. Juga produk ikan yang melimpah itu merupakan sumber vitamin D pula.

Terkait ide adanya aliran udara di hotel-hotel, Dr Siswanto sangat mendukung karena Aliran Udara itu menrupakan unsur Rekayasa dari empat unsur yang digaungkan yaitu, Eliminasi dan Substitusi, kedua itu sudah dianggap lewat, karena wabah sudah merebak dimana-mana, dan APD (Alat Pelindung Diri). “Aliran Udara di ruang tertutup itu penting, karena jika seseorang yang terpapar Covid-19, berbicara dalam satu menit saja, maka dia mengeluarkan 100 virus ke udara, kalau dia ngomong selama 10 menit, maka dia mengeluarkan 1000 virus ke udara, bayangkan kalau lawan bicaranya menghirup udara yang tercemar virus itu, otomatis akan terpapar juga. Nah kehadiran Aliran Udara dapat membawa keluar virus yang terkumpul di ruangan tertutup tersebut, mengingat virus Corona jika berada di udara terbuka akan mati dalam waktu satu menit,” jelas Dr Siswanto.

Dalam kesempatan itu Marlina Handayani, Kepala Bidang Pemasaran Dinas Pariwisata Daerah Istimewa Yogyakarta memaparkan progress industri pariwisata di DIY sejak September 2020. “Dari 139 Destinasi Wisata yang ada di DIY, 93 diantaranya, melakukan uji-coba Pranatan Anyar Plesiran Jogja, sebanyak 26 Destinasi Wisata telah dinyatakan lulus dan ke-26 Destinasi Wisata di DIY itu, aktif pengguna reservasi OnLine Visiting Jogja, sehingga meyakinkan wisatawan dapat berkunjung secara aman dan nyaman,” jelas Marlina Handayani.

Marlina Handayani menambahkan, bahwa para wisatawan yang berkunjung ke Jogja tersebut, dengan rata-rata kunjungan sampai November 2020, sebanyak 30-36-ribu kunjungan, mayoritas berasal dari DIY sendiri, dan posisi kedua dari Jawa Tengah. “Mereka wisatawan usia produktif, 18-35 tahun, lebih memilih destinasi wisata alam, terbuka, Pantai Baron dan Parangtritis paling diminati wisatawan nusantara,” imbuhnya lebih lanjut.

Sementara, Luile Retno Sawitri, Head of Corporate Communication and Event Management AXA Mandiri dari Jakarta, melalui Webinar tersebut mengungkapkan adanya peningkatan animo masyarakat untuk menjadi nasabah AMFS selama pandemi ini. “Ini menggembirakan, karena misi kami terkait literasi asuransi warga masyarakat di respon positif, banyak warga yang mengajukan pertanyaan mengenai tata-cara berasuransi. Untuk Yogyakarta, kami memiliki lebih dari satu juta pemegang polis AMFS, 27-ribu diantaranya Polis Syariah dan Polis Konvensional,” aku Luile Sawitri. (Antok Wesman-Impessa.id)