Event

Kaidah Menjalankan Ajaran Islam di Era New Normal, Menurut Wakil Dekan III FEBI UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta

Kaidah Menjalankan Ajaran Islam di Era New Normal, Menurut Wakil Dekan III FEBI UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta

Kaidah Menjalankan Ajaran Islam di Era New Normal, Menurut Wakil Dekan III FEBI UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta

Impessa.id, Yogyakarta: Pandemi Covid-19 belum usai, namun untuk keberlangsungan dan kemaslahatan kehidupan, kita dituntut untuk tidak berlama-lama stay at home tanpa batas yang tidak bisa ditentukan. Masyarakat Indonesia harus segera bangkit mengikuti kondisi New Normal. Untuk memahami bagaimana masyarakat Indonesia seharusnya berperilaku di era New Normal, Wakil Dekan III (Bidang Kemahasiswaan dan Kerja-sama), yang juga menjabat sebagai Komisi Hukum dan Fatwa MUI DIY, Dr Shofiyullah Muzammil MAg, memberikan rambu-rambu berdasarkan prinsip-prinsip dasar dalam agama Islam.

Sebagai narasumber Dr Shofiyullah menyampaikan hal tersebut dalam agenda Sambung Silaturahmi bertajuk “Perilaku Baru Dalam Kondisi New Normal Dari Aspek Kesehatan Dan Islam,” melalui Zoom Meeting ditemani dr Raden Budi Santosa SpM MM, yang menyampaikan paparannya tentang prinsip-prinsip perilaku menghadapi era New Normal dari sisi kesehatan. 

Dalam paparan bertajuk “Beribadah Di Era New Normal Menurut Islam” Dr Shofiyullah antara lain menyampaikan, Agama, termasuk juga Islam dapat diibaratkan sebagai Pharmakon, istilah dalam farmasi yang berarti racun atau obat. Bisa menjadi racun dan bisa juga menjadi obat, ditentukan oleh konteks dan intensinya. Bisa menjadi obat bila dosis-nya tepat, dan menjadi racun bila dosis-nya berlebih atau over dosis. Demikian juga dalam beragama, termasuk juga dalam ber-Islam, hendaknya diterapkan secara tepat agar membawa kebahagiaan dunia dan akherat.

Agar dapat berfungsi sebagai obat yang menyejukkan, membahagiakan, dan membawa keselamatan, agama memerankan tiga hal, peran teknis, peran kebijakan dan peran identitas. Peran teknis agama memberikan petunjuk praktis dalam menjalankan ajaran syari’at. Peran kebijakan agama memberikan pedoman dan ketentuan yang harus dijalankan dan dipatuhi. Peran identitas agama memberikan identifikasi dan kualifikasi seseorang dalam menjalankan ajaran. Ketiga peran itu harus dalam takaran dosis yang tepat, sehingga agama bisa berfungsi sebagai obat yang menjanjikan keselamatan dunia dan akherat. Jika berlebihan justru menjadi racun bagi umat.

Menurut pengasuh Pondok Pesatren Mahasiswa As-Shifa Sleman itu, agar masyarakat bisa beragama atau ber-Islam secara tepat, diperlukan penanaman dan doktrin Nilai Tauhid yang benar sebagai pedoman utama dalam beragama. Iman yang benar dapat memberi ketenangan; bahwa hanya Allah yang Wajibul Wujud, hanya Allah sebagai Pemilik (Al-Malik), hanya Allah yang menilai (Al-Hakim), dan hanya Allah yang menghidupkan dan mematikan makhluk. Sementara pedoman kedua dalam beragama adalah ilmu sebagai sunnatullah. Tanpa ilmu umat Islam akan tergilas oleh gelombang sejarah peradaban. Perintah Iqra’ sebagai petunjuk umat Islam untuk terus mencari dan menambah ilmu pengetahuan sepanjang hayat, demikian jelas Dr Shofiyullah.

Rasulullah Muhammad SAW diutus Allah SWT untuk menyempurnakan akhlak sebagai ketentuan hukum Allah dan Sunatullah. Siapapun yang patuh pada ketentuan Sunatullah, apapun agama dan keyakinannya akan memperoleh kebahagiaan dan kesuksesan dunia. Sementara Muslim yang taat menjalankan syari’at, serta mengikuti Sunatullah atau ketentuan hukum Allah akan memperoleh kesuksesan dan kebahagiaan dunia, kebahagiaan akherat juga akan menyertainya.

Dalam menghadapi pandemi Covid-19, bagaimana mengikuti kondisi di era New Normal, Dr Shofiyullah memberikan rambu-rambu berdasarkan apa yang dicontohkan Rasulullah Muhammad SAW.  Diriwayatkan oleh HR. Bukhari, Nasa’i dan Ahmad; Rasulullah menjelaskan ketika Siti Aisyah RA bertanya perihal tha’un. Demikian Rosulullah; dahulu, tha’un adalah azab yang dikirim Allah kepada siapa saja yang Dia kehendaki, tetapi Allah menjadikannya sebagai rahmat bagi orang beriman. Maka tiada seorangpun yang tertimpa tha’un, kemudian ia menahan diri di rumah dengan sabar serta mengharap ridha-Nya, seraya menyadari bahwa tha’un tidak akan menimpanya selain telah menjadi ketentuan Allah untuknya, niscaya ia akan memperoleh ganjaran seperti pahala orang yang mati syahid. Melihat riwayat itu, kata Dr Shofiyullah, adanya wabah Covid-19 sama halnya dengan tha’un yang dijelaskan oleh Rasulullah.

Lalu bagaimana kita menghadapinya, diriwayatkan juga dalam HR. Muslim 4112; wabah itu terkadang datang dan terkadang pergi. Bila terdengar ada wabah di suatu tempat, maka janganlah kalian mendatanginya. Bila terjadi di tempat, sedangkan kita ada di situ, maka janganlah keluar dari tempat itu. Dijelaskan bahwa, tha’un atau wabah itu ibarat api yang berkobar, dan kita adalah bahan bakarnya. Oleh karena itu berpencarlah, pergi secara terpisah, agar api tidak mendapatkan bahan bakar, sehingga api bisa padam sendiri. Apa yang dicontohkan Rasulullah itu dapat diterapkan di era kini dalam menghadapi wabah Covid-19, Jelas Dr Shofiyullah.

Dr Shofiyullah memberikan beberapa kaidah prinsip yang dapat diterapkan di era New Normal, diantaranya; Keselamatan badan dan jiwa lebih diutamakan dibanding menjalankan ajaran agama secara benar namun beresiko pada terancamnya jiwa. Ibadah tidak menyulitkan manusia. Allah tidak menghendaki hamba-Nya tersiksa dalam menjalankan ibadah. Allah menghendaki kenyamanan bagi Hamba-nya dalam menjalankan ibadah, dan tidak benar anggapan bahwa kualitas ibadah berhubungan dengan tingkat kesulitan dan kepayahan dalam melaksanakannya.

Kemaslahatan manusia dan keselamatan jiwa diutamakan dalam menjalankan ibadah kepada Allah SWT. Dalam menghadapi era New Normal, Dosen Usul Fikih UIN Sunan Kalijaga itu berharap, ada kesadaran bagi pemuka agama atau tokoh agama untuk berbagi peran dalam menjalani tata kehidupan di era New Normal. Sains dan medis memberikan peran ternis berdasarkan atas riset ilmiah dalam menentukan protokol kesehatan, agama memegang peranan dalam identitas nilai-nilai ke-Islaman agar umat patuh pada protokol kesehatan yang sudah ditentukan oleh sains dan medis. Agama juga mem-backup pemerintah dalam melakukan peran kebijakan dengan mengedukasi umat atas prinsip beragama yang mengutakan keselamatan jiwa, dan menghindari kesulitan serta kepayahan dalam beribadah, demikian papar Dr Shofiyullah. (Weni/Antok Wesman-Impessa.id)