Event

Poetry Reading From Home Sastra Bulan Purnama Tembi, Yogyakarta, Jumat, 12 Juni 2020, Diisi Pantun Karya Simon Hate

Poetry Reading From Home Sastra Bulan Purnama Tembi, Yogyakarta, Jumat, 12 Juni 2020, Diisi Pantun Karya Simon Hate

Joko Kamto, Eko Winardi, Simon Hate dan KRT Agus Istijantonegoro, Mengisi Poetry Reading From Home, Sastra Bulan Purnama Tembi, Yogyakarta, Jumat, 12 Juni 2020

Impessa.id, Yogyakarta: Sastra Bulan Purnama edisi-105, dalam Poetry Reading from Home seri 3, diisi pembacaan pantun karya Simon Hate berjudul ‘Hamba Tak Layak Menjadi Budak’, dibacakan oleh para aktor teater yang pernah aktif di Teater Dinasti Yogyakarta masing-masing, Joko Kamto, KRT Agus Istijantonegoro, Butet Kartaredjasa, Eko Winardi, yang sekaligus sebagai sutradara dalam pertunjukan serta Isti Nugroho. Sejak tahun 1980-an mereka sudah saling bersahabat sampai sekarang. Dua orang di antaranya tinggal di Jakarta, yang lain menetap di Yogyakarta.

Acara Poetry Reading from Home Seri 3 diselenggarakan secara live via YouTube Sastra Bulan Purnama, Jum’at, 12 Juni 2020, pukul 19.30 WIB Masing-masing membacakan pantun dalam judul yang berbeda karya Simon Hate, penyair yang pernah aktif di Teater Dinasti, dikenal sebagai aktivis LSM hingga kini.

Simon Hate, selaku penulis pantun menyebutkan, “Pantun ini saya tulis sebagai bagian dari gerakan mengembalikan puisi ke dalam kehidupan. Sudah terlalu lama puisi jauh dari kehidupan sehari-hari, kenanya perlu ada karya tulis yang bicara mengenai kehidupan sehari-hari, dan dalam bentuk yang juga dikenal masyarakat secara luas, dalam hal ini pantun. Dengan demikian, puisi bisa akrab kembali dengan masyarakat, dan masyarakat juga berkesempatan untuk merenungkan makna kehidupannya”, tutur Simon

Para pembaca Pantun Jawa, yang berjudul ‘Hamba Tak Layak Menjadi Budak’ adalah orang-orang yang sudah lama bergelut dengan dunia teater dan dikenal sebagai aktor, sampai sekarang mereka masih bergiat teater disamping mempunyai kegiatan sosial lainnya. Joko Kamto misalnya, aktor dari Teater Dinasti, masih aktif di Komunitas Kyai Kanjeng pimpinan Emha Ainun Najib, KRT Agus Istijantonegoro, sekarang menekuni profesi penulis, Eko Winardi, alumni jurusan teater ISI Yogya, aktif di Teater Perdikan pimpinan Cak Nun, juga memiliki kegiatan pengembangan pertanian.

Pembaca yang lain, Isti Nugroho, selain pernah aktif sebagai penyair, sekarang lebih dikenal sebagai aktvitis dan mengelola Rumah Dokumentasi Politik Guntur 49 di Jakarta, sedangkan Butet Kartaredjasa, sekarang aktif menjadi pelukis, satu aktivitas yang pernah dipelajarinya sejak muda, dan lama ditinggalkan.

Berhubung format pertunjukan tidak dipanggung Tembi Rumah Budaya maka Sastra Bulan Purnama di masa pendemi Covid-19, dialihkan via digital. Mereka mengambil gambar di lokasi berbeda, untuk memberi suasana lain pada setiap momentum, Isti Nugroho membaca di Jakarta, dan yang lain di Yogyakarta.

Ons Untoro, koordinator Sastra Bulan Purnama menyampaikan, bahwa pantun karya Simon merupakan puisi yang agak panjang, dan terdiri dari beberapa bab, sehingga masing-masing pembaca memilih judul dari bab yang berbeda, sehingga kisahnya nyambung, bukan terlepas-lepas seperti umumnya puisi. “Jadi, pertunjukan ini seperti kisah drama, hanya ditulis dalam bentuk pantun, tetapi ceritanya runtut”, ujar Ons Untoro.

Eko Winardi, selaku sutradara menyebutkan, bahwa pertunjukan pantun karya Simon bisa dilihat secara enak, dan bukan sekedar membaca puisi sebagaimana laiknya orang membaca puisi. “Kami berusaha memperhitungkan dalam penggarapan, sehingga meski dilihat melalui layar, tetapi terasa nyaman dan tidak menjemukan”, aku Eko Winardi.

Sejak pertemuan dalam bentuk kerumuman tatap muka dihindari, untuk memutus mata rantai Covid 19, Sastra Bulan Purnama, mulai April 2020 dipindahkan secara digital di YouTube dengan tajuk “Poetry Reading from Home”.

Poetry Reading From Home dapat disaksikan dari rumah dari kota mana saja, dan bisa menggunakan handphone maupun laptop. Setiap orang bisa sambil santai, tanpa perlu meninggalkan ruang tempat tinggalnya untuk menikmati acara. Yuladi, pengelola IT Tembi Rumah Budaya, mengerjakan secara teknis pertunjukan tersebut secara live sehingga publik bisa melakukan interekasi melalui chating-an. (Ons/Antok Wesman-Impessa.id)