Ekuin-Bisnis

Lanny Amborowati, Disainer Muda Jogja, Tetap Bersemangat Ditengah Pandemi Covid-19

Lanny Amborowati, Disainer Muda Jogja, Tetap Bersemangat Ditengah Pandemi Covid-19

Lanny Amborowati, Disainer Muda Jogja, Tetap Bersemangat Ditengah Pandemi Covid-19

Impessa.id, Yogyakarta: Klamb? Be Happy, judul yang diangkat dalam bincang-bincang online di era New Normal yang digelar Lia Mustafa, disainer senior Jogja yang telah melanglang buana, bekerjasama dengan EFAR, pada Selasa (30/6/2020) pukul 10.00 WIB, menghadirkan disainer muda Jogja, Lanny Amborowati,  diikuti 23 peserta kebanyakan anggota IFC – Indonesian Fashion Chamber, dari berbagai kota diantarnya dari Jakarta, Bogor, Bandung, Semarang, Surabaya dan Yogyakarta sebagai pusat perhelatan.

Lanny Amborowati yang bermukim di kawasan Gedong Kuning – Kotagede, Yogyakarta, pernah menimba ilmu tentang dunia model dan fashion show di Klamb Yogyakarta selama satu tahun dan boleh dikata berhasil setelah dengan penuh percaya diri mengikuti ajang Lomba Disain Busana berkolaborasi dengan disainer Tulin, di Jogja Fashion Week hingga kemudian dirinya bergabung di IFC – Indonesian Fashion Chamber.

“Sebagai perancang baru, banyak ujian muncul dari para senior, ada suara-suara nyinyir yang meremehkan kemampuan diri-ku, bagi-ku itu semua justru menjadi cambuk, memotivasi diri-ku untuk berkarya sebaik mungkin sesuai dengan style yang kuhadirkan, ciri khas kreasi ku sendiri,” tutur Lanny.

Kiprahnya di Korea Selatan pada event “Indonesia Night” Juni 2019, tak sengaja menjadi kado ulang tahun-nya, Lanny memperoleh pengalaman kerja yang luar biasa, betapa tidak, tanpa dibantu asisten dia bekerja sendirian, mulai dari menyeterika semua baju-baju karyanya meski menggunakan seterika uap, menatanya sedemikian rupa agar tetap rapi, mengusung koper besar berisi baju-baju yang akan diperagakan dari hotel menuju tempat berlangsungnya penyelenggaraan, kemudian menjadikan fit saat dikenakan para model jelang memasuki stage, hingga menatanya kembali.

“Yang pernah bikin panik yaitu ketika akan tampil ke kota lain, ada pembatasan barang bawaan di bandara, terpaksa pilih-pilih koleksi yang dibawa, tidak bisa membawa semuanya, berhubung busana kreasi-ku tergolong berat-berat,” aku Lanny. “Untung waktu itu, ada Bunda Lia Mustafa, yang dengan penuh cekatan membantu-ku,” imbuhnya.

Selama masa Stay at Home karena wabah Covid-19, Lanny Amborowati tetap aktif berkarya. memproduksi masker premium dari bahan Batik dan Denim dalam edisi terbatas. Produk masker premium ber-merk Lanny Amborowati, dipajang di Mall dan yang laris disuka yakni masker Denim, semi kulit, seharga 50-ribuan, meski ada juga produk maskernya yang seharga 25-ribuan. “Gerai masker-ku di Mall sesuai protokol Kesehatan, petugasnya aku suplai minuman penguat imun tubuh, sehingga selama jaga gerai tetap fit,” aku Lanny.

Terkait dengan minuman penguat imun tubuh, Lanny Amborowati juga memproduksi minuman air Alkaline ber-PH Tinggi 8,5 sampai 9,5, Anti-Oksidan dan Anti-Mikrocluster, untuk diminum secara bebas, hidup sehat dengan terapi air, ber-label KENZAI Water, diproduksi memakai mesin pemroses air LEVELUX KANGEN WATER (dibaca: Kang Gen yang berarti Back to Origin) dari Jepang.

“Aku sekeluarga meminumnya setiap hari, secara rutin air minuman tersebut aku tes dan hasilnya benar-benar aman, indikator-nya setelah di tetesi larutan tester resmi produksi perusahaan farmasi nasional, warnanya biru, berarti Basa, dimana jasad renik seperti kuman, bakteri dan virus tidak bertahan hidup didalam air dengan Basa tinggi, sehingga aman untuk dikonsumsi,” ungkapnya. Ternyata Lanny pun juga memproduksi Hand-Sanitizer.

Sementara itu, Klamb sebagai Kawah Candradimuka-nya calon perancang busana yang berbasis di Yogyakarta, di tengah gelombang tak menentu ini, justru tampil bergairah, disisi lain terjadi PHK -Pemutusan Hubungan Kerja karyawan, Klamb malah menambah pekerja, hal itu jelas menunjukkan meningkatnya jumlah order-an.

“Selama ini Klamb melakukan pendampingan untuk membuat karya mulai dari membuat sketsa sampai dengan karyanya ter-realisir, sudah tujuh Angkatan, setiap Angkatan terdiri dari 4-7 orang, di setiap Angkatan, kami mempertemukan mereka peserta pendampingan dengan disainer senior selaku mentor, di era New Normal, kami sedang merencanakan format yang tepat dalam pendampingan terhadap calon-calon perancang busana Indonesia,” ujar Lia Mustafa menutup perbincangan. (Antok Wesman-Impessa.id)