Feature

Perupa Kondang Hanafi Pameran Tunggal di MDTL Yogyakarta, 3-17 Oktober 2020

Perupa Kondang Hanafi Pameran Tunggal di MDTL Yogyakarta, 3-17 Oktober 2020

Perupa Kondang Hanafi Pameran Tunggal di MDTL Yogyakarta, 3-17 Oktober 2020

Tata Sebelum Kelola

Impessa.id, Yogyakarta: Pandemi Covid-19 tidak sekedar blackout sesaat dalam peristiwa hidup kita, namun ia mampu berlama-lama melumpuhkan semua sendi-sendi kehidupan: roda kehidupan berjalan lambat, sehari-hari dihabiskan berhadapan dengan peringatan dan aturan-aturan, hidup di bawah protokol kesehatan. Corona virus disease-19 membuat panik, keragaman krisis bermunculan. Krisis ekonomi lebih keras disuarakan ketimbang krisis keadaban. Bagi Antonio Gramsci, krisis terjadi karena yang lama mati dan yang baru belum lahir.

Apakah kita mempercayai pendapat itu sehingga melahirkan wacana new normal? saya tidak paham apa itu new normal? Saya lebih percaya keadaban baru. Sebuah kualitas keadaban harus segera ditemukan dalam tata cara kehidupan bersama yang lebih baik. Bagaimana menemukan tata sebelum cara, menemukan tata dari tertib, menemukan kembali tata dari kelola.

Tata adalah sebuah keadaban yang datang dari dalam tubuh, sedangkan cara adalah semacam konstruksi dari apa-apa yang ada di luar tubuh. Dua kata itu tak terpisahkan dan tak saling menghilangkan. Tak bisa sekedar tata dan tak bisa pula hanya cara-cara. Di dalam tata banyak hal tumbuh sejak kanak-kanak, kelak ia menjadi pengalaman, bersamaan dengan tumbuhnya cara berpikir: tata pikir yang mengantar pada ranah reflektif.

Saya memasuki kondisi tersebut dalam ruang refleksi, antara tata dan cara. Saya melihat tata cara tumbuh bersama gantungan makanan, gerakan “sayang semua” yang menggantung makanan di pagar rumah. Siapapun boleh mengambil dan siapapun boleh menggantung atau menyediakan apa saja selain kebutuhan makanan, kadang pakaian dan seterusnya.

Tata cara yang dilakukan saudara-saudara kita di mana-mana, dari Kalimantan sampai Jawa, yakni memberikan makanan yang digantung di sebuah tempat, tidak memiliki nama dan identitas sosial lainnya selain tata cara mengatakan bela rasa, serta Bumi yang kita tempati sebagai lingkaran persaudaraan semata. Keadaban baru adalah tata cara memberi dan memberi tanpa nama dan alamat.

Dari sisi tata cara di atas, barangkali pandemic Covid-19 bukan sekedar bencana, namun ruang keadaban baru. Pandemi bisa dibaca sebagai gangguan untuk mengembangkan seluruh potensi baik kita, menumbuhkan bela rasa, dan menyertakan tata sebelum kelola.

Perbincangan di atas memenuhi ruang dalam tubuh saya, sebagai tata. Dan luar-ruang menjadikannya karya, sebagai cara yang sedang digelar dalam Pameran Tunggal bertajuk “Kala Rumpang” di MDTL -Museum Dan Tanah Liat, Dusun Kersan RT. 05, Tirtonirmolo, Kasihan, Bantul, Yogyakarta, 3-17 Oktober 2020.

Hari Prajitno MSn selaku Kurator Pameran dalam pengantar kuratorialnya mengatakan, “Baginya keberkaryaan seni adalah cara menampakkan sebagai yang nyata terbaca dari apa yang berada di dalam keruangan diri, berupa dialektika diri dan komunikasi dengan liyan. Diksi yang digunakan adalah Tata Sebelum Kelola yang kali ini dipicu oleh dan berkaitan dengan pandemi Covid-19. Baginya suasana ini adalah dicoba sedang mengkonstruksi kembali, menata apa-apa yang berada di dalam diri yang tertata untuk dikelola sebagai jawabannya pada sesama, tentang persaudaraan sebagai identitas keadaban baru, bukan dalam pengertian new normal, sebagai tata cara memberi tanpa nama dan alamat” ujarnya.

“Atas apa yang telah dipamerkan di MDTL saya namai sebagai Puisi Gambar, sementara Hanafi sendiri memilihkan diksi yang sebanarnya masih di dalam Bahasa Indonesia, walau kadang terasa aneh karena secara umum belum banyak diketahui ataupun digunakan yaitu Kala Rumpang,” imbuh Hari Prajitno.

Sementara bertitik pada hanya tanda-tanda aspek visual yaitu pada objek-objek semacam draft, gambar ataupun sket yang tidak ditil yang tidak seperti pada umumnya kita saksikan bagaimana objek-objek itu kita tangkap sebagai pengalaman biasa, di sana obejek-objek telah direduksi untuk dimampatkan sebagai gumpalan kesan, kesederhanaan, sebagai tanda yang secara esensial menandai adanya objek yang ditampilkan.

Tentang gambar yang ditata tidak menuruti apa yang biasa kita saksikan. Puitisasi objek-objek yang dimampatkan, kiranya hanya yang paling perlu atau esensial saja sebagai perwujudan, di sini disamping objek yang sederhana, dalam latar juga begitu. Bila dalam puisi kita mengenal majas, ini adalah “majas” yang lain, sihirnya bukan terletak pada imaji gambar melainkan tentang kekuatan objek (dan juga pemahaman skript tulis) yang sederhana yang perlu diperhatikan.

Sedangkan perspektif berangkat dari situasi/waktu kini, “kala” yang mungkin baginya adalah “jedah” atau situasi ini sebagai pengingat bahwa “Kala Rumpang”, waktu jedah, waktu dicelah yang dalam diksi populer biasa dikenal sebagai “new normal”, sementara Hanafi tidak menyukai perspektif itu, dia sendiri menyatakan bahwa situasi ini adalah kesempatan bagi diri ataupun mengajak person-person yang lain untuk berdialektik dan berkomunikasi dengan liyan. Menyadari akan kekurangan-kekurangan kemarin (menata kembali) sebelum pandemi sebagai berkesadaran diri menuju keadaban baru.

Berkarya di dalam suasana pandemi dan tentang pandemi itu bagaimana, setidaknya Hanafi mempertanyakan kembali, “Apakah kita mempercayai pendapat yang melahirkan wacana New Normal? Saya tidak paham apa itu new normal?”, lanjutnya. Hanafi menyodorkan sendiri konsep tentang bagaimana selanjutnya yaitu Keadaban Baru. Penjelasan konsep itu, “Sebuah kualitas keadaban harus segera ditemukan dalam tata cara kehidupan bersama yang lebih baik. Bagaimana menemukan tata sebelum cara, menemukan tata dari tertib, menemukan kembali tata dari kelola” sergah Hari Prajitno.

Lebih lanjut Hari Prajitno menjelaskan, “Tata adalah sebuah keadaban yang datang dari dalam tubuh, sedangkan cara adalah semacam konstruksi dari apa-apa yang ada di luar tubuh. Dua kata itu tak terpisahkan dan tak saling menghilangkan. Tak bisa sekedar tata dan tak bisa pula hanya cara-cara. Di dalam tata banyak hal tumbuh sejak kanak-kanak, kelak ia menjadi pengalaman, bersamaan dengan tumbuhnya cara berpikir: tata pikir yang mengantar pada ranah reflektif atau selain tata cara mengatakan bela rasa, serta Bumi yang kita tempati sebagai lingkaran persaudaraan. Keadaban baru adalah tata cara memberi dan memberi tanpa nama dan alamat”.

Tanpa ornamen sekalipun adalah seni, begitulah bahasa rupa cenderung baru untuk membantah dirinya sendiri demi penciptaan. Tidak ada pernak-pernik yang mengisi bidang-bidang kosongnya, mungkin bahkan tekstur nyatapun tidak ditemukan diantara sela-sela antara objek yang satu dengan yang lain, semua dikerjakan untuk mendukung objek yang mana sebagai center of interst tanpa diperantarai oleh aspek visual yang keras kecuali stroke semu.

Pada warna berkisar abu-abu, samar, santun, bukan tentang bahasa konflik rupa melainkan tentang kesamaran kritis, bukan ini atau itu melainkan diantaranya yang memungkinkan penawaran bisa ke situ ataupun ke sini. Ini adalah pengalaman yang mengingatkan pada warna-warna mahal di gedung-gedung, ruang-ruang yang mana sering didatangi para “the have”, seperti juga warna-warni pada pakaian dan jinjingan yang mereka genggam. Tidak ada gejolak atau perlunya diperhatikan sebagai kemencolokan, cenderung smooth, dan kalem. Hal ini juga berlaku di antara cluster-clustur rumah mungil yang chick minimalis.

Objek-objek masih dalam kategori konvensi-romantikis yaitu masih menyatakan bagaimana perasaan manusia yang tersalurkan masih “musti” menggunakan ketrampilan tangan seorang manusia (seniman) yang tentu berakar dari pengalaman di dalam hidupnya bahwa “keindahan” seni masih terletak pada ketrampilan manusia penciptanya sendiri bukan berasal dari hal di luar dirinya katakan saja bahwa sebenarnya apa yang telah dikonsepkan boleh jadi hanya berupa tempelan foto, potongan-potongan gambar atau benda-benda biasa entah sebagai temuan ataupun yang sudah tersedia yang berada di halaman, di teras, di dalam rumah, atau bahkan di dalam kamar.

Kecanggihan desain, komposisi dengan sedikit objek yang menguasai ruang, sebagai fokus yang perlu diperhatikan. Penuh perhitungan, tidak semena-mena begitu saja muncul, semua terkontrol, keganjilan yang amat terkoding sebagai pantas, konflik yang santun. Keindahan Bahasa rupa yang tidak sembrono, benar-benar canggih. Seakan tidak “bisa” membuat hal yang buruk, dalam arti tertentu menutup kemungkinan bagi imajinasi tentang “kekurangan”.

Kala Rumpang: “Kala dan Kolo jadi manunggal. Keasingan tak terhindarkan, suara-suara dari luar tak terbaca jauh dan rapuh. Sejarah pandemi, perjalanan seseorang, ingatan, dan hal-hal kecil di dalam tetap menyala, atau tepatnya saya nyalakan.

Ada yang rumpang antara langit dan bumi adalah hari ini yang sedang menyembunyikan mukanya. Kehidupan kehilangan panggilan kecilnya. Kala Rumpang adalah kesadaran untuk memulai mengenali semuanya kembali. Kecil, pelan, melulu datang dari dalam, kehangatan dan kesedihan di tempat yang sama, di dalam! Orang menyebutnya jiwa, saya tidak tahu, tapi, saya tahu, ia ada dalam gambaran saya.

“Ketika di luar begitu banyak yang rumpang, saya membawanya ke dalam, saya biarkan ia mengejanya pelan-pelan, kelak ia akan menjadi gambaran, mungkin tak akan pernah lengkap terbaca, satu dua hal tanggal, lepas, mungkin hilang. Kala Rumpang adalah nama untuk memulai,” pungkas Hanafi.

Hari Prajitno MSn selaku Kurator pameran menuturkan, Kala inilah, waktu “jedah” diantara sebelum pandemi dan sesudah pandemi yang entah kapan adalah waktu untuk mengetahui diri kembali, merefleksikan diri bagaiman sebelum kejadian dari apa yang mungkin terlewat belum atau luput dari pandangan pengamatan kita. Sebagian mungkin bahwa adanya ini adalah semakin hilangnya habitat penyakit yang dulu berasal dari belantara ataupun kemunculannya disebabkan oleh pengeboran dan penyedotan bahan dari bawah tanah. Tentang kemungkinan berikutnya adalah bahwa berkurangnya solidaritas antar manusia, yang jauh sebelum ini adalah sifat saling membantu, keidahan saling merasakan antar manusia yang berupa empati sudah semakin menyusut oleh karena sikap dan keinginan eksploitatif alam dan penumpukan modal secara pribadi sebagai kepemilikan properti semakin tajam.

“Maka dari kedua hal inilah konsep Hanafi terbangun justru karena “jedah” inilah untuk mengingatkan kembali tetang bagaimana “tata” itu musti dimengerti, dipahami kembali dengan nalar kekinian untuk “dikelola” yang titik beratnya pada “tata cara memberi tanpa nama dan alamat”, ungkap Hari Prajitno.

Profil Perupa

Hanafi Muhammad, Lahir di Purworejo 5 Juli 1960, menempuh pendidikan di Sekolah Seni Rupa Indonesia (SSRI) tahun 1976-1979. Ia termasuk Top 10 Phillip Morris Award tahun 1997. Sejak 1992, ia telah melakukan pameran tunggal dan bersama lebih dari 100 kali, baik di dalam ataupun di luar negeri. Beberapa pameran bersamanya diselenggarakan dalam perhelatan akbar seperti di Jakarta Biennale, Jogja Biennale, Art Jog, Manifesto, dll.

Beberapa pameran tunggalnya seperti The Maritime Spice Road (Amerika Serikat, 2017), Boundless Voyage (Sin Sin Fine Art Hongkong, 2017), Oksigen Jawa (Galeri Soemardja ITB Bandung, 2015), Saat Usia Lima Puluh (Komaneka Fine Art Gallery, 2010), Darkness (Taksu Singapore and Cream, 2007), Home of Images (Museum de art of Girona Spanyol 2007), Study for Distance (One 2 One Gallery Canada, 2001), Som Ni de Miro (Mares del Sur Barcelona, 1999).