Event

Mulai Selasa, 3 November 2020, Selama Dua Pekan, Dilakukan Uji Coba Pedestrian Kawasan Malioboro

Mulai Selasa, 3 November 2020, Selama Dua Pekan, Dilakukan Uji Coba Pedestrian Kawasan Malioboro

Mulai Selasa, 3 November 2020, Selama Dua Pekan, Dilakukan Uji Coba Pedestrian Kawasan Malioboro

Impessa.id, Yogyakarta: Malioboro dipilih sebagai uji-coba Pedestrian dikarenakan Kawasan Malioboro merupakan bagian dari Kawasan Sumbu Filosofi. Dimana Kawasan tersebut sedang diajukan sebagai bagian dari World Heritage ke UNESCO.

Penataan transportasi menjadi salah satu poin penting dimana kondisi sekarang bahwa Malioboro adalah Pusat Ekonomi di Kota Yogyakarta, krodit, macet, sehingga perlu adanya penanganan rekayasa dan manajemen lalulintas agar benar-benar bahwa Malioboro bisa mendukung fungsi-fungsi yang diharapkan menjadi bagian dari World Heritage tersebut. Uji coba Pedestrian Kawasan Malioboro telah dilakukan disetiap Selasa Wage sejak awal 2020.

Ni Made Dwipanti Indrayanti, Plt Kepala Dinas Perhubungan Daerah Istimewa Yogyakarta menuturkan, “Sekarang ini kami menerapkan system manajemen dan rekayasa lalulintas yang kami sebut Giratory Penuh dengan Modifikasi Satu Arah. Giratory adalah berlawanan dengan arah Jarum Jam. Jadi nanti satu arah, ini akan diberlakukan khusus di seputaran Kawasan Malioboro. Jadi dari Jalan Suryotomo, dari Jalan Mataram, Jalan Abubakar Ali, Jalan Pembela Tanah Air, kemudian Jalan Suprapto, itu satu arah”.

“Khusus untuk Jalan Malioboro, kami hanya memperkenankan kendaraan tidak bermotor yang boleh melintas, kecuali Bus Trans Jogja, mobil Kepolisian, mobil Layanan Kesehatan, mobil Pemadam Kebakaran, dan kendaraan Patroli. Harapannya ini akan mendukung terkait dengan penataan secara tertib transportasi yang memang menjadi bagian dari rekomendasi Tim Kebudayaan untuk mendukung Kawasan Filosofis ini sebagai bagian dari World Heritage,” ungkapnya.

Menurut Ni Made Dwipanti Indrayanti, kelak dengan itu, semua akan merasakan kenyamanan yang ada disana, khususnya yang melintas di Jalan Malioboro, karena memang sudah tidak terganggu lagi dengan kebisingan, bisa berjalan dengan santai sambil menikmati aktivitas perekonomian yang ada disana.

“Kami tekankan bahwa di Jalan Malioboro itu kami berlakukan satu arah untuk kendaraan yang telah kami sebutkan tadi yang diperbolehkan melintasinya. Bus Trans-Jogja, sepeda tetap satu arah menuju ke arah Selatan, terkecuali Sepeda Patroli yang boleh berlawanan arah. Mengingat suasana masih pandemic Covid, khusus bagi pesepeda yang biasanya sering berkumpul, tidak ada pemberhentian di sepanjang Malioboro. Untuk arus Pejalan Kaki, kami juga membagi, jadi untuk yang kearah Selatan, berada di sisi Timur, yang kearah Utara ada di sisi Barat,” imbuhnya.

Pelaksanaan uji coba selama dua minggu, dimulai Selasa, 3 November 2020, jam 11 siang, sampai jam 10 malam, untuk Jalan Malioboro. Tetapi untuk jalan di luar Malioboro, yang termasuk kawasan uji coba ini, Giratory-nya, satu arahnya, diberlakukan 24 jam. Setelah tanggal 3 November, untuk Jalan Malioboro pelaksanaannya dimulai jam 6 pagi.

Dijelaskan, untuk Loading barang, untuk aktivitas ekonomi yang ada di Kawasan Malioboro, dapat dilakukan setelah jam 10 malam, sampai dengan sebelum jam 6 pagi. Semoga wisatawan dapat jalan-jalan di sepanjang Malioboro dengan nyaman, santai, dan akhirnya menumbuhkan perekonomian di kawasan tersebut.

Terkait ruang parkir, memang masih menjadi problema tersendiri, hiimbauan pemerintah daerah yakni semakin banyak masyarakat yang menggunakan moda transportasi publik, dalam hal ini Bus Trans Jogja, yang jumlahnya terus ditambah, sehingga dapat mengurangi kepadatan lalulintas, semakin berkurang individu yang membawa mobil sendiri, sehingga semakin berkurang yang memerlukan kantong parkir. “Berapapun jumlah kantong parkir yang kami sediakan tetap tidak akan pernah mencukupi kebutuhan masyarakat, karena semakin banyak orang yang memiliki mobil pribadi,” ujar Ni Made lebih lanjut.

Di Kawasan Malioboro telah tersedia kantong-kantong parkir, masing-masing, di Abubakar Ali, di Ngabean, di Pasar Sore, sebelah Pasar Beringharjo, di dekat Ramai Mall, untuk wisatawan yang masuk dari arah Kebun Binatang Gembiraloka dapat menggunakan kantong parkir di Jalan Panembahan Senopati. Pengunjung yang dari arah Barat dapat menggunakan kantong parkir Ngabean. Wisatawan yang masuk dari arah Jalan Magelang dapat menggunakan kantong parkir Abubakar Ali.

Pada saat penerapan rekayasa dan manajemen lalulintas ini untuk bus yang melalui Jalan Mangkubumi itu memutarnya tidak lagi harus ke Stadion Kridosono Kotabaru, karena setelah Lampu Merah yang ada di Kleringan, di bawah Jembatan Kereta Api, bus memutar, hingga Simpang Bersinyal, disamping Parkir Abubakar Ali. Simpang Bersinyal tersebut untuk mengatur arus lalulintas yang datang dari Kotabaru dan dari Jalan Mataram. Kendaraan yang dari Jalan Mataram tidak lagi memutari Gardu Anim, namun sebelum Gardu Anim, langsung belok ke kanan menuju kearah Kotabaru. Tetapi untuk Bus, akan memutar Gardu Anim dan masuk ke kantong parkir Abubakar Ali.

Pihak Dinas Perhubungan DIY kini sedang mempersiapkan kantong-kantong parkir tambahan di pinggiran kota, agar tidak seluruhnya Bus Pariwisata masuk kedalam Kota. (Humas Pemda DIY/Antok Wesman-Impessa.id)