Event

Pagelaran Musikalisasi Sastra 2019 Di Taman Budaya Yogyakarta, Berlangsung Sukses!

Pagelaran Musikalisasi Sastra 2019 Di Taman Budaya Yogyakarta, Berlangsung Sukses!

Pagelaran Musikalisasi Sastra 2019 Di Taman Budaya Yogyakarta, Berlangsung Sukses!

Impessa.id, Yogyakarta : Pagelaran Musikalisasi Sastra 2019 yang mengangkat tema “Jantera” sukses digelar pada Jumat malam, 20 September 2019 di Gedung Concert Hall Taman Budaya Yogyakarta -TBY. Musikalisasi Sastra yang telah diselenggarakan sejak tahun 2013, dapat dikatakan sebagai bentuk tafsir musikal yang bersumber dari karya sastra. Menilik kesuksesan Pergelaran tahun 2018 maka acara itu pun kembali digelar pada tahun 2019.

Studio Pertunjukan Sastra -SPS Yogyakarta, berkolaborasi dengan kegiatan Ruang Temu Pentas Sastra Lintas Komunitas, Festival Sastra Yogyakarta -Joglitfest 2019, menggelar Bincang-bincang Sastra edisi ke-168 bertajuk “Mbara, Perjalanan Setelah Kata”, pada Sabtu malam (21/09/2019) di Ruang Seminar TBY.

Latief S. Nugraha selaku Carik SPS Yogyakarta mengatakan, “Perjalanan setelah kata, merupakan satu kesadaran dari ungkapan puisi Sapardi Djoko Damono berjudul Dalam Bis, yakni, Sebermula adalah kata… yang pas rasa-rasanya untuk merangkum peristiwa pascasastra yang hadir selama ini”.

“Menuju pementasan yang tersaji dalam Pergelaran Musikalisasi Sastra 2019, tentu ada proses kreatif yang dilalui. Jalan panjang menuju panggung yang gemilang cahaya, itulah yang dibabar dalam acara Bincang Bincang Sastra edisi 168. Satu proses alih wahana dari teks yang tersusun di atas kertas menuju satu perunjukan agung di atas pentas justru menjadi penting untuk diperbincangkan,” ungkap Latief SN.

Pada malam pagelaran, setelah disuguhi sajian dari Api Kata Bukit Menoreh yang menafsir puisi-puisi karya Abdul hadi W.M., Ragil Suwarna Pragolapati, Darmanto Jatman, Endang Susanti Rustamaji, Subagio Sastrowardoyo, dan M. Thahar, dalam karya seni lukis atau sastra rupa, penonton kemudian menyaksikan penampilan memukau dan jenaka dari The Wayang Bocor yang digagas Eko Nugroho. The Wayang Bocor di bawah sutradara Gunawan Maryanto, mempertunjukkan wayang kontemporer bertajuk “Permata di Ujung Tanduk” yang diangkat dari puisi-puisi perihal Sakuntala karya Sang Sutradara.

Gunawan mengungkapkan, “Apa yang kami tampilkan dalam Pagelaran Musikalisasi Sastra 2019 semalam, memang berangkat dari puisi saya dalam buku kumpulan Sakuntala yang diterbitkan oleh Gramedia tahun 2018. Puisi karya orang lain saya tidak tega menggarapnya, karena karya, termasuk puisi, itu kan ‘anak’ kita. Mereka itu suci!” imbuhnya dibumbui dengan candaan.

“Penekanan kami memang pada aspek visual wayangnya, yang bercerita tentang tokoh-tokohnya sebagai satu pencarian utama dari penampilan tersebut. Berkaitan dengan apa yang ditampilkan, kami memang telah melalui proses persiapan dengan rangkaian-rangkaian latihan. Kami secara rileks ‘bermain-main’, sekaligus menguji seberapa leluasa kami dapat bermain dengan puisi-puisinya,” lanjut pria yang juga telah malang melintang dalam dunia keaktoran tersebut.

Selain Api Kata Bukit Menoreh dan The Wayang Bocor, Pagelaran Musikalisasi Sastra 2019 juga dimeriahkan oleh PSM Swara Wadhana UNY dan Kelompok Kampungan. Sedikitnya 800 kursi penonton di Gedung Concert Hall TBY dipenuhi para penonton yang sebagaian besar anak muda.

BBS edisi ke-168 juga menghadirkan sosok-sosok yang terlibat menyukseskan pagelaran, baik sebagai penampil maupun pengonsep, seperti, Lukas Gunawan Arga rakasiwi (pelatih Paduan Suara Mahasiswa Swara Wadhana UNY), L. Surajiya (pelukis, Api Kata Bukit Menoreh), Sukandar (pegiat Studio Pertunjukan Sastra). (Pramesthi/Antok Wesman)