Event

Wisuda Universitas Widya Mataram Periode 56 dan 57, Wisuda Bukan Purna Tugas untuk Berhenti Belajar

Wisuda Universitas Widya Mataram Periode 56 dan 57, Wisuda Bukan Purna Tugas untuk Berhenti Belajar

Wisuda Universitas Widya Mataram Periode 56 dan 57, Wisuda Bukan Purna Tugas untuk Berhenti Belajar

Impessa.id, Yogyakarta: Wisuda bukanlah purna tugas untuk berhenti belajar, namun, ilmu yang sudah didapatkan di kampus dilanjutkan untuk digunakan membantu masyarakat dalam menyelesaikan permasalahan dan tantangan yang semakin kompleks. Demikian disampaikan Prof. Dr Edy Suandi Hamid Mec, Rektor Universitas Widya Mataram (UWM) pada Rapat Senat Terbuka dalam Rangkan Wisuda Sarjana Periode 56 dan 57 pada Senin (12/10/2020) di Pendopo Agung UWM.

Wisuda Sarjana Periode 56 dan 57 yang digelar secara hybrid, luring (luar jaringan) dan daring (dalam jaringan) tersebut diikuti oleh 426 wisudawan-wisudawati, dihadiri Wakil Ketua Umum Yayasan Mataram Yogyakarta. Wisuda digelar selama tiga hari dengan total delapan sesi sepenuhnya menerapkan protokol kesehatan.

“Kedepan, di era Revolusi Industri 4.0 dan seterusnya tantangan jaman semakin kompleks dengan tingkat persaingan yang semakin ketat disemua lini kehidupan, memaksa setiap insan untuk terus belajar membaca keadaan,” ujar Prof Edy Suandi Hamid.

Wisuda saat ini, Rektor UWM mengatakan, berasa sangat istimewa karena dilaksanakan baik secara online maupun offline yang mana dilaksanakan pada saat pandemi Covid-19, meskipun demikian wisuda tetap di lakukan tanpa kehilangan nilai sakral. Dengan adanya pandemi Covid-19 tetap diyakini merupakan sebuah ujian dan ada hikmahnya yang akan kita dapatkan.

“Pandemi Covid-19 memberikan perubahan banyak hal dari kehidupan di Indonesia bahkan di Dunia. Dalam perkuliahanpun dipaksa untuk menerima sebuah kondisi normal ‘baru’ yang belum pernah kita bayangkan sebelumnya. Meskipun pada prosesi wisuda hari ini kita lakukan baik secara luring dan daring, semoga tidak mengurangi niat tulus kita untuk memberikan penghargaan dan ungkapan kegembiraan atas pencapaian keilmuan para wisudawan,” kata Ketua Forum Rektor Indonesia periode 2008-2009 itu.

Paradigma pendidikan tinggi harus disesuaikan dengan perkembangan jaman. Peningkatan kesadaran teknologi digital merupakan suatu keniscayaan dalam menghadapi disruption era. Dan hal terpenting adalah membentuk mahasiswa, generasi milenial yang berkarakter, sehingga mampu memanfaatkan peluang dan mengakses pekerjaan-pekerjaan baru yang tidak dikenal sebelumnya. Ini menjadi tantangan bagi seluruh sivitas akademika UWM.

Anggota Parampara Praja Pemda DIY tersebut menandaskan, dengan bekal pengalaman-keilmuan yang telah diperoleh, para wisudawan tidak boleh ragu menerobos ketatnya kompetisi. Selanjutnya tetap terus melahirkan kreativitas dan inovasi yang berguna bagi masyarakat, negara, dan bangsa. Prestasi dan capaian hingga hari ini pantas dibanggakan. Namun begitu, ini semua bukanlah hasil kerja keras para lulusan saja. Ada sentuhan, bantuan, arahan, pertolongan, dan doa dari banyak orang-orang tercinta, orang tua dan keluarga.

“Jadilah manusia yang berkarakter, inklusif, inovatif, berdaya saing, serta adaptif dengan penguasaan ilmu pengetahuan dan teknologi. Jadilah manusia yang berguna bagi masyarakat, bangsa, dan negara. Jadilah insan yang berguna bagi manusia dan kemanusiaan. Jagalah nama baik almamater Anda,” tutup Ketua Umum Asosiasi Perguruan Tinggi Swasta Indonesia (APTISI) 2011-2015.

Wakil Ketua Umum Yayasan Mataram Yogyakarta Prof. Dr Ir Sunyoto Dipl HE DEA menuturkan, UWM sebagai tempat mengembangkan prestasi dan menyelesaikan studi memiliki kekhasan budaya sebagai modal para lulusan. Menjadi alumni UWM harus mampu mengimplementasikan beberapa ajaran seperti golong gilig, sawiji, greget, sengguh ora mingkuh dalam segala lini kehidupan.

“Tata nilai budaya Yogyakarta juga harus dijadikan landasan para lulusan UWM dalam setiap aktivitas pekerjaan dan dalam kehidupan bermasyarakat,” ucap Prof Sunyoto. Beberapa diantara tata nilai budaya Yogyakarta tersebut antara lain kesucian, keadilan, kemuliaan, kebenaran, keindahan, kepatuhan, kelayakan, dan kebermanfaatan. Tata nilai tersebut linier dengan karakter kampus berbasis budaya dalam mencetak lulusan yang tangguh.

Kepemimpinan dan pemerintahan, Prof Sunyoto menambahkan, juga menjadi bagian dari budaya Yogyakarta. Didalamnya mengatur bagaimana tata hubungan manusia, salah satunya antara pemimpin dan masyarakat yang dipimpin. (Wahyu-HumasWidyaMataram/Antok Wesman-Impessa.id)